Elio Altrezza adalah sosok yang disegani di seluruh kota. Sebagai ketua geng Galtero yang beranggotakan lebih dari seribu orang, dia terlihat tangguh dan tak terkalahkan. Namun di balik ketangguhannya itu, hanya sebelas orang yang benar-benar dia anggap keluarga. Ada pula bayang-bayang yang tak pernah hilang dari hidupnya: Farez Ganendra, ketua geng Scott. Dulu mereka bersahabat karib, namun kini berubah menjadi musuh bebuyutan yang saling membenci. Akan tetapi, yang paling menyakiti hati Elio bukanlah persaingan dengan Farez, melainkan perpisahan dengan Azzlyn—wanita yang sangat dicintainya.
Malam itu hujan turun perlahan, seolah turut merasakan kesedihan yang akan terjadi. Di tengah rintik air, Azzlyn berdiri di hadapan Elio dengan mata yang sudah sembab dan suara yang bergetar hebat.
“Lo tau nggak, Elio… Gw capek nungguin lo.”
Elio hanya terdiam sambil mengepalkan tangan rapat-rapat.
“Gw sibuk, Azzlyn. Lo tau sendiri keadaan—”
Azzlyn hanya tertawa kecil yang terasa sangat pahit.
“Keadaan? Keadaan lo tuh geng lo. Selalu geng lo.”
Elio melangkah mendekat, suaranya melemah berusaha memohon pengertian.
“Gw berusaha bagi waktu—”
“Tapi lo gagal.” Air mata Azzlyn jatuh. “Gw nggak pernah jadi prioritas lo.”
Suasana hening sejenak, hanya diisi suara hujan yang kian deras.
“Lo milih mereka,” lanjut Azzlyn pelan. “Dan sekarang… gw milih pergi.”
Saat hendak melangkah pergi, Azzlyn menoleh sebentar dengan pandangan yang penuh kepedihan.
“Elio… tolong… jangan kejar gw. Karena kalau lo kejar… gw bakal berharap lagi.”
Dan Elio… diam. Dia tidak bergerak sama sekali. Dan keputusan itu menjadi penyesalan terbesar seumur hidupnya.
Sejak kepergian Azzlyn, Elio berubah total. Ia tetap menjadi pemimpin yang disegani, tetap berdiri di barisan terdepan saat bertempur, namun matanya kini terasa kosong. Senyum yang dulu sering menghiasi wajahnya pun lenyap tak berbekas. Persaingan dengan geng Scott pun semakin memanas dan kejam. Hingga pada suatu malam, pecahlah pertempuran besar yang menentukan segalanya.
Di tempat yang gelap remang hanya diterangi cahaya lampu jalan yang redup, Elio dan Farez saling berhadapan. Nafas mereka memburu penuh amarah.
“Lo nggak bakal pernah berhenti ya?” geram Farez.
“Selama lo masih ada, nggak,” jawab Elio dengan nada dingin tanpa belas kasihan.
Pukulan demi pukulan saling bertaut, darah berceceran di tanah, amarah meluap tanpa kendali. Hingga tiba-tiba terdengar suara ledakan keras yang membuat suasana seketika kacau. Orang-orang berlarian ke sana kemari, nyala api mulai menjalar ke mana-mana. Di tengah kekacauan itu, Elio tetap berusaha menyelamatkan anak buahnya sampai akhirnya ia roboh tak berdaya.
Elio terbaring lemah di ruang rawat rumah sakit, dihubungkan dengan alat-alat medis yang berbunyi teratur. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar sendirian. Hingga terdengar langkah kaki yang pelan dan ragu mendekat ke ruangannya. Saat pintu terbuka, tampak sosok yang sangat dirindukannya: Azzlyn.
Sekejap saja mata wanita itu berkaca-kaca melihat keadaan Elio yang penuh luka.
“Lo… kenapa jadi begini sih…” suaranya pecah.
Dia duduk di samping ranjang, tangannya gemetar saat menggenggam tangan Elio.
