Aku menatap lamat-lamat sebilah golok bergagang hitam yang selalu Abah larang untuk kusentuh.
“Kamu ingin golok ini? Sayangnya golok yang satu ini hanya aku yang boleh menggunakannya.” Perhatianku teralihkan ke Kang Asruri—kakak laki-laki yang selalu kubanggakan.
“Kenapa?” tanyaku keheranan.
“Karena… aku keren!” seru Kakang sembari berkacak pinggang.
Aku mengangguk. Ya ya ya, ia memang keren.
“Kalau sudah saatnya nanti kamu juga boleh sekeren Kakang, Oji. Sekarang usiamu baru 8 tahun, kan?” Ia tersenyum jahil sembari mengacak-acak rambutku.
Kakang merangkul bahuku, kami memunggungi golok yang sebelumnya menjadi pusat perhatian, keluar meninggalkan kamarnya yang tidak disinari cukup cahaya. Perhatianku baru teralihkan sepenuhnya saat aku berani bersumpah, bola mataku menangkap cahaya merah menguar dari sisi golok. Pandanganku berpindah cepat ke mata Kakang yang ternyata tetap memandang lurus ke depan, tidak menyadari kejanggalan yang baru saja terjadi.
Aku berjingkrak kegirangan saat tahu Kakang akan melakukan pementasan hari ini. Kombinasi antara alat musik yang ditabuh dan ditiup mewarnai lantunan bacaan yang tidak kupahami maknanya. Kata Kakang, itu adalah lantunan bacaan selawat kepada Nabi Muhammad dan zikir kepada Allah, tujuannya agar diberikan keselamatan selama pementasan. Tidak banyak yang kupahami sebagai anak kecil, setidaknya itu yang masih kuingat.
Kendang dan rebana masih ditabuh, tarompet masih ditiup. Kakang memulai pementasan dengan beradu kekuatan bersama pemain lainnya, baik pukulan maupun tubuh mereka, terpasang sangat kokoh. Aku juga sedang mempelajarinya, seni bela diri kebanggaan kampung, Pencak Silat. Kembali ke pementasan, salah satu dari pemain mengangkat properti, terdiri dari besi Panjang berujung runcing dengan pangkalnya yang terdiri dari dudukan berbahan kayu. Ikon sekaligus asal muasal nama pementasan ini, Debus.
Bersama Debus, Kakang arahkan bagian runcing ke perutnya, rekannya memukul bagian dudukan seakan sedang memalu paku ke dinding, menguji seberapa kebal Kakang. Aku bertepuk tangan tidak kalah riuh dengan ratusan penonton lain, membayangkan mungkin ketika aku melakukan pementasan, penontonnya juga akan seriuh ini.
Dari balik pakaian hitamnya, ia keluarkan sebilah golok bergagang hitam—khusus miliknya. Penonton semakin riuh ketika Kakang menusuk pahanya dengan golok tanpa ragu. Namun, entah yang terjadi, Kakang mundur, merapat ke Abah yang seorang guru besar Padepokan Pencak Silat dan Debus. Aku menghampiri keduanya, raut wajah yang membuatku turut merasa was-was. Abah sibuk merapal doa dengan cepat, meniupkannya ke air dan membasuh luka Kakang.
Aku terduduk, menatap penuh pilu Kakang yang tergeletak lemas. Lukanya berangsur memburuk meski ia telah menerima air doa dari Abah.
“Jangan khawatir, Tong¹. Kakangmu akan baik-baik saja.” Abah menepuk bahuku. Aku mempercayai air mukanya yang tenang.
“Sudahi dulu sedihnya, Oji. Aku punya banyak kelereng, ayo kita bermain.” Seorang teman menarik lenganku, menjauhi Kakang yang semakin pucat.
Aku si bocah ingusan, mudah sedih dan terhibur, segenggam kelereng membuatku lupa akan pucatnya Kakang. Setidaknya sampai aku menyadari langit yang berangsur memerah. Aku berlari ketakutan menuju rumah, mendapati para tetangga yang tengah duduk melingkar dengan takzim, Kakang terbaring di pusatnya, dibalut kain mori.
“Tek… tek… tek…” Satu persatu kelerengku jatuh dari genggaman. Aku menangis cukup keras, hanya suara tangisku yang kudengar. Kupeluk tubuh kaku Kakang yang tidak akan kutemui sepulangku dari bermain. Aku masih ingin berlatih Silat dengannya, aku ingin ia melihat pementasan pertamaku, dan meskipun tidak, seharusnya aku sempat memberi salam perpisahan sebelum ia pergi.
“Oji, jangan lari! Mau pergi ke mana kamu?” Langit masih memerah ketika Abah meneriakiku yang lari memburu, hampir meraih kerah belakangku.
“Abah tidak perlu mengejarku! Jangan mencari keberadaanku!” sahutku sembari terus berlarian.
