Matahari sore itu menyusup malu-malu di sela gorden ruang tamu, menyentuh bingkai foto besar yang terpajang di dinding utama. Sri menarik napas panjang, aroma teh melati yang baru diseduhnya menguap pelan, menenangkan kegaduhan kecil di hatinya. Di foto itu, lima orang perempuan tersenyum lebar. Tiga di antaranya mengenakan kebaya pengantin di waktu yang berbeda-beda, namun disatukan dalam satu kolase kebahagiaan. Sri selalu tersenyum setiap kali menatap foto itu. Baginya, itu bukan sekadar gambar, melainkan sebuah prasasti kemenangan atas ego, air mata, dan prasangka dunia.
Dua puluh lima tahun yang lalu, ketika Sri memutuskan untuk menerima pinangan Mas Gunawan, dunia seolah berhenti sejenak untuk berbisik di belakang punggungnya. Mas Gunawan adalah seorang duda dengan dua anak yang masih sangat kecil. Bayu baru menginjak usia dua tahun, masih sering tantrum mencari sosok ibu yang telah tiada, dan si bungsu, Ranti, baru berusia delapan bulan—sosok bayi mungil yang bahkan belum sempat merekam wajah ibu kandungnya dalam ingatan. Teman-teman Sri berujar, "Kamu masih muda, Sri. Kenapa harus mau jadi ibu tiri? Bebannya berat, nanti kalau kamu punya anak sendiri, kasih sayangmu pasti terbelah."
Namun, saat pertama kali Sri menggendong Ranti yang bau minyak telon dan menatap mata Bayu yang bulat penuh rasa ingin tahu, ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Itu bukan rasa kasihan, melainkan sebuah janji yang terucap tanpa suara. Sri melihat mereka bukan sebagai "anak orang lain", melainkan sebagai amanah yang dikirim Tuhan untuk melengkapi jiwanya. Sejak hari pernikahan itu, Sri menghapus kata "tiri" dari kamusnya. Baginya, kata itu mengandung racun yang hanya akan membangun tembok di antara mereka.
Tahun-tahun pertama adalah perjuangan yang sunyi. Mengurus anak usia dua tahun dan delapan bulan bukanlah perkara mudah bagi perempuan yang belum pernah melahirkan. Sri belajar mengganti popok dengan tangan gemetar, begadang saat gigi Ranti mulai tumbuh, dan dengan sabar menghadapi Bayu yang terkadang berteriak memanggil "Mama" sambil menunjuk ke arah langit. Sri tidak pernah mencoba menggantikan posisi ibu kandung mereka. Ia hanya berusaha menjadi pelabuhan yang hangat. Ia selalu bercerita kepada Bayu tentang almarhumah ibunya dengan nada penuh hormat, seolah-olah mereka adalah tim yang bekerja sama menjaga anak-anak itu dari dua dunia yang berbeda.
Tiga tahun kemudian, Sri melahirkan putri pertamanya, Anisa, dan dua tahun setelahnya lahirlah si bungsu, Putri. Di sinilah ujian yang sebenarnya bagi banyak orang: apakah kasih sayang itu akan terbagi? Tetangga mulai iseng bertanya pada Bayu, "Sekarang Ibu sudah punya dedek bayi sendiri, Bayu masih disayang nggak?"
Mendengar itu, Sri segera merangkul Bayu di depan orang tersebut. Ia menatap mata anak laki-lakinya itu dengan dalam dan berkata, "Bayu adalah abang tertua. Tanpa Bayu dan Ranti, Ibu tidak akan pernah belajar caranya jadi Ibu. Kalian berempat adalah satu napas." Sri memastikan tidak ada perbedaan sekecil apa pun. Jika Anisa mendapat baju baru, Ranti juga mendapatkannya. Jika Putri dipeluk saat menangis, Bayu pun mendapat usapan di kepalanya saat ia merasa gagal dalam ujian sekolah.
Anak-anak perempuan Sri tumbuh dalam atmosfer yang cair. Tidak ada batasan darah di antara mereka. Ranti dan Anisa sering berbagi rahasia tentang cinta monyet di sekolah, sementara Putri selalu mengekor di belakang Ranti, menganggap kakak perempuannya itu adalah standar kecantikan dan kecerdasan. Mas Gunawan sering tertegun di ambang pintu, melihat keempat anaknya bergulat di depan televisi atau berebut potongan terakhir martabak tanpa ada rasa cemburu atau pengelompokan berdasarkan "anak siapa".
