Langit di atas Semarang sedang tidak bersahabat, mendung menggantung rendah seolah ingin menyentuh atap seng rumah kontrakan sempit yang dihuni keluarga Kania. Di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu, bau apek dari dinding yang lembap bercampur dengan aroma minyak kayu putih. Kania, yang saat itu baru duduk di kelas lima SD, sedang meringkuk di sudut ruangan, berusaha membaca buku IPA pinjaman perpustakaan di bawah temaram lampu lima watt.
"Kania, kemasi bajumu ke dalam kardus, Nak," suara lembut namun bergetar itu datang dari ibunya.
Kania menoleh. Ia melihat ibunya sedang melipat kain batik kusam dengan tangan yang gemetar. Di sudut lain, ayahnya, Pak Baskoro, sedang termenung menatap lantai semen yang retak. Di depan pintu, seorang pria gempal berdiri berkacak pinggang, memegang kunci gembok besar. Mereka diusir lagi. Ini adalah kali ketiga dalam dua tahun terakhir mereka harus berpindah karena tunggakan kontrakan yang tak mampu terbayar. Pak Baskoro adalah seorang makelar serabutan—hari ini menawarkan tanah orang, besok mencoba menjualkan sepeda bekas—tapi rezeki seringkali seperti bayangan, tampak ada namun tak bisa digenggam.
"Kita pindah ke mana, Bu?" tanya Kania lirih.
Ibunya menghampiri, mengusap kepala Kania dengan kasih sayang yang meluap. "Ke tempat yang lebih baik. Tapi ingat pesan Ibu, Kania. Ayah dan Ibu mungkin tidak bisa memberimu warisan tanah atau emas. Kita tidak punya harta. Maka dari itu, kamu harus punya kemauan. Kamu harus pintar. Di dunia ini, orang miskin yang tidak pintar akan terus diinjak. Kalau kamu tidak bisa masuk sekolah negeri yang gratis, lebih baik tidak usah sekolah sekalian karena kita tidak punya uang. Kamu paham?"
Kania mengangguk mantap. Kata-kata itu terpatri di dalam sanubarinya, lebih dalam dari rasa lapar yang sering menyiksanya di malam hari. Sejak hari itu, Kania berubah menjadi petarung. Ia tidak pernah mengeluh saat harus berjalan kaki tiga kilometer ke sekolah demi menghemat uang saku. Ia tidak merasa malu saat teman-temannya memamerkan mainan baru, sementara ia hanya memegang buku perpustakaan yang sampulnya sudah mulai terlepas.
Memasuki masa SMA, beban hidup terasa semakin berat. Ayahnya semakin jarang mendapatkan komisi, dan ibunya mulai sering sakit-sakitan. Namun, Kania tetaplah Kania. Ia menjadi penghuni tetap perpustakaan sekolah. Baginya, setiap deretan angka dalam pelajaran akuntansi adalah teka-teki yang harus dipecahkan untuk mengubah nasib. Suatu sore, gurunya, Pak Setiawan, memanggilnya ke ruang guru.
"Kania, ada olimpiade akuntansi tingkat provinsi. Bapak ingin kamu mewakili sekolah kita," ujar Pak Setiawan.
Kania terdiam. "Tapi Pak, saya tidak punya uang untuk ikut bimbingan atau membeli buku latihan tambahan."
Pak Setiawan tersenyum tipis. "Buku di perpustakaan sudah kamu lahap semua, Kania. Kemauanmu itu lebih mahal dari biaya bimbingan manapun. Sekolah yang akan menanggung transportasimu."
Kania belajar seperti orang kesurupan. Di bawah lampu minyak saat listrik kontrakannya diputus, ia mencoret-coret kertas bekas bungkus gorengan untuk menghitung neraca dan laporan laba rugi. Hasilnya? Kania menyabet juara pertama se-Provinsi Jawa Tengah. Kemenangan itu bukan sekadar piala, tapi pembebasan biaya SPP hingga ia lulus SMA. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kania melihat ibunya menangis bahagia sambil memeluk piala plastik berlapis cat emas yang mulai mengelupas itu.
Perjuangan berlanjut ke bangku kuliah. Kania diterima di universitas negeri ternama melalui jalur prestasi. Ia mendapatkan golongan UKT paling rendah. Untuk menutupi biaya hidup, sejak semester satu Kania sudah mulai mengajar bahasa Inggris secara privat dari rumah ke rumah. Ia tak punya waktu untuk nongkrong di kafe atau berburu diskon baju. Waktunya habis di antara ruang kuliah, tempat les, dan perpustakaan.