Pipiku masih basah ketika aku kabur dari rumah, mendatangi Stasiun Tonjong dan menjadi penumpang gelap di kereta yang tidak kuketahui tujuannya. Kematian Kakang memantik rasa takut untuk menghadapi masa depan yang digadang-gadangnya keren, membawaku ke kota asing dan bekerja serabutan sampai sedekade setelahnya.
Hari ini—sedekade setelah kematian Kakang. Setiap malam, Kakang yang berdarah-darah dan langit yang berangsur memerah menghantui tidurku. Kakang yang berbisik, “Kalau sudah saatnya nanti kamu juga boleh sekeren Kakang, Oji.” Lantas menggema, terus berulang selama sebulan. Aku tidak bisa kabur lagi, semuanya terasa terlalu nyata dan menyiksa hanya untuk sekadar mimpi. Mau tidak mau, aku menaiki kereta menuju kampung halaman, menempuh waktu 2 jam sudah termasuk perjalanan dengan ojek dari stasiun sampai rumah.
Aku menghela napas cukup kuat, tanganku terlalu dingin hanya untuk sekadar mengetuk pintu. Abah membuka pintu, kuperhatikan kerutan pada wajahnya yang semakin jelas dibanding sedekade yang lalu.
“Abah..." Aku bergumam. Perasaan canggung, malu, dan haru menyatu ketika bola mata kami bertemu.
“Kakang ayun ngilani sinten²?”
“Ni-niki kule, Bah! Madroji, pecil Abah³!” Lidahku kelu.“Madroji? Oji? Pecil Abah!” Abah memelukku erat penuh haru, bahkan aku dapat merasakan air mata yang jatuh membasahi bahuku. Rasanya aneh sekali menerima pelukan hangat sedangkan dulu aku kabur.
Abah melepaskanku dari pelukan eratnya. “Jadi apa yang membawamu kembali, Tong?” tanya Abah sembari mempersilakanku duduk di ruang tamu.
“Aku…” Aku diam sejenak, merangkai kata penuh ragu. “Aku ingin tahu alasan kematian Kang Asruri hari itu, sedangkan… kita semua tahu ia sangat lihai dalam Debus.” Pandanganku jatuh di ujung Sepatu, dan tanpa sadar jempol tanganku sudah berdarah akibat kukelupasi.
“Kamu akan mengerti kalau mempelajari Silat lagi dan mencoba mempelajari Debus juga, Tong.”
Aku mengangkat kepala. “Tidak ada cara lain, Bah?” tanyaku penuh harap.
Abah menggeleng, lantas tersenyum. “Percaya saja pada Abahmu ini.”
Satu setel pakaian hitam membalutku dengan halus. Tidak kusangka, kukenakan ukuran yang sama seperti milik Kakang dulu.
Aku menghujam golok ke arah bawah, lantas mundur, diikuti lutut kananku yang menyentuh tanah dan golok yang berbalik arah ke atas, di depan wajahku. Aku berguling ke depan dan meletakkan golok ke tanah. Diam-diam tubuhku masih mengingat gerakan-gerakan yang kupikir tidak mungkin kulakukan lagi.
Satu sesi latihan berakhir. Aku duduk sembari meneguk segelas air. Abah menghampiri dan duduk di sebelahku, kualihkan pandangan ke sekitar meski telingaku fokus mendengarkan.
“Pernah dengar tidak? Dahulu Debus dijadikan sebagai media dakwah saat Islam baru sampai di Banten. Caranya mungkin tidak biasa, tapi dari situlah Islam bisa sebesar hari ini di Banten.” Antusiasme terpancar dari nada bicaranya.
“Debus bukan sekadar kebal, Tong. Ketakwaan tetap menjadi aspek nomor satu dalam mempraktikkannya,” lanjutnya. Aku meletakkan gelas, mulai tertarik pada topik.
“Jadi?” tanyaku yang menunggu-nunggu maksud pembicaraannya.
“Seorang pemain Debus dilarang bermaksiat atau pementasan tidak akan berjalan lancar.”
Aku mengangguk. Sungguh, masih banyak yang belum kuketahui tentang Debus. Pelajaran baru hari ini.
Satu tahun berlalu semenjak aku melihat wajah Abah untuk pertama kalinya sebagai Oji berusia 18 tahun. Pandanganku penuh binar menatap sebilah golok bergagang cokelat yang baru saja Abah berikan. Kata Abah, aku sudah bisa mulai mempelajari Debus. Oji sedekade yang lalu seakan merasukiku, memberikan nyawa yang akhirnya kembali ke tempat asalnya. Akhirnya aku merasakan debaran lagi, debaran yang mungkin dulu pernah menggugah semangat Kakang. Aku menatap lamat-lamat golok yang kugenggam, mengingatkanku pada golok milik Kakang yang selalu Abah larang untuk kusentuh.
