Sejak pindah ke kos baru, Chloe selalu merasa ada yang aneh dengan lantai dua. Hanya ada satu kamar di sana—terletak di ujung lorong sempit—dan anehnya, kamar itu selalu kosong. Tidak pernah ada penghuni, seolah-olah semua orang sengaja menghindarinya.
Suatu sore menjelang magrib, Chloe naik ke lantai dua untuk menjemur pakaian. Langit mulai redup, dan angin bertiup pelan membawa hawa yang terasa berbeda—lebih dingin dari biasanya.
Awalnya Chloe tidak terlalu memikirkan hal itu. Ia mulai menggantung satu per satu pakaiannya. Namun, semakin lama, perasaan tidak nyaman itu semakin kuat. Bulu kuduknya meremang.
Tanpa sadar, ia menoleh ke arah penampungan air di samping kamar kosong itu.
Di sana… berdiri sesosok perempuan.
Rambutnya panjang, menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya diam tak bergerak.
Chloe tertegun.
“Ah… mungkin cuma halusinasi,” gumamnya dalam hati, mencoba menenangkan diri.
Ia memalingkan wajah dan kembali menjemur pakaannya, meski jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Setelah selesai, Chloe menarik napas panjang dan perlahan menoleh lagi.
Dan saat itulah—
Sosok itu kini berdiri tepat di depannya.
Wajahnya terlihat jelas.
Pipinya hancur, dipenuhi belatung yang bergerak pelan. Darah menetes dari luka-luka yang menganga. Bau amis seolah memenuhi udara di sekitar Chloe.
Chloe membeku.
Tubuhnya tak bisa bergerak, suaranya tercekat di tenggorokan. Antara kaget dan takut bercampur menjadi satu.
Beberapa detik yang terasa seperti selamanya berlalu.
Dengan sisa tenaga yang ada, Chloe akhirnya berbalik dan berlari menuruni tangga. Kakinya gemetar, hampir tersandung di setiap langkah. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu dengan tangan bergetar, lalu terduduk di lantai.
Tangisnya pecah.
Malam itu, Chloe tidak bisa tidur.
Keesokan harinya, dengan wajah pucat, ia memberanikan diri bertanya kepada ibu kos tentang kamar di lantai dua.
Wajah ibu kos langsung berubah.
“Dulu… pernah ada yang tinggal di sana,” katanya pelan. “Seorang perempuan.”
Chloe menelan ludah.
“Dia meninggal… jatuh dari tangga. Wajahnya… hancur karena membentur anak tangga.”
Chloe terdiam. Pikirannya langsung kembali pada sosok yang ia lihat semalam.
Sejak hari itu, Chloe tidak pernah lagi berani naik ke lantai dua.
Namun, terkadang saat malam sunyi…
Ia masih mendengar suara langkah kaki dari atas.
Perlahan… menyeret… mendekati tangga.
Seolah sesuatu di sana…
masih menunggunya.