Coretan di pinggir halaman 131 buku The Silent Pages itu masih basah saat Kaleb Anderson Hanks—yang lebih suka dipanggil K—menutup buku tersebut. Di pojok perpustakaan kampus yang temaram, ia meletakkan buku itu di rak "Kembali", berharap seseorang bernama S akan menemukannya besok.
Selena Maharani, atau S, datang dua hari kemudian. Ia menemukan balasan baru.
"K, deskripsi hujan bintang ini... apa kesunyian memang bisa menggema sedalam ini?" tulis Kaleb.
Selena tersenyum, jemarinya mengusap tinta hitam itu. Ia membalas di bawahnya:
"Ya, gema itu sempurna. Seperti memori yang menolak pudar."
Berbulan-bulan, buku itu menjadi ruang tamu rahasia mereka. Mereka berbagi tentang ketakutan, tentang bau laut di dekat mercusuar tua dalam cerita, hingga tentang rasa kopi yang terlalu pahit di kantin fakultas. Kaleb jatuh cinta pada tarikan huruf S yang tegas namun rapuh. Selena jatuh cinta pada cara Kaleb memaknai kata-kata yang bahkan penulisnya sendiri mungkin tidak maksudkan.
Namun, suatu sore di musim hujan, buku itu tidak lagi kembali ke rak.
Kaleb panik. Ia mencari ke seluruh penjuru perpustakaan. Ia bahkan bertanya pada Pak Tama, satpam kampus yang sudah hafal wajahnya karena sering terlihat "bersembunyi" di balik rak buku.
"Cari buku yang sampulnya biru tua itu, Mas Kaleb?" tanya Pak Tama sambil membetulkan letak topinya. "Tadi dipinjam mahasiswi, baru saja keluar."
Kaleb berlari ke arah taman kampus, tempat favorit para pembaca. Di sana, ia melihat Mbak Kiranti, penjaga taman yang sedang merapikan tanaman azalea.
"Mbak Kiranti, lihat perempuan membawa buku The Silent Pages?" tanya Kaleb terengah-engah.
Kiranti menunjuk ke arah bangku kayu di bawah pohon ek besar. "Baru saja dia berdiri dari sana, Mas. Kayaknya mau ke kedai kopi seberang."
Kaleb mengejar. Ia masuk ke kedai kopi yang penuh sesak. Aroma pemanggangan biji kopi menyengat indra penciumannya. Di pojok ruangan, seorang perempuan dengan syal abu-abu sedang menutup tasnya. Kaleb yakin itu dia. Punggungnya terlihat begitu familiar, meski ia belum pernah melihat wajahnya.
Kaleb melangkah maju. "Permisi, apa kamu yang menulis di margin buku—"
Kalimatnya terputus. Ponselnya bergetar hebat. Panggilan dari dosen pembimbingnya yang terkenal galak. Saat ia menoleh sedetik untuk mematikan ponsel, perempuan bersyal abu-abu itu sudah melangkah keluar pintu otomatis, tertelan kerumunan orang di trotoar yang sedang membuka payung karena gerimis mulai turun.
Di atas meja tempat perempuan itu duduk tadi, tertinggal selembar pembatas buku kertas. Kaleb mengambilnya. Di sana tertulis satu kalimat pendek dengan tulisan tangan yang ia hafal luar kepala:
"Aku merasa kita sudah bertemu ribuan kali di antara baris kalimat, meski dunia belum mengizinkan mata kita saling menatap. - S"
Kaleb duduk di kursi yang masih hangat itu. Ia memesan kopi yang sama dengan yang dipesan perempuan tadi—americano tanpa gula. Pahit, persis seperti rindu yang tak punya alamat.
Di luar, Selena berdiri di bawah payung hitamnya, hanya berjarak lima meter dari jendela tempat Kaleb duduk. Ia menoleh ke arah kedai, merasa seolah ada magnet yang menarik jiwanya ke sana. Namun, ia tidak masuk kembali. Ia hanya tersenyum tipis, memeluk buku The Silent Pages di dadanya, lalu melangkah pergi menembus hujan.
Mereka berada di koordinat yang sama, menghirup aroma hujan yang sama, namun tetap menjadi dua orang asing yang paling saling mengenal hanya di dalam kepala masing-masing.
Pak Tama, satpam perpustakaan yang sudah bertugas selama dua puluh tahun, sebenarnya tahu persis siapa "K" dan "S". Ia sering memperhatikan Kaleb yang selalu datang dengan wajah gelisah setiap Selasa, dan Selena yang selalu duduk di pojok yang sama setiap Kamis.
Suatu pagi, Pak Tama mendapati Mbak Kiranti sedang menyapu guguran daun di dekat jendela perpustakaan yang terbuka.
"Kir, kamu lihat anak muda yang sering bawa buku biru itu?" tanya Pak Tama sambil menyandarkan jempolnya di sabuk seragam.
Kiranti berhenti menyapu. "Yang rambutnya agak berantakan atau yang pakai kacamata bingkai tipis, Pak? Kalau yang perempuan, tadi dia baru saja titip pesan lewat kelopak bunga azalea yang dia selipkan di buku. Katanya, 'Kesunyian itu seperti hujan bintang, indah tapi tak bersuara.' Puitis sekali ya anak zaman sekarang."
Pak Tama terkekeh. "Mereka itu seperti dua rel kereta, Kir. Berjalan beriringan, menuju tujuan yang sama, tapi tidak akan pernah bersentuhan kalau tidak ada persimpangan."
