Bumi menyapaku dengan Sinarnya yang membuat suasana hatiku kembali cerah lagi, keseharianku tanpanya mengubah segalanya, dan sekarang aku sudah bekerja freelance mengambil beberapa project dari perusahaan besar, hidupku perlahan berubah setelah putus dari pacarku beberapa minggu lalu, aku giat bekerja tanpa memikirkan perasaan orang lain, Perasaan ini sudah lama aku rindukan.
Masalah adalah teman terbaiku saat bekerja terutama menghadapi mereka yang superior, karna aku pekerja freelancer tentu banyak tantangan, klien yang permintaannya terlalu banyak, ada yang perfeksionis, bahkan ada beberapa yang nggak mau bayar kalo belum usai, ya itu lah dunia kerja tapi ini yang aku harus mau nggak mau jalani.
Hari-hariku diisi suara deru papan ketik yang tak kunjung berenti, pekerjaaan ku ini multi job, terkadang aku menulis keseharian ku dalam bentuk notes kecil guna mengapresiasi diriku di setiap hari yang berlalu, yang aku tau saat ini mantanku kini bersama seorang yang ia kira bisa mendapat kebahagiaannya malah sekarang ia tengah berperang dengan medannya sendiri.
Itu pilihannya, dan aku menghargainya jadi ngapain aku pikirin dia lagi, sekarang aku sudah sendiri, teman-temanku sudah menjahuiku sejak aku berpacaran dengannya, tapi sekarang aku tidak mau memberitahu kondisiku saat ini, sampai suatu hari…. ada hal yang mulai mengacaukan rutinitas ku
Saat tengah malam aku berniat pulang menggunakan stasiun, namun saat itu stasiun tutup, aku sangat frustasi saat itu, jam menunjukan pukul 12 dini hari, tak sengaja kulihat ada kafe kecil bertuliskan “TUTUP” aku singgah sebentar melihat kondisi kafe yang begitu sunyi aku duduk bersandar di kaca transparan kafe itu, rasa kantuk mulai menghantuiku, aku berusaha mengelah, namun aku kalah dengan keinginanku, lalu tertidur tepat di sebelah kanan pintu kafe itu.
Saat suara burung berkicau, menandakan hari sudah pukul 4 pagi, aku melihat jelas seorang wanita berjongkok memegang dahiku seakan ia mengecek kondisiku apakah aku sakit atau tidak, saat mataku terbuka ia terkejut, lalu mundur tiga langkah, lalu berkata
“maaf mas saya nggak sengaja, tadi saya liat mas ketiduran disini, oh ya apa mas lapar?”tanya wanita tersebut, rasa yang sudah lama hilang itu datang kembali, perasaan sialan ini kembali,
“tidak perlu”ucapku dengan nada suara dingin lalu pergi tanpa melihat wanita tersebut, aku tidak akan terjebak dalam perasaan yang sama, sejak saat itu aku tidak pernah lagi kesana, tapi di rumah sangat terbatas, ini bisa menghambat pekerjaan ku, ke esokan harinya, aku di banjiri project tanpa henti, saat itu aku butuh koneksi internet yang cepat, terbesit dipikiranku saat itu ke kafe itu kembali, namun ku tepis pikiran tersebut, tapi aku ingat di kafe pasti ada Wifi, hal yang sangat kubutuhkan untukku bekerja.
Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke tempat tersebut, bukan untuk bertemu dia tapi demi pekerjaan, aku pergi berjalan kaki, tak ku sangka tempat ini begitu dekat dengan apartement tempat ku tinggal, ini sangat menguntungkan ku dalam efisien waktu, saat ku melangkah ke dalam kafe suasana tenang dan nyaman meresap dalam jiwaku, ternyata benar kata temanku, kalo ingin kerja terutama dengan suasana santai tentu enak di kafe.
Pandangan ku menyapu luas ke seluruh penjuru kafe, interior kafe minimalist namun terkesan elegan, tak lupa beberapa tanaman hias yang memberi oksigen yang segar, serta kaca transparannya memberikan pemandangan kota, tak lupa bagian outdoornya yang di hiasi pernik bebatuan koral di jalannya, serta meja bundar, dan kursi kayu dan beberapa pohon buah besar di setiap sudut memberi kesan pemandangan hutan mini, saat aku tengah asik memperhatikan sekitar, suara familiar menyapaku tepat di belakangku.
