Entah kenapa setiap kali Aku melihat wajahnya, rasanya Aku ingin memilikinya. Rasa ini begitu menggebu-gebu di dalam hati ku, wajah pria yang sangat ku inginkan itu terus terbayang di benak ku. Dia bernama Luca dan kami teman satu kantor, Aku suka memperhatikannya dari jauh. Kadang kami saling sapa hanya untuk menayangkan perkejaan dan itu membuat ku sangat senang.
Aku sangat ingin memilikinya, entah kapan tangan yang sering ku tatap itu bisa menggenggam erat tangan ku. Aku ingin dia hanya menatap ku tanpa melihat ke arah lain, akan ku hempas semua wanita yang ingin mendekatinya. Aku terus menunggu dan berdoa agar dia cepat putus dengan kekasihnya, fikir ku sambil memperhatikan Luca yang sedang makan siang.
hingga hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Saat itu semua orang berkumpul menyaksikan pertengkaran mereka, ada pula yang berusaha melerai. Luca Yang Mengetahui kekasihnya yang sedang berselingkuh dengan pria lain di kantin kantor langsung melayangkan tinjunya di wajah selingkuhan ceweknya itu.
" Luca Hentikan! Teriak gadis itu" Luca hanya terdiam melihat orang yang di cintainya membela pria lain, matanya berkaca-kaca sambil menatap dalam mata wanita itu.
" Apa kurangnya aku?" Tanya Luca pada mantan kekasihnya dengan suara sedikit gemetar, Air mata jatuh membasahi pipinya.
Aku yang melihat kejadian itu ikut merasa kesal dan sedih, ku kepalkan tangan ku dengan kuat karena wanita itu sudah membuat Luca bersedih dan menitihkan air matanya yang berharga itu.
"Akan ku buat kau menerima akibatnya" ucapku pelan.
Akan tetapi ada rasa bahagia yang tidak bisa aku uraikan, Aku sakit melihatnya menangisi wanita lain tapi satu sisi aku bahagia karena aku punya kesempatan untuk bisa dekat dengannya.
Ingin rasanya aku mengusap air matanya dengan tangan ku sendiri, Aku melihatnya pergi meninggalkan mantan kekasihnya itu di ikutin semua orang yang mulai bubar setelah menyaksikan perselingkuhan itu.
Aku mengikutinya dari belakang hingga dia masuk kedalam mobilnya dan pergi, karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini aku mulai bergerak mencari informasi tentang Luca, Namun ada seseorang yang memberi tahu Luca tentang apa yang ku lakukan belakang ini.
Keesokan paginya aku bertanya pada teman-temannya tentang kejadian di kantin kemarin;
" Kemarin ada kejadian apa? Aku lihat semuanya pada sibuk membicarakan Luca" tanya ku pura-pura tidak tahu.
" Kemarin Luca mendapati kekasihnya selingkuh dengan pria lain, dan yang lebih hebohnya lagi" dia mulai terdiam sejenak yang membuat aku semakin penasaran.
" Ada apa? Kenapa Kamu tiba-tiba terdiam seperti itu" ucap ku sedikit keras.
"Sssttttt! Jangan keras-keras" dia reflek menutup mulut ku dengan satu tangannya. Matanya terbuka lebar sambil menatap ke arah belakang ku, karena penasaran akupun melihat ke arah pandangnya.
Aku melihat sesosok pria dengan tinggi badan 180 dengan badan yang sedikit berotot dengan bahunya yang lebar dengan dadanya yang bidang, model rambut two block membuatnya terlihat seperti oppa Korea. Aku dan beberapa cewek-cewek terus memandanginya hingga dia memecahkan keheningan;
" Bisa kita berbicara sebentar?" Katanya sambil melihat ku.
" Aku?" Jawab ku singkat.
" Iya" jawabnya.
" Ada perlu apa?" Tanyaku.
" Bisakah kita berbicara di tempat lain saja? Sepertinya banyak orang yang memperhatikan" ucapannya.
" Baiklah" ucap ku.
Aku mengikuti Luca dari belakang sambil terus memperhatikan punggungnya, hingga kami memasuki satu ruangan dan dia mulai menutup pintunya. Dia perlahan berjalan dan mendekati ku, Aku terus perlahan mundur sampai belakang ku menabrak dinding. Kini Luca sudah berada tepat di hadapanku, dia menyandarkan satu tangannya pada dinding di belakang ku dan tangan satunya memegang wajah ku:
" Apa yang ingin kamu bicarakan? Tanyaku.