"Sri, terima kasih," bisik Mas Gunawan suatu malam saat anak-anak sudah terlelap. "Aku tidak pernah menyangka rumah ini akan sehangat ini."
Sri hanya tersenyum tipis sambil melipat pakaian anak-anak. "Mereka bukan anakmu atau anakku, Mas. Mereka adalah anak-anak kita. Darah memang penting, tapi cinta yang membesarkan mereka adalah yang akan membuat mereka tetap berdiri tegak."
Waktu berlalu secepat kedipan mata. Bayu, si sulung yang dulu sering menangis, tumbuh menjadi pria yang bertanggung jawab dan menjadi orang pertama yang menikah. Saat prosesi sungkeman, Bayu bersimpuh di kaki Sri. Air matanya jatuh membasahi punggung tangan Sri. "Ibu," bisiknya dengan suara serak, "terima kasih karena tidak pernah membiarkan aku merasa menjadi orang asing di rumah ini. Terima kasih karena telah memilihku menjadi anakmu." Sri terisak, ia memeluk kepala Bayu erat-erat. Di saat itulah ia tahu, perjuangannya menghapus kata "tiri" telah berhasil sepenuhnya.
Tak lama setelah Bayu, giliran Ranti yang dipinang. Ranti, yang sejak usia delapan bulan berada dalam dekapan Sri, meminta Sri sendiri yang memasangkan melati di rambutnya. "Ibu adalah cerminku," kata Ranti sambil menatap pantulan mereka di cermin rias. "Aku ingin menjadi ibu sehebat Ibu nanti." Sri merasakan dadanya sesak oleh kebahagiaan yang meluap. Ia telah menyusui Ranti dengan cinta, meski bukan dengan air susu badannya, dan kini bayi mungil itu telah menjadi wanita cantik yang siap menempuh hidup baru.
Anisa pun menyusul setahun kemudian. Ketiganya kini telah membangun rumah tangga masing-masing. Tinggal si bungsu, Putri, yang masih sering pulang ke rumah untuk sekadar bermanja-manja. Kehidupan Sri kini dipenuhi dengan kunjungan-kunjungan akhir pekan yang riuh. Saat mereka semua berkumpul, ruang tamu penuh dengan tawa dan cerita. Menantu-menantu Sri pun tidak pernah tahu mana yang anak kandung dan mana yang bukan, karena cara Sri memperlakukan mereka semua sama persis. Tidak ada pembicaraan tentang silsilah yang membedakan posisi di dalam keluarga.
Suatu sore, saat acara arisan keluarga besar, seorang kerabat jauh bertanya dengan nada heran, "Sri, hebat ya kamu. Anak-anakmu akur sekali. Padahal kan yang dua itu bukan dari rahimmu. Apa rahasianya supaya mereka tidak merasa dibedakan?"
Sri tersenyum tenang, menyesap tehnya sedikit sebelum menjawab. "Rahasianya sederhana. Jangan pernah menggunakan kata 'tiri' di dalam rumah, bahkan di dalam pikiran sekalipun. Kalau kita menganggap mereka anak sendiri dengan sepenuh hati, maka alam semesta dan hati anak-anak itu akan merespons hal yang sama. Anak-anak itu suci, mereka hanya butuh cinta yang tulus, bukan label legalitas darah."
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Sri duduk di teras bersama Mas Gunawan. Di dalam rumah, Putri sedang menelepon kakak-kakaknya, merencanakan liburan bersama akhir tahun nanti. Suara tawa Putri yang renyah terdengar hingga ke luar. Sri menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang kini sudah mulai beruban.
"Kita berhasil ya, Mas," gumam Sri pelan.
"Kamu yang berhasil, Sri," balas Mas Gunawan sambil menggenggam tangan istrinya. "Kamu yang menjahit serpihan keluarga ini menjadi satu kain yang utuh tanpa celah."
Sri menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia merasa sangat kaya, bukan karena harta, melainkan karena ia memiliki empat orang anak yang saling menyayangi tanpa syarat. Ia merasa bahagia karena di rumah ini, kata "tiri" telah lama mati dan dikubur dalam-dalam, digantikan oleh satu kata yang jauh lebih bermakna: Keluarga. Tidak ada lagi sekat, tidak ada lagi kecanggungan. Yang ada hanyalah rasa syukur yang mengalir tenang seperti sungai, menghidupi setiap sudut hati mereka yang kini telah dewasa dan mandiri, namun tetap berpijak pada akar kasih sayang yang sama yang ditanam Sri dua puluh lima tahun yang lalu.