“Eh, Mas yang kemarin ketiduran, ya? Datang lagi ternyata,” ucapnya sambil tertawa kecil, membuatku sedikit salah tingkah. “kemarin mas menjatuhkan dompet mas saya menyimpannya siapa tau mas dateng lagi, dengan mas Tio? benar kan?”ucap wanita tersebut ternyata aku tidak sengaja menciptakan moment ini lagi, aku mengambil dompet tersebut lalu berkata
“terimakasih”ucap singkat ku dengan nada yang berusaha seramah mungkin
“tak perlu berterima kasih mas, oh ya mas mau apa? kopi? atau camilan? atau makanan berat?”ucap wanita tersebut ia menawarkan buku menu, disitu aku melihat menut tersebut dengan saksama, terdapat beberapa makanan yang ku kenal dan beberapa terlihat asing.
aku menunjuk menu yang ingin ku pesan, lalu duduk tenang di pojokan tempat ku bisa melihat pemandangan kota, lalu membuka laptop dan bekerja seperti biasa, internet disini lumayan juga, lalu ada berapa stop kontak di setiap sudut meja memudahkan ku dalam mengisi daya handphone, saat itu juga banjiran pesan, pesan tersebut bukan cuma dari klien, tapi ada juga grub sekolah, menanyakan kabar tentang putusnya hubunganku dengan mantaku, tanpa basa basi ku arsipkan grub tersebut lalu kembali fokus membaca pesan klien.
Satu jam berlalu aku terus fokus ke pekerjaan ku tanpa memperhatikan sekitar, tak sengaja ku lirik name tag wanita tersebut bertulis “Delvia” tepat di depan mejaku ia membersihkan sisa makanan para pengunjung, gerakannya yang luwes dan terampil membuatku kagum akan ketekunan wanita ini, ia sangat berbeda dengan mantanku yang cuma tau uang dan bersenang-senang saja.
Tersadar saat ia melihatku dengan senyum lembut, aku kembali melanjutkan pekerjaanku meski persaanku sedang kacau, “kamu serius banget, masih sibuk? kafe sebentar lagi masuk jam makan siang, mas Tio nggak mau pesen buat makan siang?”tanyanya menatapku dengan ramah, aku terpaku sejenak, perasaan ini datang kembali, aku berusaha menormalkan rasa tersebut lalu berkata “aku pesan ini”ucapku sambil menunjuk nasi goreng dengan perpaduan udang goreng sebagai lauknya, ia tersenyum lalu berbisik pelan kepadaku “Mas Tio yang sabar ya”ucapnya lalu pergi tanpa memikirkan jawabanku, aku bingung lalu melihat catatan kecil bertulis tentang kekesalanku saat bertemu klien kemarin, aku tertunduk malu, meski ini bukan hal penting tapi ini sangat krusial untuk mentalku, tanpa sadar senyumku tersungging lalu melanjutkan kembali kerjaan yang sebentar lagi selesai.
“Mas makanannya udah siap”ucapnya lalu menaruh makanannya tepat di depan mataku, wangi harum nasi yang baru keluar dari masakan memenuhi indra penciumanku, aku menikmatinya dengan hikmat, setelah menikmati makanan tersebut, aku lanjut kerja kembali, tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, aku bergegas keluar dari kafe meninggalkan uang dan tip sebagai bentuk terimakasih, lalu pergi dengan gerakan sunyi, mungkin ini interaksi terakhirku dengan wanita ini.
Keesokan paginya, aku terbangun namun tidak mendapati suara Handphone ku, keringat dingin membasahi dahiku, melihat jam dinding menunjukan pukul 6 pagi, sedangkan aku harus mengirimkan file dan tentu menghubungi klien, yang jadi masalahku saat ini Handphone ku tertinggal di kafe, kafe buka pukul 9 pagi, sedangkan aku akan bertemu klien pukul 9 pagi, ini sangat mepet dengan jam pertemuan, apakah aku akan gagal kembali, rasa frustasi kembali membanjiri hatiku, aku merasakan hal yang sama saat pertama kalinya aku di tinggal mantan.