" Justru aku yang ingin bertanya padamu, kenapa kamu mencari tau tentang ku" jawabnya.
" Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan" jawabku sambil menghindari tatapan matanya.
" Aku tau kamu kemarin melihat kejadian itu, aku juga tau kamu mengikuti ku dari belakang sampai ke parkiran. Tapi kenapa kamu pagi ini bersikap seperti tidak tahu apa-apa dan bertanya pada semua orang tentang ku, jujur Kamu terlihat sangat aneh dan menjijikan. Ucapannya.
Tanpa sadar aku menampar pipinya, dia yang menyadari itu mulai memegang wajahnya sambil menatap ke arahku. Aku menatapnya dengan penuh kebencian dan mulai pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan apapun.
Bukannya merasa kesal aku malah menyesali perbuatan ku karena sudah menampar Luca, Padahal saat itu aku sudah melakukan hal yang benar tapi tetap saja aku merasa kesal karena telah menamparnya " itu akan membuat ku semakin sulit untuk mendekatinya" Ucapku kesal.
" Padahal tinggal sedikit lagi, kami sudah sedekat itu kamarin" aku terus membayangkan kejadian kemarin sambil teriak kegirangan. Mungkin aku sudah gila, jelas-jelas dia menghina ku tapi aku malah merasa senang dan kegirangan seperti ini.
Keesokan harinya kami bertemu kembali di kantin kantor, mata kami saling bertemu namun dengan cepat aku mengalihkan pandanganku. Ada rasa menyesal karena aku tidak menatap matanya begitu lama, Aku duduk bersama teman-teman ku sedangkan dia hanya duduk seorang diri, sesekali ku alihkan pandangan mata ku padanya namun ternyata dia juga melihat ku terus menerus.
Setelah selesai makan, aku menyuruh teman-teman ku untuk kembali lebih dulu ke kantor sementara aku ingin ke toilet. Saat keluar dari dalam toilet aku melihat seseorang sudah menunggu ku di depan pintu, dia terus menatap ke arahku tanpa berkedip.
Aku berjalan dan melewatinya begitu saja sambil mencoba mengabaikannya, akan tetapi dia memegang tangan ku dengan lembut kali ini tanpa menarik ku.
" Aku minta maaf karena perkataan ku kemarin, aku tau aku salah" ucap Luca.
Aku hanya terdiam tidak percaya dengan apa yang ku dengar, wajah ku mulai memerah dan jantung ku berdetak kencang.
" Aku juga minta maaf karena sudah menamparmu kemarin" Ucapku, tangan ku bergerak dengan sendirinya menyentuh pipi pria di hadapan ku dengan lembut.
"Aku tau aku sudah gila, tapi aku ingin sekali melakukan ini" aku masih terus memegangi pipinya sampai dia mengambil tangan ku dari wajahnya dan melepaskan tanganku.
" Aaa.. maaf, aku tidak bermaksud" ucapku gelagapan. Aku melihat rasa tidak nyaman pada raut wajahnya, sebelum sempat menjelaskannya dia sudah pergi meninggalkanku.
" Sial... Kenapa susah sekali mendapatkan hati dan perhatiannya, semua ini karena wanita sialan itu. Selagi dia masih ada Luca akan susah membuka hatinya untuk ku, padahal aku sudah memberikan perhatian lebih padanya tapi kenapa dia tidak merasakan perasaan tulus ku padanya"
Aku menatap diri di depan cermin " padahal aku tidak kalah cantik dengan wanita itu, mungkin aku harus lebih bersabar sedikit " aku mulai memasang senyum semanis mungkin dan berjalan keluar dari toilet sambil memastikan tidak ada siapapun di dalam.
Aku terus memasang senyum manis pada siapapun yang melihat dan mengapa ku, bahkan ada beberapa yang diam-diam mengajakku berkencan.
" Aku ingin mengajakmu ke cafe yang sedang viral itu, lokasinya sangat dekat dengan kantor kita " ajak seorang lelaki muda, dia terlalu tampan namun bagiku dia masih seperti anak-anak.
" Aku minta maaf, tapi hari ini aku agak lelah Dan ingin langsung pulang kerumah saja. Mungkin lain waktu kita bisa pergi bersama " jawabku sambil tersenyum manis.