"Kania, kau tidak lelah?" tanya Sari, teman kuliahnya, suatu sore. "Kau selalu bekerja, selalu belajar. Kapan kau bersenang-senang?"
Kania tersenyum, menyeka keringat di dahinya. "Sari, kesenanganku adalah melihat ibuku tidak lagi diusir dari kontrakan. Itu lebih dari cukup."
Pada semester tiga, Kania berhasil mendapatkan beasiswa prestasi penuh yang menanggung seluruh biaya kuliahnya hingga lulus. Ia membuktikan janjinya pada sang ibu. Dalam waktu 3 tahun 8 bulan, Kania berdiri di atas podium wisuda dengan predikat Summa Cum Laude. Tak ada jeda bagi Kania untuk menganggur. Berbekal kemampuan akuntansinya yang tajam, ia langsung diterima sebagai auditor di sebuah dealer mobil besar di Semarang.
Namun, ambisinya tidak berhenti di situ. Kania ingin memberikan keamanan finansial yang mutlak bagi orang tuanya. Oktober 2018, pembukaan seleksi CPNS diumumkan. Kania membidik posisi di sebuah instansi penegak hukum pusat di Jakarta. Ia tahu persaingannya sangat gila, ribuan orang memperebutkan satu kursi.
Tanpa uang untuk ikut bimbel yang harganya jutaan rupiah, Kania membeli 13 buku latihan soal bekas dan meminjam sisanya. Selama tiga bulan, ia hanya tidur empat jam sehari. Siang bekerja sebagai auditor, malam berkutat dengan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) dan Tes Inteligensia Umum (TIU). Tubuhnya sempat tumbang, ia didiagnosis gejala tipes karena kelelahan yang luar biasa. Namun, di saat suhu tubuhnya tinggi, ia tetap menggenggam buku latihan soal.
"Sudah, Kania. Jangan dipaksakan," tangis ibunya saat melihat Kania tetap belajar dengan kompres di dahi.
"Bu, selangkah lagi. Hanya satu langkah lagi," bisik Kania parau.
Hari pengumuman tiba. Dengan tangan gemetar, Kania membuka situs resmi instansi tersebut. Namanya berada di urutan teratas. Ia lolos one shoot. Tanpa koneksi, tanpa uang pelicin, hanya bermodalkan otak dan doa ibunya yang tak putus-putus. Kania sujud syukur di atas lantai rumah mereka—kali ini rumah itu sudah bukan lagi rumah kontrakan yang rawan pengusiran, melainkan rumah sederhana yang ia cicil dari gajinya sebagai auditor.
Kehidupan Kania berputar 180 derajat. Ia pindah ke Jakarta, menduduki jabatan struktural yang terpandang. Hal pertama yang ia lakukan dengan tabungannya adalah membawa ibunya berangkat umrah. Di depan Ka’bah, Kania memeluk ibunya erat.
"Bu, lihat. Kemauan itu sudah membawa kita ke sini," bisik Kania di sela isak tangisnya.
Tak lama setelah kembali dari tanah suci, Kania membelikan sebuah mobil untuk memudahkan orang tuanya bepergian, agar ayahnya tak perlu lagi kepanasan saat mencari nafkah. Namun, takdir berkata lain. Beberapa bulan kemudian, ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia dengan tenang. Meski hancur, Kania memiliki satu penghiburan: ia telah memuliakan ibunya di masa-masa terakhirnya. Ibunya pergi dengan senyum, melihat putrinya sudah sukses, memiliki rumah sendiri, mobil sendiri, dan keluarga kecil yang bahagia.
Kini, setiap kali Kania duduk di kantornya yang nyaman di pusat Jakarta, ia selalu teringat pada gadis kecil yang dulu meringkuk di sudut kontrakan lembap. Ia mengelus meja kerjanya yang mengkilap, teringat pada 13 buku yang hampir membuatnya tipes, dan pada pesan ibunya tentang kemauan. Harta bisa habis, rumah bisa berpindah, tapi kecerdasan dan kemauan adalah mahkota yang tak akan pernah bisa dicuri oleh siapapun. Kania bukan lagi anak makelar yang terusir; ia adalah bukti hidup bahwa garis kemiskinan bisa diputus oleh mereka yang berani belajar lebih keras dari siapapun.