Malam itu, gereja tua di pinggir hutan tampak lebih sunyi dari biasanya. Angin berhembus pelan, membuat pintu kayu berderit seperti ada yang mencoba masuk… atau keluar.
Namanya Eliana Grace. Cantik, lembut, dan dikenal sebagai wanita yang sangat taat. Malam itu seharusnya jadi malam paling bahagia dalam hidupnya—malam pemberkatan pernikahannya dengan Gabriel Nathaniel, pria yang ia cintai sejak lama.
Namun… tidak semua cinta berakhir indah.
—
“Lia… kamu yakin kita harus pakai gereja ini?” bisik Gabriel sambil merapikan jasnya.
Eliana tersenyum tipis. “Ini gereja tempat aku dibaptis… aku mau pernikahanku diberkati di sini.”
Gabriel mengangguk, meski jelas terlihat gugup.
“Ya… tapi kenapa dinginnya kayak kulkas rusak ya…”
Tiba-tiba lilin di altar berkedip.
“Eh… itu angin kan?” Gabriel mulai panik.
“El, jangan bilang ini… ada ‘bonus’ ya di gereja ini…”
Eliana menahan tawa. “Kamu ini, Gabriel. Masa takut…”
BRAKK!
Pintu gereja tiba-tiba tertutup sendiri.
“OKE AKU TAKUT.” Gabriel langsung refleks pegang tangan Eliana.
—
Pemberkatan dimulai. Pendeta membacakan ayat dengan suara tenang.
“Kasih itu sabar, kasih itu murah hati…”
Namun… saat Eliana hendak mengucap janji pernikahan—
Setetes air mata jatuh dari matanya.
Lalu… satu lagi.
Lalu… terus mengalir.
Padahal wajahnya… tidak menunjukkan kesedihan.
“Lia… kamu nangis?” bisik Gabriel.
Eliana menggeleng pelan. Suaranya berubah lirih… bukan seperti dirinya.
“Aku… sudah menunggu… lama…”
Gabriel merinding. “Itu bukan suara kamu, kan?”
—
Lampu gereja tiba-tiba padam.
Gelap.
Hanya cahaya lilin yang tersisa.
Dan di cermin tua di samping altar… muncul sosok lain.
Seorang pengantin wanita… dengan gaun putih yang kotor… wajah pucat… dan air mata darah mengalir dari matanya.
“Aku… belum sempat menikah…” suara itu menggema.
Gabriel langsung panik.
“Pak pendeta, ini termasuk paket pernikahan atau tambahan?!”
Pendeta tetap tenang. “Tenang, Nak. Ini bukan pertama kalinya…”
“HAH?!” Gabriel hampir pingsan.
—
Roh itu mendekat… perlahan masuk ke tubuh Eliana.
Eliana terjatuh.
Gabriel langsung memeluknya.
“Lia! Hei! Jangan bercanda gini, aku belum siap jadi duda dadakan!”
Eliana membuka mata.
Namun… bukan Eliana yang melihat.
“Aku… dibunuh… di hari
pernikahanku…” bisik suara itu.
Pendeta mulai berdoa dengan keras.
“Dalam nama Tuhan Yesus, roh yang tidak berasal dari terang—keluar!”
Tiba-tiba angin berputar kencang di dalam gereja.
Gabriel tetap memeluk Eliana, meski badannya gemetar.
“Aku gak ngerti apa yang terjadi… tapi aku gak bakal ninggalin kamu, Lia… bahkan kalau kamu tiba-tiba jadi dua orang kayak gini…”
—
Perlahan… Eliana menangis lagi.
Namun kali ini… air matanya berbeda.
Hangat.
Manusia.
“Aku… mau bahagia…” bisik suara roh itu… melemah.
Eliana menggenggam tangan Gabriel.
“Dia cuma… ingin merasakan… pernikahan…”
Gabriel terdiam. Lalu… dengan wajah masih tegang campur takut, dia berkata:
“Yaudah… cepat aja ya, kita nikah bareng… tapi jangan lama-lama numpang di tubuh calon istri saya…”
Pendeta hampir tertawa di tengah suasana mencekam.
—
Akhirnya… pemberkatan dilanjutkan.
Aneh… tapi nyata.
Saat Gabriel mengucap janji, Eliana tersenyum… dan di cermin, sosok pengantin itu ikut tersenyum.
Air mata darahnya… berubah menjadi air mata bening.
Dan perlahan… menghilang.
—
Semua kembali normal.
Lampu menyala.
Udara kembali hangat.
Eliana terjatuh lemas… namun kali ini benar-benar dirinya.
Gabriel langsung memeluknya erat.
“Lia… kamu bikin aku hampir mati jantung…”
Eliana tersenyum lemah. “Tapi kamu tetap di sini…”
Gabriel mengangguk.
“Ya… walaupun aku tadi sempat mikir nikah sama setan itu lebih cepat selesai…”
“El!”
Mereka tertawa kecil… di tengah sisa ketegangan.
—
Beberapa hari kemudian…
Mereka kembali ke gereja itu.
Meletakkan bunga di altar.
Untuk pengantin yang tak sempat bahagia.
Gabriel berbisik pelan,
“Tenang ya… sekarang kamu sudah damai.”
Eliana menggenggam tangannya.
“Dan kami… akan menjaga cinta ini… sampai akhir.”
Angin berhembus lembut.
Dan untuk sesaat… terdengar suara lirih…
“Terima kasih…”
—
Tamat.