Pemuda yang berada di hadapan ku hanya terdiam dengan wajah yang memerah.
" Apa kamu sakit?" Aku memegang dahinya dengan tangan ku, membuat wajahnya semakin memerah.
" A-aku ti-tidak apa-apa, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan ku" ucapannya.
" Kalau begitu aku kembali ke mejaku dulu, jam makan siang sudah hampir habis" ucap ku manis.
" Ayo jalan bersama" ajaknya malu-malu.
" Ayo..." Aku menggenggam tangannya dan di tengah perjalanan aku melepaskan genggamannya. ( Aku sangat muak meladeni anak kecil ini, dia saja bisa baper seperti itu padaku tapi kenapa Luca sangat berbeda. Tapi itu yang membuatku semakin ingin memilikinya) Gumam ku dalam hati, sesekali aku menatap sinis pada cowok bodoh di belakang ku.
Saat jam pulang kerja, beberapa pria menawarkan diri untuk mengantarkan ku pulang. Namun aku membuat alasan yang masuk akal agar bisa menolak ajakannya.
" Karin, mau pulang bersama?" Ajak pak Edwin, Jabatannya di kantor hampir sama dengan Luca.
" Saya takut merepotkan bapak, lagi pula saya bisa pulang naik bus" jawabku.
" Jangan panggil bapak, panggil Edwin saja lagi pula umur kita tidak jauh" jawabnya.
( Tidak jauh apanya, aku masih dua puluh lima tahun sedangkan kamu sudah empat puluh tahun) Gumam ku kesal dalam hati.
" Terima kasih sudah mau menyempatkan waktunya untuk mengantar ku pulang tapi untuk sekarang tidak dulu" tolak ku dengan sopan.
" Tapi kenapa? Tanya pak Edwin.
" Maaf pak saya harus pergi sekarang, kalau tidak saya akan ketinggalan bus terkahir" ucapku.
Aku pergi meninggalkan pak Edwin dengan terburu-buru agar tetap waktu, sesampainya di tempat tujuan aku berpura-pura berjalan kaki sambil memperhatikan jalan dan menunggu seseorang melewati jalan itu. Dan benar saja mobil yang aku tunggu-tunggu akhirnya melewati jalan itu, semua sesuai rencana ku.
Luca yang melihat ku berjalan kaki mulai menepikan mobilnya dan menyapa ku, aku melihat seseorang di dalam mobil sambil tersenyum manis.
" Kenapa Kamu berjalan kaki di jalan sunyi seperti ini?" Tanya Luca.
" Aku ketinggalan bus terkahir" jawabku.
" Bukannya kamu tadi pulang lebih awal? Tadi aku liat ada yang menawarkan tumpangan padamu" ucapannya.
" Cerita panjang" jawabku.
" Mau ikut pulang bersama ku? Tawarnya.
" Apa tidak apa-apa aku ikut dengan mu? Aku takut merepotkan mu" jawab ku.
" Tidak apa-apa, akan lebih merepotkan kalau kamu berjalan sendirian di jalan sunyi seperti ini" ucapannya.
Aku masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sampingnya, sesekali aku merapikan pakaian ku di hadapannya.
" Terima kasih karena sudah memberi tumpangan Luca" ucapku sambil tersenyum manis.
Dia hanya tersenyum dan tetap fokus pada jalan di hadapannya.
( Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menarik perhatiannya? Dia begitu fokus pada jalan di hadapannya) Gumam ku dalam hati.
Aku menatap jalan dari luar jendela sambil berfikir keras, Luca sesekali melihat ku yang sedang melamun sambil menatap ke arah luar jendela. Karena merasa hening Luca memulai percakapan;
" Kenapa Kamu tidak menerima tawaran pak Edwin yang ingin mengajak mu pulang?" Tanyanya.
Aku langsung melihat arahnya dengan cepat;
" Apa kamu tidak tahu kalau pak Edwin sudah punya anak dan istri" jawab ku.
" Dia sudah punya anak dan istri?" Ucapannya pura-pura tidak tahu.
" Yang benar saja, Kamu bahkan tidak mengetahuinya padahal dia berada di sebelah meja kerjamu" ucapku.
" Aku tidak terlalu tertarik dengan kehidupan pribadi seseorang" balasnya, Aku hanya diam tanpa mengatakan apapun lagi.
