Aku kira semua ini cuma rasa kagum biasa.
Cuma salting sebentar waktu mama mulai bercanda soal perjodohan itu. Cuma senyum-senyum sendiri waktu namanya disebut. Cuma perasaan kecil yang nanti juga hilang sendiri.
Tapi ternyata tidak.
Perasaan itu tumbuh diam-diam tanpa aku sadari.
Awalnya biasa saja. Aku bahkan dulu tidak terlalu memperhatikannya. Dia cuma laki-laki yang kadang lewat di depan rumah, kadang muncul saat ada kegiatan dilingkungan rumah, kadang menatap sekilas lalu pergi lagi seperti tidak ada apa-apa.
Tapi manusia memang aneh ya.
Kadang justru jatuh hati bukan karena dimiliki, tapi karena dibiasakan berharap.
Dan aku… terlalu lama hidup di dalam harapan itu.
Aku hafal suara motornya.
Aku hafal jam pulangnya kerja.
Aku hafal ciri-ciri nya walaupun hanya menatap punggung nya tanpa ia benar-benar menoleh ke arah rumah ku.
Hal-hal kecil yang mungkin tidak berarti apa-apa baginya, justru jadi kebahagiaan kecil untukku.
Sampai akhirnya tanpa sadar aku mulai menunggu.
Menunggu dia lewat.
Menunggu kemungkinan.
Menunggu kabar yang tidak pernah benar-benar datang.
Kadang aku berpikir mungkin dia juga punya rasa yang sama. Apalagi waktu mama pernah bilang ingin menjodohkan aku dengannya. Sejak saat itu isi kepalaku mulai kemana-mana.
Aku yang awalnya biasa saja malah jadi sering memikirkannya.
Bodohnya, aku memendam semuanya sendirian.
Tidak pernah bilang.
Tidak pernah menunjukkan.
Cuma diam sambil berharap.
Dan harapan adalah hal paling kejam kalau tumbuh terlalu besar.
Hari itu aku masih ingat jelas.
Pagi-pagi nenek datang membawa cerita. Awalnya aku tidak terlalu peduli karena mereka bicara pakai bahasa daerah yang tidak semuanya kupahami. Tapi makin lama aku mulai menangkap arah pembicaraannya.
Tentang dia.
Tentang seorang perempuan.
Tentang mereka yang katanya dekat.
Aku langsung diam.
Rasanya seperti ada sesuatu yang jatuh di dalam dada. Panas. Sesak. Aku pura-pura ke kamar mandi buat cuci muka, padahal di sana aku nangis sampai mata merah.
Aku bahkan tidak tahu kenapa sesakit itu.
Padahal dia bukan pacarku.
Bukan siapa-siapa aku juga.
Tapi hati tidak peduli soal status.
Yang hati tahu cuma: aku sudah terlalu dalam menyimpan rasa.
Dan senja itu jadi senja paling menyakitkan yang pernah kulihat.
Aku sengaja menunggu di dekat pintu rumah. Duduk diam dari sore, berharap berita itu cuma salah paham.
Lalu dia lewat.
Boncengan dengan perempuan itu.
Baju mereka sama-sama hitam. Dia terlihat bahagia sekali. Senyum yang biasanya cuma kulihat sekilas sekarang diberikan penuh untuk orang lain.
Perempuan itu duduk di belakangnya dengan tenang.
Dan aku di rumah cuma bisa melihat mereka lewat sambil merasa seperti ditinggalkan sesuatu yang bahkan belum sempat kumiliki.
Lucunya, setelah itu hidup tetap berjalan seperti biasa.
Orang-orang tetap makan.
Tetap ngobrol.
Tetap ketawa.
Sedangkan aku rasanya hancur diam-diam.
Malamnya aku nangis lagi.
Besoknya juga masih nangis.
Aku mencoba terlihat biasa saja di depan mama, padahal isi kepala ribut terus. Bahkan waktu melakukan kesibukan agar tidak mengingat dia lagi, tapi kenyataan nya hati masih sibuk mengingat dia.
Tentang suara motornya.
Tentang kebiasaan menunggunya lewat.
Tentang harapan-harapan kecil yang sekarang terasa memalukan.
Mama bilang aku harus melupakan.
Seolah semuanya gampang.
Padahal yang sakit bukan cuma karena dia sudah punya orang lain.
Tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang membuat hidupku terasa berwarna lagi.
Aku jadi semangat.
Jadi punya harapan.
Punya butterfly era yang bahkan tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Dan ternyata semua itu cuma sebentar.
Kadang aku masih bertanya-tanya sendiri.
Kalau memang akhirnya bukan aku, kenapa harus dibuat berharap selama ini?
Kenapa harus ada tatapan-tatapan itu?
Kenapa harus ada kemungkinan yang tumbuh di kepalaku?
Tapi mungkin memang bukan dia yang memberi harapan.
Mungkin aku sendiri yang terlalu lama hidup di dalam angan-angan.
Sekarang aku sedang belajar menerima.
Walaupun sampai hari ini masih sakit.
Masih sesak kalau ingat dia lewat boncengan sama perempuan itu.
Masih panas kalau membayangkan mereka tertawa bersama.
Masih nyesek kalau sadar ternyata selama ini cuma aku mencintai sendirian.
Tapi aku mulai mengerti satu hal.
Kadang dalam hidup, ada orang yang datang bukan untuk dimiliki.
Cuma untuk mengajarkan bahwa hati bisa mencintai sedalam itu… lalu patah sedalam itu juga.