Lembaran kertas di atas meja sedikit bergoyang karena hembusan angin dari jendela yang terbuka. Dika menatapnya, tangan yang sedang memegang pena kadang-kadang berhenti sejenak. Sudah tiga kali dia mulai menulis, tapi selalu dibuang karna merasa kata-katanya tidak cukup tepat.
"Kamu masih berusaha menulisnya?" tanya Maya dari belakang. Dia berdiri di dekat pintu kamar, tangannya menekuk di depan dadanya.
Dika menoleh perlahan. Wajah Maya tetap tenang, tapi matanya yang biasanya cerah kini tampak lelah. "Aku hanya ingin kamu tahu betapa aku mencintaimu," jawabnya pelan.
Mereka sudah bersama tiga tahun. Dari saat kuliah hingga mulai bekerja, mereka selalu saling mendukung. Dika ingat betul bagaimana Maya selalu menemani dia belajar hingga larut malam, membawa makanan kesukaannya saat dia sakit, dan selalu tersenyum meskipun harus menunggu dia dari pekerjaan yang padat.
Namun hidup tidak selalu seperti yang diharapkan. Maya harus pergi ke luar negeri untuk kuliah pascasarjana—beasiswa impian yang hanya datang sekali seumur hidup. Sedangkan Dika memiliki tanggung jawab besar di perusahaan tempat dia bekerja, bahkan harus mengurus bisnis keluarga yang baru saja mulai berjalan.
"Maukah kamu menungguku?" tanya Maya waktu itu, tangis sudah hampir membanjiri matanya.
Dika diam sejenak. Dia tahu kalau bilang "ya", Maya akan merasa bersalah setiap hari. Dia juga tahu kalau dia datang bersama, mereka tidak akan mampu menjalani kehidupan dengan nyaman di sana. Ada harapan besar dari keluarga mereka masing-masing, ada impian yang sudah mereka bangun dari dulu.
"Tidak usah aku tunggu," jawab Dika akhirnya, menyambar pelukan Maya yang mulai menangis. "Kamu harus mengejar impianmu, Maya. Cinta kita bukan tentang menyandera satu sama lain. Cinta kita tentang melihat orang yang kita cintai bahagia, walau harus dari jauh."
Kini, malam sebelum Maya berangkat, Dika akhirnya selesai menulis surat itu. Di dalamnya dia menuliskan semua kenangan indah yang mereka lalui, bagaimana dia akan selalu mendoakannya, dan bahwa cinta mereka tidak akan hilang hanya karena jarak dan waktu.
"Sampai jumpa, Maya," ujar Dika saat menyerahkan surat itu. Mereka saling memeluk dengan erat, menangis tapi juga tersenyum. Karena mereka tahu, perpisahan ini bukan akhir dari segalanya—hanya bab baru yang harus mereka jalani masing-masing, dengan cinta yang selalu ada di hati.
Maya masuk ke dalam pesawat dengan surat itu di dalam tasnya. Saat pesawat lepas landas, dia membukanya dan membaca kalimat terakhir di sana:
"Cinta kita seperti angin—tidak bisa kita tahan, tapi selalu ada di sekitar kita."
Kadang-kadang cinta memang membutuhkan kita untuk membuat pilihan yang sulit, bukan karena cinta itu hilang, tapi karena kita mencintai orang itu dengan tulus dan ingin yang terbaik untuk mereka.