Sesampainya di depan rumah, aku turun dan melihatnya dari luar jendela mobilnya.
" Terima kasih sudah mengantarkan ku pulang" ucapku.
" Sama-sama, Kalau begitu aku pulang dulu" jawabnya.
Aku melihat mobil Luca pergi dan hilang di perempatan, Aku berjalan masuk kedalam rumah dengan perasaan bahagianya.
" Rencana ku berhasil" ucapku senang kegirangan, Aku memeluk bantal guling ku sambil membayangkan dirinya berada di samping ku dan mulai terlelap.
Keesokan harinya di tempat kerja aku menyapa semua orang sambil tersenyum manis " kamu terlihat bahagia hari ini" kata seseorang di belakang ku. Aku melihat siti tepat di belakang ku, mendengar suaranya saja sudah membuat ku muak dan Dia adalah mantan kekasih Luca.
" Apakah sangat terlihat?" Ucap ku sambil tersenyum lebar padanya, Dia yang melihat ku mulai menatap sinis.
(Sepertinya dia sudah mengetahui bahwa semalam Luca mengantar ku pulang, tapi bukan kah itu bagus, dengan begitu rencana ku selanjutnya akan berjalan lancar) Gumam ku dalam hati.
Seperti biasa aku berkumpul dengan teman-teman di satu meja dan makan bersama, aku biasa mengetahui Siti melihat ke arahku terus dengan tatapan tidak senang. Teman-teman ku yang mengetahui itu mulai menatap tidak senang pada Siti, Siti yang menyadari itu langsung mengubah arah pandangnya;
" Apa lu lihat-lihat!" Ucap teman ku ketus pada Siti.
" Jangan seperti itu" ucap ku lembut sambil menepuk pundaknya.
" Kami terlalu baik, padahal dia terus menatap sinis padamu. kamu terlalu baik bagaikan malaikat Karin" jawab seseorang dan di benarkan oleh semuanya.
Orang-orang di sekitar melihat ke arah Siti termasuk Luca yang ada di sana, aku membuat Expresi sedih dan takut saat melihat siti. Orang-orang sekitar yang melihat ku mulai membalas Siti dengan tatapan tidak suka dan merendahkan, Siti yang menyadari itu langsung menghentakan kursinya dan pergi saat itu juga.
Siti sering membully beberapa karyawan baru termasuk aku dulu, Siti cukup punya power di kantor ini karena dia anak pak Edwin. Hanya beberapa orang yang mengetahui bahwa siti adalah anak pak Edwin dan Luca adalah salah satunya, saat di mobil Luca pura-pura tidak tahu bahwa siti anak pak Edwin seperti ada yang sedang dia sembunyikan.
Saat siti berhasil berpacaran dengan Luca perlakuan nya pada kami semakin semenah-menah pada yang lainnya. Tapi tak lama sejak itu anak bos besar bekerja bersama kami dan Siti mulai menjaga sikapnya, mungkin karena di suruh oleh ayahnya.
Anak bos besar itu sekarang menjadi sahabat kami, dan dialah yang menatap tajam pada siti saat tau siti menatap sinis padaku.
" Kami merasa aman karena ada kamu di sini" ucapku sambil tersenyum.
" Kalau aku malaikat, berarti kamu seorang pahlawan. Sejak ada kamu siti sudah tidak pernah berlaku kasar lagi, kamu seperti seorang pahlawan yang melindungi kami di sini" ucap ku sambil menggenggam tangannya.
" Aaa... Kamu membuat ku malu" ucapannya padaku.
Aku hanya tertawa manis melihatnya malu-malu seperti itu, tanpa sadar aku sampai lupa pada Luca. Dan benar saja Luca sudah menghilang dari meja makannya ( padahal aku ingin menatapnya begitu lama) gumam ku dalam hati.
Siti berjalan menuju ruang kerja ayahnya dengan wajah cemberutnya;
" Semuanya sudah mulai berani melawan ku" ucap Siti sambil duduk di sofa.
" Ada apa? Kenapa Kamu begitu berisik saat masuk kedalam ruangan ku" ucap pak Edwin.
" Semua orang mulai mengejek dan menatap rendah padaku, semua ini gara-gara orang itu. Hanya karena dia anak bos besar dia bisa seenaknya membuat ku jadi bahan ejekan semua orang di kantor ini" ucap Siti kesal.