Saat kepanikan membanjiri diriku, suara bell apartement menyadarkanku, mataku menyipit, aku tidak sama sekali memesan paket atau apapun, dan juga aku tidak terlalu berinteraksi dengan orang-orang di sekitaran apartement, perlahan aku berdiri, rasa penasaran mengalahkan egoku, setelah dekat dengan pintu, ku intip ternyata Devia ada di depan pintuku, seketika badanku terasa kaku, dari mana ia tahu alamat tempatku tinggal? dan ada apa dia kesini? tanpa banyak berfikir aku membuka pintu, lalu terlihatlah Devia di depan mataku.
Aroma parfum wanita menusuk hidungku, namun wangi ini tidak membuatku merasa tidak nyaman, tapi aku merasa tenang, “mas Tio Handphone mas kemarin ketinggalan, saya niatnya mau kembalikan handphonenya kemarin tapi karna saya harus selesaikan kerja dulu jadi saya berniat besoknya kesini”ucapnya, sadar akan lamunan yang tidak jelas, aku perlahan membuka mulutku
“ya…. makasih”ucapku meski terdengar pelan di ucapkan ia membalas “Aduh mas Tio pelupa ya…. ini saya kebetulan semalem masak bubur dan masih ada lebih, buat mas Tio aja”ucapnya lalu menyodorkan kepadaku bungkusan berisi kotak bubur.
Aku menerimanya dengan ragu, tanganku sempat tertahan sejenak di udara sebelum akhirnya mengambil kotak bubur itu. Rasanya aneh menerima kebaikan dari orang asing setelah sekian lama, lalu Devia pamit dan kembali ke apartementnya, yang membuatku kaget, ternyata kami tetangga, pantas saja ia tau dimana aku tinggal, apa segitunya aku sampai nggak tau orang-orang di sekitar sini, aku terus memperhatikannya menyapa semua orang disana, ternyata ia termasuk tetangga yang ramah, tanpa ku sadari senyum yang sudah lama menghilang kembali terlukis di wajahku, aku kembali ke ruang tamu sederhana apartementku tak lupa mengunci pintu lalu membuka ponsel dan melihat pesat dari klien kemudian membalas pesan mereka satu persatu. dan kembali bekerja.
Satu minggu berlalu, keseharian ku berlangsung seperti biasanya tetapi ada hal yang menggangguku, Devia selalu mengetuk pintu untuk menyapa, awalnya aku sedikit risih, apalagi berinteraksi dengan lawan jenis, sudah lama sekali hal ini tidak ku lakukan, aku bersikap normal layaknya laki-laki normal. Namun hari ini perasaanku berantakan, Klien secara tiba-tiba memutus kontrak sepihak, aku tentu tidak terima lalu meminta penjelasan, tetapi mereka tetap kekeh, pertengkaran berlangsung di koridor suara kerasku menggema ke seluruh penjuru koridor, merasa frustasi aku memukul dengan keras pembatas tangga hingga tak sadar tanganku berdarah, namun rasa sakit tersebut tertutupi dengan amarah yang meluap-luap.
“Mas Tio kamu nggak papa? tangan kamu….”ucap Devia tepat berada di belakangku, ia nampak shok, mungkin dia menyaksikan kemarahanku, kesalku bertambah melihat sosok Devia, entah kenapa aku merasa kesal setiap menatap orang, “pergi! ini bukan urusanmu”ucap ku dengan suara berat dan dingin, aku berharap ia menjahuiku, namun yang apa yang kuharapkan tidak terjadi, ia mendekat lalu membalut luka ku dengan sapu tangan kecil yang berjahit kelinci kecil di sudut bawah kanan sapu tangan tersebut. Badanku kembali kaku, kebaikan kecil sialan ini meluluhkan tembok yang selama ini ku bangun. sepanjang pengobatan ia menanyai beragam hal, mulai dari apa yang membuatku seperti ini, sampai ke cerita tidak jelas, aku merasa gadis ini sangat berbeda, tapi aku takut kembali sakit hati karna cinta. kami mengobrol sepanjang perjalanan menuju tempat kami masing-masing akhirnya aku mengerti ternyata manusia tidak semuanya seperti apa yang ku pikirkan.
