Part1."jarak yang dipanggil rumah"
Namanya ALERA.
25 tahun
Dingin,tenang,dan terbiasa berdiri sendiri.
Orang-orang sering salah paham. mereka kira ALERA itu tidak peduli. padahal,dia cuma... Ngak tau cara menunjukkan rasa peduli tanpa terlihat lemah.
Dia bisa diam-diam bayarin makan temannya yang lagi kesusahan. Dia bisa begadang cuma nemenin sahabatnya menangis di telepon.
Tapi kalau ditanya, dia cuma jawab,
"Yaudah sih, biasa aja"
Tentang cinta?
ALERA ngga percaya.
Bukan karena dia belum pernah merasakan.
Justru karena dia pernah... Dan itu cukup bikin dia yakin:
"Dicintai itu cuma sementara."
Lalu datanglah REYHAN.
20 tahun.
Berisik, hangat, dan terlalu jujur untuk dunia yang sering pura-pura.
Pertama kali liat ALERA, REYHAN cuma diam.
Aneh, karena biasanya dia orang yang banyak bicara.
"Gue suka dia," katanya tiba-tiba ke temannya.
"Baru liat juga?"
"Iya. Tapi kayak Udah lama kenal."
Cinta pada pandangan pertama.
Dan anehnya, dia ngga ragu sedikit pun.
REYHAN mulai mendekat, pelan.
Ngga maksa.
Ngga berisik.
Cuma selalu ada.
"Lo makan?"
"Udah."
"Bohong. ni gue beliin."
ALERA kesel.
tapi tidak pernah menolak.
Akhirnya mereka menjadi dekat.
Tetapi bukan sebagai pasangan.
ALERA menetapkan batas.
"Kita kakak-adik aja ya."
REYHAN tersenyum kecil.
"Iya kak."
Padahal hatinya berkata lain.
Hari-hari berlalu.
REYHAN selalu ada di sisi ALERA—
sebagai "adik" yang terlalu perhatian.
Dia tau hal-hal kecil tentang ALERA:
• kopi tanpa gula
• suka hujan tapi benci basah
• pura-pura kuat padahal gampang hancur
Dan satu hal paling penting—
ALERA takut dicintai.
Sahabat ALERA, NARA, tau semuanya.
"Dia suka sama Lo," Kata NARA suatu malam.
ALERA diam.
"Lo tau?"
"Tau."
"Terus?"
"Gue pura-pura gak tau."
"Kenapa?"
ALERA menatap jendela.
"Kalau gue akui... Nanti harus gue hancurin."
REYHAN nggak pernah nembak.
Bukan karna takut ditolak.
Tapi karna dia tau... ALERA belum siap menerima.
Jadi dia tetap disana.
Sebagai "adik" yang diam-diam mencintai.
Suatu hari, ALERA sakit.
Demam tinggi. sendirian dirumah.
REYHAN datang tanpa diminta.
Bawa obat. makanan, dan wajah panik yang ngga bisa disembunyikan.
"Lo bisa jangan kanyak gini gak sih?"
ALERA berusaha tetap dingin.
"Kayak gimana?"
"Kayak... peduli bangat."
REYHAN terdiam sebentar.
Lalu tersenyum tipis.
"Soalnya gue emang peduli."
ALERA menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya... Dia ngga punya jawaban.
Malam itu, saat ALERA hampir tertidur, dia berbisik pelan—
"Kalau nantik gue percaya... jangan pergi ya,"
REYHAN yang duduk disampingnya mendengar.
Tangannya menggenggam pelan tangan ALERA.
"Gue ngga kemana-mana, "kak."
Mungkin ALERA belum sepenuhnya percaya cinta.
Mungkin REYHAN masih harus menunggu lama.
Tapi diantara jarak "kakak" dan "perasaan",
Ada sesuatu yang tumbuh diam-diam—
Bukan hubungan yang jelas.
Tapi cukup untuk disebut... Rumah.
Lanjut part2..