Aku mendorong pintu kamar Kakang, golok incaranku terbaring rapi, persis seperti sedekade yang lalu. Aku mencuri-curi pandang ke sekitar, aman, kini golok Kakang berpindah ke dalam pakaianku. Mataku perlahan buram membendung air, Kakang akan selalu berada di sisiku.
Kakang yang berdarah-darah dan langit yang berangsur memerah kembali menghantui tidurku. Aku terbangun di gelapnya malam seakan tengah dikejutkan, langit-langit kamar turut memerah, memaksaku untuk terus bermimpi. Aku terdiam mematung, bukan karena langit-langit kamar yang memerah. Lebih buruk dari itu, golok milik Kakang yang seharusnya diam di bawah bantal kini berterbangan kesana kemari.
“Bukan ini yang saya maksud. Jika hal yang tidak ada dibenakmu terjadi di kemudian hari, jangan salahkan saya,” celoteh golok dengan ketus. Aku masih mematung mencoba memahami maksudnya.
Matahari sudah tinggi, aku tidak sadar telah tertidur kembali.
Abah pernah bilang, sebulan lagi aku bisa memulai pementasan pertamaku, dan inilah hari itu. Suasana serta riuh rendahnya membawaku ke siang sedekade yang lalu, pementasan Kakang sekaligus pementasan terakhir yang kulihat sebagai Oji kecil. Tidak kutemukan wajah Kakang di antara ratusan penonton, namun ia ada di golok bergagang hitam yang kusembunyikan di balik pakaian.
Aku memulai pementasan dengan rangkaian acara dan gerakan yang sama persis dengan pementasan Kakang dulu. Hingga tiba saatnya aku bermain-main dengan golok. Tidak, aku tidak akan menggunakan golok bergagang cokelat seperti saat latihan, aku mengeluarkan golok bergagang hitam milik Kakang. Kuangkat ujung pakaianku dengan gigi hingga perutku terlihat, kugores-goreskan perut tanpa ragu, tidak ada yang perlu kukhawatirkan, ada Kakang di sisiku. Penonton bertepuk sangat riuh, aku menjadi pusat perhatian.
Tidak kusadari hal yang terjadi, aku merasakan sakit yang sangat dahsyat seakan ulu hatiku tengah ditinju. Aku menunduk, darah mengalir dari sela-sela antara kulit dan golok yang masih kugenggam. Aku mundur, mendekati Abah, ia mencabut golok yang tertancap di ulu hati, dadaku berdebar semakin kencang. Kesadaranku menurun, samar-samar aku melihat Abah yang sibuk komat-kamit merapal doa, meniupkannya ke air, dan menyiramkannya ke lukaku.
Aku terbangun di atas ranjang rumah sakit saat menyadari area ulu hatiku telah diperban. Abah terduduk, menatapku dengan iba sembari menggenggam tanganku.
“Tong…”
Aku terdiam.
“Kedahe Abah boten ngelosaken nyolong golok derebe Asruri, kelipun Abah tembekan sadar⁴?” Abah terisak.
“Dengan golok itu aku merasa hidup kembali, Bah.”
“Tapi kamu punya golok khusus milikmu sendiri, Tong. Bahkan jika Kakangmu masih ada, ia tidak akan menyentuhnya.” Abah masih terisak.
“Khusus?” Aku bingung.
Abah mengusap air matanya, mencoba serius. “Abah membawa golokmu. Lihatlah,cahayanya menguar sangat kuat. Artinya… pemilik golok ini telah melakukan kesalahan.”
Aku menatap lamat-lamat golok yang telah berpindah kepangkuanku. Cahaya merah yang membutakan menguar dari sisinya, mengingatkanku pada golok Kakang sedekade lalu dan langit merah yang sering kali menghantui.
“Dulu golok milik Kakangmu juga juga seperti ini, Tong. Karena… ia mencuri uang Abah untuk berjudi,” lanjut Abah.
Kepalaku tidak memiliki cukup kuasa untuk memperhatikan golok di pangkuanku yang perlahan menghilang seakan abu yang ditiup angin.
“Tong… lamun semisale setong ayun linggar, linggar saos⁵. Abah tidak akan membiarkan hal serupa terjadi pada siapapun.” Abah menggenggam tanganku lebih erat.
Detik itu kepalaku terasa jauh lebih sakit, tidak ada anggota tubuh yang dapat kugerakkan. Tarikan napas yang seharusnya melegakan menjadi siksaan yang semakin lama semakin berat. Samar-samar, aku melihat Abah berlarian, mungkin sedang mencari dokter. Aku menarik napas terberat yang pernah kutarik selama 19 tahun hidupku.
¹Panggilan untuk anak laki-laki atau laki-laki yang lebih muda.
²Kakang ingin mencari siapa.
³I-ini aku, Bah. Madroji anak Abah.
⁴Seharusnya Abah tidak membiarkanmu mencuri golok milik Asruri, mengapa Abah baru menyadarinya.
⁵Nak, tetapi jika kamu ingin pergi, pergilah.