Keesokan paginya aku libur dari pekerjaan sampah ini berniat mau mengembalikan saputangan Devia, awalnya aku mau langsung ke apartemennya, tapi aku mana berani ke tempat wanita sembarangan, takutnya gosip nggak jelas malah ganggu kehidupan Delvia. Aku datang ke kafe tempat Delvia bekerja, suasana kafe masih pagi, saat aku masuk aku melihat Dia tengah kebingungan menatap mesin kopi esspreso, pandangan linglung nya itu sungguh menarik bagiku, aku perlahan melangkah, menaruh kembali sapu tangan tersebut ke dalam saku celanaku berniat menyapa dia, namun dia malah melihat ku duluan.
“Eh mas tio selamat datang, mas mau pesan apa?”ucapnya ramah kepadaku, aku melihat mesin kopi lalu bertanya “americano satu”ucapku, namun hal yang membuatku curiga ia tampak gelisah, aku penasaran lalu bertanya “mesinnya rusak?”ucapku, ia hanya mengangguk tampak raut muka kesedihan di wajahnya, entah kenapa hatiku merasa sesak, padahal wanita ini tidak ada hubungannya dengan ku, “boleh saya liat mesinnya?”ucapku yang entah dari mana keberanian ini, ia hanya mengangguk lalu mengizinkanku masuk ke tempat biasa barista membuat kopi.
Suara ejekan datang di arah belakangku, aku menoleh melihat wanita yang jauh lebih buruk dari mantanku tengah menatapku dengan sinis, “eh kamu siapa apa urusan kamu disana itu tempat staf, kamu Devia kenapa malah mengundang orang tidak jelas ini, kalo bos tau bisa di pecat kamu”ucap wanita berdandan menor tersebut, tampat memperkeruh suasana, aku bejalan ke mesin espresso, lalu mengabaikan wanita aneh itu, lalu menoleh ke Devia dan berkata “apa ada obeng?”ucap ku Devia dengan sigap mengambil obeng di gudang belakang, lalu memberikannya kepadaku, tanpa basa-basi aku bekerja, ini adalah masalah kecil untukku yang dulunya seorang barista, masalah ini selalu terjadi saat dulu di tempatku bekerja, aku yang dulunya terkenal serba bisa selalu membantu perbaikan maupun angkut barang.
Wanita menor itu selalu merendahkan ku di tengah perbaikn berlangsung, aku tidak mempermasalahkan kata-katanya hal ini sudah ku alamai sedari dulu, jadi mendengar apa yang ia katakan itu sudah jadi makanan sehari-hariku, setelah selesai aku memberikan obeng tersebut ke Delvia, mengambil sapu tangan di saku kiri celanaku, lalu memberikannya sambil menggenggam sedikit tangannya, sedikit kasar, mungkin ini tangan wanita pekerja keras. lalu berlalu pergi tanpa menyahut perkataan Delvia yang berterima kasih kepadaku.
Setelah meninggalkan kafe aku menelusuri kota, menenagkan berisiknya pikiranku, aku melihat toko hewan peliharaan, terbesit pikiranku untuk kesana, disitu aku melihat beragam kecerian pengunjung, aku mengamati setiap hewan disana, beragam jenis hewan bisa kutemui disini, aku melihat makhluk mungil yang nampak seperti tikus, namun memiliki corak bulu yang berbeda, ia di tempatkan di Aquarium yang cukup besar, aku mengamati kelucuan makhluk itu aku merasa terhibur dengan tingkahnya, terbesit dipikiranku untuk mengadopsinya.
“Mas mau hewan ini ya?”ucap Wanita dengan paras anggun, aku bisa menebak umur wanita ini sangat jauh di atasku, meski penampilannya menipu pria biasa, aku mengangguk tanpa menjawab.