" Ini semua salah mu, andai kamu tidak berselingkuh dengan lelaki tidak berguna itu Luca pasti masih berada di pihak kita" ucap pak Edwin.
" Bisa tidak ayah sehari saja tidak membahas soal itu" ucap Siti kesal.
" Itu karena kebodohan mu, Kamu hanya melihat wajah tampannya saja tanpa melihat kualitasnya. Padahal Luca juga sangat tampan, populer dan kaya, tapi kamu malah menghancurkan masa depan mu sendiri dengan berselingkuh" ucap pak Edwin panjang lebar.
" Aku juga menyesal karena melepaskan Luca, tapi sekarang aku harus bagaimana. Luca bahkan sekarang lebih memperhatikan Karin di bandingkan aku" ucap Siti depresi.
" Karin yah?" Ucap pak Edwin dengan nada kesal.
Siti yang bingung melihat ayahnya begitu kesal saat dia menyebutkan nama Karin ( kenapa ayah begitu marah saat aku bilang Luca mengantar Karin pulang, fikir Siti) karena merasa lelah Siti mulai mengabaikannya dan berjalan meninggalkan ruang kerja ayahnya.
Jam menunjukkan pukul delapan malam, semuanya bersiap-siap untuk pulang kerja. Aku dengan terburu-buru berpamitan pada teman-teman dan berlari pulang lebih dulu, Luca yang melihat tingkah aneh Ku mulai mengambil tasnya dan berjalan menuju mobilnya.
Sepanjang jalan Luca mengikuti ku dari belakang, aku yang berhasil menarik perhatian Luca tetap berjalan santai seolah-olah tidak mengetahui apapun.
"Kali ini aku lagi-lagi ketinggalan bus terakhir" Luca yang melihat itu mulai mengerti mengapa aku selalu terburu-buru untuk pulang. Sepanjang jalan aku terus bersenandung untuk menghibur diriku yang bosan ( ayolah ajak aku pulang bersama) Gumam Ku kesal setengah mati.
Tanpa sadar ada perampok yang menghadang jalan ku, dia menyodorkan pisaunya tetap di hadapan ku sambil menyuruh ku untuk memberikan semua barang-barang yang ada di dalam tas.
" Serahkan semua barang berharga mu, cepat" teriak perampok itu.
" Tidak mau, semua barang-barang ini sangat penting bagi ku" Ucapku.
" Apa kamu tidak takut padaku, aku akan melukaimu jika kamu melawan" ancamnya.
Dari kejauhan Luca yang melihat Karin di hadang perampok mulai menepikan mobilnya, Luca keluar dan berlari ke arah perampok itu. Perampok yang melihat Luca mendekat mulai berjalan mundur;
" Ja-jangan mendekat..." Teriak perampok itu pada Luca.
Luca berlari melewati ku dan mulai menerjang perampok itu, Luca melompat dengan tinggi hingga lutut kakinya sejajar dengan wajah sih perampok dan mendarat dengan sempurna di wajahnya. Perampok yang terkena tendangan Luca ikut terhempas sedikit jauh dan akhirnya pingsan, Aku yang melihat itu hanya bisa menutup mulut ku yang terbuka lebar dengan kedua tangan ku.
" Apa kamu baik-baik saja?" Ucap Luca sambil berjalan kearah ku.
Aku berjalan melewati Luca demi memastikan perampok itu tidak meninggal karena terkena tendangan Luca;
" Apa dia baik-baik saja?" Ucapku sambil memastikan perampok di hadapan ku masih bernafas.
" Padahal aku sangat mengkhawatirkan mu, tapi kamu malah khawatir pada perampok itu" ucap Luca ketus.
( Bagaimana aku tidak khawatir, yang menyerang perampok ini pria dengan tinggi 180, berat badan 80kg dan memiliki badan yang kekar dan berotot. Ini bagaikan di tanduk banteng yang sedang mengamuk, mana perampok ini badannya sangat kecil bisa di bilang 3 kali lipat dari badan Luca) Fikiran ku kacau.
" Kenapa kau diam saja? Apa perlu ku panggil kan ambulance" ucap Luca tanpa rasa bersalah.
" Cepat telpon ambulance skarang" ucap ku.
