Langit sore itu seperti lukisan yang belum selesai—jingga yang malu-malu, disapu garis ungu tipis di ufuk barat.
Nola berdiri di tepi taman kota, menggenggam segelas kopi yang sudah dingin sejak tadi. Ia bukan menunggu siapa-siapa. Setidaknya, itu yang ia yakini setiap kali hatinya berdebar tanpa alasan.
Usianya empat puluh dua. Hidupnya rapi, stabil, dan… sepi. Bukan sepi karena tak ada orang, tapi sepi yang datang dari ruang di dalam dada yang belum pernah benar-benar terisi.
“Permisi… bangkunya kosong?”
Suara itu membuat Nola menoleh. Seorang pria dengan senyum canggung berdiri di sampingnya, membawa dua gelas kopi.
“Eh… iya, kosong,” jawab Nola, sedikit kikuk.
Pria itu duduk, menaruh satu gelas kopi di antara mereka. “Saya Wira. Ini… saya beli dua, tapi ternyata teman saya batal datang. Kalau nggak keberatan…”
Nola mengangkat alis, menahan tawa. “Modusnya halus ya.”
Wira terkekeh. “Saya latihan dari YouTube, tapi kayaknya masih kaku.”
Tanpa sadar, Nola tersenyum lebih lebar dari biasanya. Dan sore itu, sesuatu yang sederhana berubah jadi awal dari cerita yang tidak pernah ia rencanakan.
Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu. Kadang di taman yang sama, kadang di warung kopi kecil dekat kantor Nola. Obrolan mereka tidak lagi basa-basi—tentang masa lalu, kegagalan, mimpi yang sempat terkubur.
Wira pernah menikah, tapi gagal. Nola pernah hampir menikah, tapi ditinggalkan.
“Aneh ya,” kata Nola suatu malam. “Kita baru ketemu sekarang, padahal rasanya kayak… udah kenal lama.”
Wira menatapnya, matanya hangat. “Mungkin kita telat, tapi bukan berarti salah waktu.”
Nola tertawa kecil. “Kamu ini… ngomongnya kayak quotes di Instagram.”
“Tapi kamu suka kan?”
Nola diam. Lalu mengangguk pelan.
Cinta mereka tumbuh… pelan tapi pasti. Tidak meledak seperti anak muda, tapi justru terasa lebih dalam. Mereka saling mengerti tanpa banyak kata, saling menjaga tanpa perlu diminta.
Namun bukan berarti tanpa drama.
Suatu hari, Nola ngambek hanya karena Wira lupa membalas chat.
“Maaf, Nol, tadi meeting panjang,” kata Wira di telepon.
“Meeting atau lupa?” suara Nola terdengar ketus.
“Duh… ini kenapa jadi kayak anak SMA sih?”
“Emang kenapa? Umur boleh 40-an, tapi hati tetap butuh diperhatiin!”
Wira tertawa. “Iya, iya… pacarku yang paling manja.”
“Siapa pacar kamu?!”
“Kamu.”
Hening sejenak.
Lalu terdengar suara Nola yang pelan, “Yaudah… maaf juga.”
Begitulah mereka. Dewasa, tapi tetap bisa saling ngambek, saling manja, bahkan kadang terlalu bucin untuk ukuran usia mereka.
Konflik datang ketika masa lalu ikut campur.
Mantan istri Wira tiba-tiba muncul, membawa kabar tentang anak yang selama ini tidak pernah Wira tahu. Dunia Wira runtuh seketika.
“Aku harus tanggung jawab, Nol,” katanya dengan suara berat.
Nola mengangguk, meski hatinya bergetar. “Aku ngerti.”
“Tapi aku takut kehilangan kamu.”
Nola tersenyum tipis. “Kalau cinta kita kuat, nggak akan hilang. Tapi kalau harus diuji… ya kita jalani.”
Namun ternyata, menjalani tidak semudah mengucapkan.
Wira mulai sibuk, waktunya terbagi. Nola kembali merasa sendiri. Luka lama yang belum sembuh, perlahan terbuka lagi.
Suatu malam, mereka bertengkar.
“Aku ngerasa kamu berubah, Wira.”
“Aku lagi berusaha jadi ayah, Nol! Kamu mau aku gimana?”
“Aku cuma mau kamu tetap ada buat aku!”
“Dan aku juga butuh kamu ngerti aku!”
Hening. Panjang. Menyakitkan.
Malam itu, mereka berpisah tanpa kata “selamat tinggal”.
Hari-hari setelahnya terasa kosong.
Nola kembali ke taman itu. Sendiri. Seperti dulu.
Tapi kali ini, ia tahu… ada yang hilang.
Di sisi lain, Wira duduk di mobilnya, memandangi chat terakhir Nola yang belum ia balas.
Akhirnya, ia mengetik:
“Aku kangen. Boleh kita mulai lagi?”
Nola membaca pesan itu lama. Lalu tersenyum, air matanya jatuh pelan.
Ia membalas:
“Datang ke taman. Senja hari ini cantik.”
Saat mereka bertemu lagi, tidak ada kata-kata besar. Hanya pelukan yang lama, hangat, dan penuh makna.
“Aku nggak mau kehilangan kamu lagi,” kata Wira.
“Aku juga. Tapi kita harus belajar… cinta itu bukan cuma rasa, tapi juga usaha.”
Wira mengangguk. “Dan kesabaran.”
“Dan… sedikit drama,” tambah Nola sambil tertawa.
“Sedikit?” Wira mengangkat alis.
“Mungkin… agak banyak.”
Mereka tertawa bersama.
Di bawah langit senja yang sama, dua hati yang sempat terluka akhirnya menemukan rumah—bukan dalam kesempurnaan, tapi dalam penerimaan.
Karena ternyata, cinta tidak pernah terlambat.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat…
Untuk dua orang yang siap.
Selesai