Hujan turun pelan malam itu, seperti sengaja menyamarkan suara langkahku. Sudah bertahun-tahun aku menunggu momen ini. Bukan karena aku tak bisa melupakan, tapi karena aku ingin memastikan—balas dendamku bukan sekadar emosi, tapi sesuatu yang pantas.
Namanya Arga. Dulu, dia segalanya bagiku. Sahabat, partner bisnis, bahkan orang yang paling aku percaya. Sampai suatu hari, dia menghancurkan semuanya dalam satu keputusan yang kejam.
Aku masih ingat jelas hari itu.
“Aku cuma ambil kesempatan, bukan nyuri,” katanya santai waktu aku memergokinya mengambil alih klien terbesar kami.
Padahal ide itu milikku. Proposal itu hasil kerja kerasku berbulan-bulan. Tapi dia mempresentasikannya sebagai miliknya. Dan yang lebih menyakitkan, semua orang percaya padanya.
Aku jatuh. Bangkrut. Kehilangan reputasi.
Sementara dia… naik.
---
Tiga tahun berlalu.
Dan sekarang, aku berdiri di depan gedung kantornya yang megah. Nama perusahaannya terpampang besar. Ironis, karena sebagian dari kesuksesan itu dibangun dari apa yang dia ambil dariku.
Tapi kali ini, aku tidak datang sebagai orang yang kalah.
Aku masuk dengan tenang. Resepsionis menyapaku, tapi aku hanya tersenyum tipis.
“Ada janji dengan Pak Arga?”
“Ada,” jawabku singkat.
Memang ada. Tapi bukan janji biasa.
Aku naik ke lantai atas. Pintu ruangannya terbuka sedikit. Dia sedang berbicara di telepon, tertawa kecil—sama seperti dulu, seolah dunia selalu berpihak padanya.
Aku mengetuk.
Dia menoleh… dan wajahnya berubah.
“Kamu?”
Aku tersenyum. “Kaget?”
Dia langsung menutup teleponnya. “Ngapain kamu di sini?”
Aku melangkah masuk tanpa izin, duduk santai di kursi depan mejanya.
“Datang lihat hasil kerja kerasmu,” kataku pelan.
Dia mengerutkan kening. “Kalau mau ribut, keluar.”
Aku menggeleng. “Tenang. Aku nggak datang buat ribut.”
Aku mengeluarkan sebuah map dari tasku, lalu meletakkannya di meja.
“Buka.”
Dia ragu, tapi akhirnya membuka. Wajahnya perlahan berubah pucat.
“Itu…” suaranya mulai goyah.
“Bukti,” potongku. “Semua dokumen asli. Timeline, draft awal, email—semua yang menunjukkan ide itu milikku.”
Dia menatapku tajam. “Kamu mau apa?”
Aku bersandar, menatapnya dengan tenang.
“Bukan uang. Bukan jabatan.”
“Terus?”
Aku tersenyum tipis.
“Aku mau kamu merasakan hal yang sama.”
Ruangan itu mendadak terasa sunyi.
“Apa maksudmu?”
Aku berdiri, mendekat ke mejanya.
“Besok pagi, semua itu akan sampai ke partner dan investor kamu. Termasuk media.”
Dia langsung bangkit. “Kamu nggak bisa—”
“Aku bisa,” potongku. “Dan aku sudah siapin semuanya.”
Dia terdiam. Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di matanya.
Rasanya… aneh.
Bukan puas seperti yang kubayangkan.
Lebih ke… kosong.
Aku menatapnya lama.
Lalu aku menghela napas.
“Tapi aku belum kirim.”
Dia menatapku bingung. “Apa?”
Aku mengambil kembali map itu.
“Aku cuma mau lihat satu hal,” kataku pelan.
“Apa?”
“Apakah kamu masih orang yang sama… atau sudah berubah.”
Dia diam.
Beberapa detik terasa seperti menit.
Lalu akhirnya dia menunduk.
“Aku salah,” katanya lirih.
Aku menatapnya, mencoba membaca ketulusannya.
“Aku panik waktu itu. Aku lihat kesempatan… dan aku ambil. Tanpa mikir panjang.”
Aku tidak menjawab.
“Aku tahu aku hancurin kamu,” lanjutnya. “Dan aku… nggak pernah benar-benar minta maaf.”
Sunyi lagi.
Hujan di luar masih turun.
Aku tersenyum kecil.
“Balas dendam itu nggak selalu tentang menghancurkan,” kataku pelan.
Dia mengangkat wajahnya.
“Tapi tentang memastikan… kita nggak lagi jadi orang yang lemah seperti dulu.”
Aku berjalan ke pintu.
“Tenang aja. Aku nggak akan kirim ini.”
Dia terdiam, seolah tidak percaya.
“Tapi ingat satu hal,” aku menoleh. “Kalau kamu ulang lagi, aku nggak akan datang dua kali.”
Aku keluar dari ruangan itu.
Langkahku terasa ringan.
Untuk pertama kalinya sejak lama… aku benar-benar menang.
Bukan karena dia jatuh.
Tapi karena aku tidak lagi hidup dalam bayangannya.