Di dalam buku The Silent Pages, tepat di bawah paragraf tentang mercusuar tua, Selena (S) menuliskan sesuatu yang membuat jantung Kaleb (K) berdegup kencang saat membacanya:
S: "Apakah kamu pernah merasa rindu pada tempat yang belum pernah kamu kunjungi? Mercusuar ini terasa seperti rumah. Dan tulisanmu... terasa seperti seseorang yang sudah lama aku kenal di kehidupan lain."
Kaleb membalasnya dengan tangan gemetar di malam hari saat perpustakaan hampir tutup:
K: "Mungkin kita bukan orang asing, S. Mungkin kita hanya dua bagian dari satu cerita yang dipisahkan oleh sampul buku. Jika suatu saat aku berhenti menulis di sini, carilah aku di tempat di mana bau kopi bertemu dengan aroma buku tua."
Sesuai pesan itu, Selena sering menghabiskan waktu di kedai kopi seberang kampus. Di sana, ia selalu memesan kursi menghadap jendela, berharap melihat seseorang yang membawa buku biru tua yang sama.
Suatu sore, Mbak Kiranti masuk ke kedai itu untuk membeli teh botol. Ia melihat Selena duduk di pojok kanan, dan Kaleb yang baru saja masuk duduk di pojok kiri. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh satu rak majalah tua.
Mbak Kiranti melirik Pak Tama yang kebetulan sedang berjaga di depan gerbang kedai. Pak Tama hanya menggeleng pelan, memberi isyarat untuk tidak mencampuri urusan semesta.
Kaleb sedang asyik menandai kalender di ponselnya, sementara Selena sedang asyik memandang hujan yang mulai membasahi kaca. Mereka berdua sama-sama sedang memikirkan orang yang sama, di ruangan yang sama, namun terhalang oleh rasa takut akan realitas yang mungkin tidak seindah tulisan di margin buku.
Saat Selena berdiri untuk pergi, syal abu-abunya sempat menyengat lengan Kaleb. Kaleb mendongak, namun hanya melihat punggung Selena yang tertutup pintu kedai yang berdenting.
"Hampir saja," bisik Mbak Kiranti pada dirinya sendiri.
Kaleb kembali menatap buku di mejanya. Ia menulis satu kalimat terakhir di selembar kertas kecil yang ia tinggalkan untuk pelayan kedai: "Untuk perempuan yang duduk di sini sebelumnya, katakan padanya bahwa gema kesunyian itu telah menemukan pendengarnya."
Namun, pelayan itu lupa memberikan kertas tersebut. Kertas itu terselip di bawah mesin kasir, menjadi rahasia lain yang terkubur, sama seperti cinta mereka yang hanya mekar di antara baris-baris kalimat yang tak pernah terucap secara langsung.
Satu tahun telah berlalu. Buku The Silent Pages kini sudah ditarik dari rak sirkulasi karena kondisinya yang mulai hancur—terlalu banyak coretan, terlalu banyak jemari yang menelusuri tiap katanya. Buku itu kini mendekam di gudang arsip perpustakaan yang gelap.
Pak Tama telah pensiun, membawa rahasia tentang dua anak muda itu dalam ingatannya yang mulai memudar. Mbak Kiranti masih di sana, merapikan azalea, sesekali melihat ke arah kedai kopi seberang jalan dan menghela napas pendek.
Suatu sore, saat langit berwarna jingga yang sama dengan deskripsi "hujan bintang" di halaman 131, Kaleb berdiri di depan loket bus kampus. Ia akan pindah ke luar kota untuk memulai pekerjaan barunya. Di saat yang sama, tepat di barisan antrean di belakangnya, Selena berdiri sambil mendekap sebuah buku baru—karya penulis yang sama dengan The Silent Pages.
Angin sore bertiup kencang, menerbangkan selembar kertas kecil dari saku jaket Kaleb. Kertas itu jatuh tepat di depan sepatu Selena.
Selena memungutnya. Itu adalah potongan kertas tua dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali. Tulisan yang pernah menemaninya melewati malam-malam sepi di perpustakaan.
"S, jika kamu membaca ini... artinya aku sudah berhenti mencari. Tapi ketahuilah, kesunyianmu tidak pernah sendirian."
Selena tersentak. Jantungnya berpacu. Ia mendongak, matanya mencari-cari siapa pemilik kertas itu di antara kerumunan orang yang naik ke dalam bus. Ia melihat punggung seorang pria yang mengenakan jaket cokelat tua—pria yang baru saja melangkah masuk ke pintu bus.
"Tunggu!" suaranya tertahan di tenggorokan, hanya menjadi bisikan yang kalah oleh deru mesin bus.
Bus itu mulai bergerak. Kaleb duduk di dekat jendela, menyandarkan kepalanya, dan menatap ke luar. Ia melihat seorang perempuan berdiri mematung di trotoar sambil memegang selembar kertas kecil. Mata mereka sempat beradu selama satu detik melalui kaca jendela yang berdebu.
Kaleb merasa dejavu yang hebat, sebuah tarikan jiwa yang membuatnya ingin berteriak meminta sopir berhenti. Namun, bus tetap melaju, membawa Kaleb menjauh dari titik koordinat yang selama ini ia cari.
Selena tetap berdiri di sana, menggenggam kertas itu erat-erat. Ia tidak mengejar. Ia hanya tersenyum getir, menyadari bahwa takdir memang lebih suka menuliskan cerita mereka sebagai gema yang tak akan pernah bertemu dengan suaranya.
Di bawah langit yang mulai menggelap, mereka tetap menjadi dua orang asing yang paling saling mengenal, namun dipisahkan oleh jarak yang hanya sejauh satu langkah yang tak pernah diambil.