“Bodoh banget sih lo… Kenapa harus lo yang nahan semua ini…”
Air matanya jatuh satu-satu ke tangan Elio. Perlahan jari Elio bergerak, matanya terbuka perlahan dengan pandangan yang masih kabur.
“Azzlyn…?” panggilnya dengan suara yang sangat lemah.
Azzlyn langsung menangis tersedu-sedu.
“Iya… gw di sini… gw nggak ke mana-mana…”
Elio menatapnya lama seolah takut semua ini hanyalah mimpi belaka.
“Gw kira… lo udah bener-bener pergi…”
Azzlyn menggeleng cepat.
“Gw pergi… tapi hati gw nggak pernah ikut pergi dari lo…”
“Maaf…” suara Elio pecah. “Gw terlalu sibuk… sampai lupa kalau lo juga butuh gw…”
“Gw juga salah…” Azzlyn menggenggam tangannya lebih erat. “Gw harusnya nggak ninggalin lo gitu aja…”
Elio tersenyum kecil, lemah.
“Lo masih mau… sama gw?”
Azzlyn langsung nangis sambil ketawa kecil.
“Bego ya pertanyaan lo… Dari dulu juga… gw nggak pernah berhenti milih lo.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Elio pun meneteskan air mata.
Beberapa hari kemudian, Farez datang menjenguk tanpa membawa amarah maupun keangkuhan.
“Rio…” panggilnya menggunakan nama panggilan lama. “Udah cukup.”
Elio menatapnya.
“Kita capek… dan kita hampir kehilangan semuanya.”
Pada akhirnya, kedua sahabat yang pernah bermusuhan itu pun berdamai. Dua geng terkuat di kota akhirnya bersatu, menjadikan suasana kota yang dulu penuh ketakutan kini berubah menjadi damai sejahtera.
Setelah pulih sepenuhnya, Elio berjalan berdampingan dengan Azzlyn merayakan lembaran baru kehidupan mereka. Di dalam mobil, Azzlyn menatap kekasihnya dengan senyum yang menyejukkan hati.
“Kalau waktu bisa diulang… Gw tetep bakal milih lo.”
Elio membalas senyumannya dengan tatapan yang penuh ketegasan.
“Kali ini… gw janji nggak bakal ngecewain lo lagi.”
Azzlyn menggeleng sambil menggenggam tangan kekasihnya erat-erat.
“Jangan janji… Buktiin aja.”
Elio hanya mengangguk yakin.
Namun kebahagiaan itu ternyata hanya sesaat. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja cahaya lampu yang sangat terang menyilaukan pandangan mereka. Sebuah truk besar melaju kencang tanpa kendali ke arah kendaraan yang mereka tumpangi. Semua terjadi begitu cepat dalam hitungan detik.
“Elio—!”
BRAKKK!!!
Suasana kembali hening.
Upacara pemakaman dilaksanakan di bawah langit yang mendung kelabu. Hujan turun kembali persis seperti malam pertama kali mereka berpisah. Di depan gundukan tanah yang masih basah, Azzlyn berdiri mematung dengan tatapan yang kosong. Di tangannya tergenggam erat sebuah cincin.
“Lo janji…” suaranya lirih. “Lo janji nggak bakal ninggalin gw lagi…”
Air matanya jatuh membasahi bunga di atas makam.
“Tapi kenapa sekarang… lo yang pergi duluan…”
Di belakangnya, Farez berdiri menunduk menahan kesedihan yang mendalam.
“Kita semua salah…” katanya pelan. “Tapi dia… yang bayar semuanya.”
Sejak hari itu, persatuan antara geng Galtero dan Scott terus terjaga bukan lagi karena kekuasaan, melainkan sebagai pengingat akan kehilangan yang sangat berharga. Hingga saat ini, nama Elio Altrezza masih terus dikenang di setiap sudut kota. Bukan lagi sebagai pemimpin yang ditakuti, melainkan sebagai seorang pria yang akhirnya sadar memilih cinta… meskipun kebenaran itu datang terlalu terlambat.