“wah selera mas boleh juga, hewan ini adalah hamster mas, nggak sulit kok ngerawatnya dan nggak ribet juga”ucap wanita itu, aku di bimbing dan diberi edukasi terkait cara mengurus hewan tersebut, pertama kalinya aku menghabiskan uang untuk diriku, terutama membeli perliharaan.
tak terasa waktu sudah sore, mungkin karna keasikan liat-liat di sekitar, aku akhirnya memutuskan untuk pulang, namun di saat mau sampai ke tempat pintu apartement ku, Devia memanggilku, lalu menghadangku, “mas Tio aku bawa bahan masak, aku masakin mas ya sebagai bentuk terima kasih saya, nggak boleh nolak ya”ucapnya sambil tersenyum, lagi-lagi aku merasa ciut saat berhadapan dengan gadis ini, aku mengangguk tanpa berkata sepatah kata lalu membuka pintu, ia masuk sambil melihat-lihat keadaan apartemenku.
“Apartemen mas Tio rapi juga ya”ucapnya seakan mengejeku, dia kira aku pria pada umumnya, tentu aku orang yang sangat tidak suka kotor, aku hanya berdehemm pelan, lalu menaruh makhluk kecil yang kubawa, “eh mas beli apa kok kelihatan besar yah”ucapnya ia sedari tadi memperhatikan apa yang ku taruh. “Cuma teman kecil”ucapku lalu menyiapkan beberapa hal yang di perlukan peliharaan kecil ku ini, dari air minum, tempat ia mandi, tempat ia buang air, sampai makanannya, Devia sedari tadi memperhatikanku dengan tatapan berbinar, ia nampak antusias melihat hewan kecil ini.
“namanya siapa?”ucapnya, aku terdiam sejenak lalu menjawab “Cica”ucapku, Devia terdiam sejenak lalu menjawab “Cica ya, nama yang bagus, sekarang nama kamu Cica”ucapnya sambil mengelus lembut makhluk kecil itu, sedari tadi aku memperhatikan tingkah mereka berdua, “eh jadi lupa gara gara kamu CIca, saya kedapur dulu mas, mau masak yah”ucapnya lalu berlalu pergi, tak sadar aku tersenyum, lalu terjadilah acara makan bersama, Devia mengobrol sedikit tentang kesehariannya, berkat bantuan ku ia tidak di pecat justru wanita menor itu di pecat karna mesin itu rusak gara garanya, aku tak menyangka bantuan kecil ini begitu di apresiasi, biasanya orang cuma kasih 2M, makasih mas, abis tuh tidak ada komunikasi panjang, namun ini dia malah seolah aku menyelamatkan nyawanya, obrolan kecil berlangsung jujur ini canggung untuk ku yang sudah 2 bulan tidak berpacaran. Setelah acara makan malam, Devia pamit kembali ke apartemetnnya, akhirnya aku bernapas lega dan kembali menjalani aktifitas baru tak lupa merawat Cica.
Keseharianku tidak lagi seperti dulu, sekarang aku punya Cica, makhluk kecil yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka, tingkahnya yang absurb selalu menghiburku di tengah badai bencana, Devia juga sejak kehadiran Cica ia selalu berkunjung kerumah untuk bermain bersama Cica, pernah suatu hari Cica menghilang dari kandang tempat biasa aku melihatnya, ternyata makhluk kecil ini sangat pandai mencari cara untuk keluar, kebetulan saat itu aku tengah sibuk dengan kerjaanku yang menumpuk, pikiran ku bucar seketika apa Cica merasa tidak betah dengan apa yang ku kasih selama ini, apa ia akan meninggalkan ku seperti yang lain, rasa frustasi, keputusasaan membanjiri seluruh tubuhku, saat itu harapanku pupus, di tengah kondisi seperti itu aku mendengar cuara mendesit kecil, semua perasaan itu runtuh menghilang seketika, aku melihat Cica ternyata ada berkeliaran di sekitaran karpet di dekat meja tamu, syukurlah aku kira ia meninggalkan ku, sejak saat itu Cica bebas berkeliaran di apartemenku, sampai Devia ikut panik, aku tertawa saat melihat ekspresi Devia yang panik itu, sejak saat ini aku merasa aku punya jati diriku yang selama ini hilang yaitu orang yang selalu hadir Sekarang aku sadar, kebahagiaan itu nggak butuh janji manis yang muluk. Cukup kehadiran yang sunyi, suara desit kecil di sudut karpet, dan tawa seorang wanita yang rela panik demi seekor hamster. Itu jati diriku yang baru.