"Cih, padahal aku menyelamatkan nyawamu tapi kamu malah marah-marah seperti itu" ucap Luca kesal sambil menelpon rumah sakit terdekat.
Aku terus menepuk muka perampok di hadapan ku, Luca yang sudah menelepon rumah sakit terdekat mulai menghampiri ku dan melihat kelakuanku dari dekat.
" Apa yang kamu lakukan? Dia akan mati kalau kamu menepuk wajahnya seperti itu" ucap Luca, Aku langsung menarik kedua tangan ku karena takut menambah masalah.
" Sudahlah, Kita tinggalkan saja dia. Lagi pula sebenar lagi ambulance akan tiba-tiba di sini, mungkin sekitar 3 menit lagi" ucap Luca santai.
" Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai ambulance benar-benar tiba" jawab ku yang masih duduk di samping perampok itu.
" Dasar cewek yang merepotkan, kalau begitu aku akan pulang lebih dulu" ucap Luca.
Aku langsung memegang celana Luca dan memintanya untuk menunggu dengan ku sebentar lagi, aku memasang wajah sedih dengan air mata yang mengalir di pipiku.
" Baiklah aku akan ikut menunggu di sini, hanya sampai ambulance nya tiba" ucap Luca yang ikut duduk di sampingku.
Malam ini jadi malam terindah untukku, melihat Luca berada di sisiku sekarang aku berharap malam ini menjadi malam yang s angat panjang.
" Ternyata kamu baik juga yah!" Ucap Luca.
"Kenapa Kamu berfikir aku orang yang baik?" Tanyaku.
" Tidak ada penjelasan yang pasti, itu hanya penilaian ku sendiri" ucapannya.
Ambulance akhirnya datang, beberapa orang mulai mengangkat korban dan di bantu oleh Luca juga pastinya.
" Walinya ada di sini" kata ku sambil menunjuk Luca.
" Kenapa harus aku?" Ketus Luca.
" Dia seperti inikan karena kamu juga" ucapku.
" Tapi kan aku memukulnya karena kamu juga, mungkin kamu yang akan masuk dalam ambulance itu kalau aku tidak menolong mu" kata Luca sedikit kesal.
" Baiklah aku akan ikut dengan mereka" ucap Luca sambil mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
Mobil ambulance pergi lebih dahulu, sedangkan Luca masih sibuk dengan seseorang di telpon. Aku melihat headphone ku yang sudah menunjukkan pukul jam sepuluh malam, aku pergi tanpa memberi tahu Luca.
Luca yang Baru saja selesai menelpon seseorang baru menyadari bahwa aku sudah menghilang, Luca melihat sekeliling dan tidak menemukan ku. Dengan cepat Luca masuk kedalam mobilnya dan pergi menuju jalan rumah ku, dan benar saja Luca mendapati ku berjalan kaki seperti biasanya.
Luca menghentikan mobilnya tepat di hadapanku dan turun dari mobilnya, aku melihatnya berjalan ke arahku dan berdiri tepat di hadapanku.
" Kenapa Kamu?" Belum sempat menyelesaikan perkataan ku, Luca sudah meraih tangan ku dan mengajak ku untuk ikut bersamanya. Aku hanya mengikuti Luca dan masuk kedalam mobilnya, Luca memakaikan sabuk pengaman padaku.
Aku menahan nafas sejenak karena Luca begitu dekat padaku;
" Hei bernafas lah, kenapa kamu menahan nafas seperti itu sampai wajahmu terlihat sangat memerah" ucapannya.
" Hah! " Aku mulai bernafas kembali, Luca yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam hingga aku menyadari sesuatu;
" Bukankah ini jalan menuju rumah ku? Aku kira kamu akan membawa ku ke rumah sakit" tanya ku.
" Apa kamu Fikir aku orang yang sejahat itu, tidak mengantarkan mu pulang" kata Luca agak kesal.
" Kenapa kamu sangat kesal seperti itu, padahal aku cuma bertanya" jawabku ketus.
Sepanjang jalan kami hanya terdiam hingga akhirnya kami tiba di depan rumah ku, Luca membuka kaca mobilnya dan menyuruh ku untuk masuk lebih dulu sebelum dia pergi.
Aku berdiri di depan pintu rumah ku sambil melihat Luca yang masih berada di depan pintu pagar ku, aku melambaikan tangan pada Luca dan masuk kedalam rumah.