๐ฅ๐ผ๐ ๐๐๐น๐ถ๐ฎ๐ป berdiri di atas tangga kayu yang berderit, jemarinya menyentuh punggung buku berbahan kulit tua yang terasa hangatโseolah ada detak jantung di dalamnya. Di tempat ini, heningnya bukan kosong, melainkan penuh dengan bisikan kalimat-kalimat yang tidak pernah sempat terucap di dunia nyata.
Roy adalah pria yang teliti. Kacamata yang bertengger di hidungnya dan sorot matanya yang tajam mencerminkan kecerdasan yang ia asah selama bertahun-tahun menjaga ribuan naskah "gaib" ini. Namun, malam ini, karismanya yang biasanya tenang tampak terusik.
Di mejanya, tergeletak dua buah buku.
Satu adalah mahakarya dari seorang penulis yang telah berpulang saat usianya masih sangat muda, sebuah novel yang jika diterbitkan, konon bisa menyembuhkan rasa kesepian jutaan orang. Itulah tugasnya: memilih satu buku untuk "dilahirkan" ke dunia nyata. Namun, harga yang diminta semesta sangat mahal. Untuk menghidupkan satu buku, ia harus melenyapkan satu buku lainnya dari sejarah perpustakaan itu selamanya.
Buku kedua yang harus ia korbankan adalah kumpulan puisi tentang "Kepulangan". Itulah buku favorit Roy. Setiap kali ia merindukan adiknya โ yang akrab ia panggil PutraโRoy akan membaca naskah itu.
Putra berada di pulau yang sangat jauh, terpisah oleh samudera dan tugas dinas yang seolah tak ada habisnya. Bagi Roy, buku puisi itu adalah jembatan imajiner yang menghubungkan jiwanya dengan adiknya. Menghapus buku itu terasa seperti memutus satu-satunya kabel telepon yang tersisa ke dunianya yang lama.
Roy menghela napas, menatap kubah kaca raksasa yang menampilkan hamparan bintang di luar sana. Cahaya galaksi memantul di wajahnya yang tegas.
"Kreativitas bukan tentang memiliki segalanya," gumamnya pelan, teringat nasihat Putra saat mereka terakhir kali minum kopi di pelabuhan sebelum berpisah. "Abang harus belajar melepas, supaya sesuatu yang baru bisa tumbuh."
Jari Roy gemetar saat ia meletakkan tangannya di atas buku puisi favoritnya. Ia tahu, dunia nyata lebih butuh harapan daripada dirinya yang butuh nostalgia. Dengan satu tarikan napas panjang yang sarat akan rasa kemanusiaan, ia mendorong naskah novel hebat itu ke kotak "Kelahiran".
Seketika, buku puisi di tangannya memudar menjadi debu cahaya, hilang seolah tak pernah ada. Hati Roy terasa ringan sekaligus perih. Ia kehilangan suaranya untuk Putra di sini, tapi ia baru saja memberikan suara bagi jutaan orang di luar sana.
Roy turun dari tangga, merapikan jaket kulitnya, dan kembali ke mejanya. Ia masih pintar, masih berkarisma, namun kini ada satu ruang kosong di hatinyaโsebuah pengorbanan nyata yang membuatnya merasa lebih hidup dari sebelumnya.
...
Roy duduk di meja kerjanya yang diterangi lampu temaram, tepat setelah debu cahaya dari buku puisinya menghilang. Keheningan perpustakaan itu tiba-tiba pecah oleh bunyi klontang kecil dari kotak surat perak di sudut ruanganโsebuah anomali, karena surat dari dunia nyata jarang bisa menembus dimensi ini.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Roy mengambil amplop cokelat kusam itu. Di pojok kiri atas, tertulis nama yang membuat jantungnya berdegup kencang: ๐๐น๐ธ๐ฎ๐ฑ๐ฟ๐ถ ๐ฃ๐๐๐ฟ๐ฎ.
Ia merobek amplop itu dengan terburu-buru. Di dalamnya hanya ada secarik kertas dengan tulisan tangan Putra yang berantakan, khas adiknya yang lebih suka bekerja dengan otot daripada pena.
"๐๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ฐ๐บ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ด๐ช๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ. ๐๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ค๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฃ๐ข-๐ต๐ช๐ฃ๐ข ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข-๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐ถ๐ต ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ข๐ฑ๐ข.
๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข, ๐๐ข๐ฏ๐จ... ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ, ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข... ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ด. ๐๐ฆ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ-๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐บ๐ข, ๐๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐จ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ ๐ญ๐ข๐จ๐ช."
Roy melipat surat itu perlahan, menekannya ke dada. Ia menyadari sesuatu yang lebih dalam: saat ia menghapus buku puisi "Kepulangan" itu, ia tidak hanya mengorbankan memorinya, tapi ia juga menghapus beban rindu yang menyiksa adiknya di seberang lautan.
Ia berdiri, memperbaiki kerah jaketnya, dan menatap ke arah jendela besar yang menampilkan hamparan bintang. Karismanya kini bukan lagi tentang kecerdasan semata, melainkan tentang ketulusan seorang kakak.
"Pulanglah, Put," bisiknya pada angin kosmik. "Aku sudah menyiapkan ruang untuk cerita-ceritamu yang nyata, bukan yang tertulis di kertas."
Roy kembali ke rak buku, langkahnya kini jauh lebih mantap. Ia siap menyambut buku-buku baru, karena ia tahu, terkadang sebuah karya harus mati agar manusia yang dicintainya bisa benar-benar hidup.
...
Setelah Roy melipat surat itu, sebuah dering nyaring yang asing memecah kesunyian yang magis itu. Roy tertegun. Di laci mejanya, sebuah telepon bimbit lama yang layarnya sudah retakโbenda yang seharusnya sudah berhenti di dimensi iniโtiba-tiba menyala dan bergetar hebat.
Roy merogoh laci dan mengangkat ponsel itu. Di layarnya yang berkedip-kedip, tertulis nama: Putra.
"Halo?" suara Roy terdengar parau. Karisma tenangnya sedikit goyah oleh emosi.
"Bang? Ini beneran Abang?" Suara Putra di ujung telepon terdengar berisik oleh deru angin pelabuhan dan mesin kapal. "Ajaib, aku iseng saja menelepon nomor lama ini, tidak menyangka bakal nyambung. Sinyal di sini biasanya buruk, Bang."
Roy tersenyum kecil, ia tahu ini bukan sekadar sinyal biasa, melainkan sisa-sisa energi dari buku yang baru saja ia korbankan. "Iya, ini Abang, Put. Kamu di mana?"
"Aku di dermaga, Bang. Baru saja naik kapal," suara Putra terdengar bersemangat, lebih ceria dari suratnya tadi. "Tiba-tiba saja aku ngambil cuti tahunan. Aku merasa... aku harus pulang sekarang juga. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk sekadar cerita lewat surat."
Roy menyandarkan punggungnya di rak buku tua yang menyimpan ribuan rahasia dunia. "Kenapa tiba-tiba, Put?"
"Entahlah, Bang. Rasanya seperti ada sesuatu yang 'lepas' dari pundakku. Aku merasa lebih ringan. Oh ya, aku sempat menulis surat tadi pagi, tapi lupakan saja isinya yang melankolis itu. Aku bakal sampai dalam dua hari. Siapkan kopi yang paling enak ya, Bang. Jangan baca buku terus, sekali-kali dengarkan cerita asliku!"
Roy terkekeh, air mata hampir jatuh namun ia tahan dengan wibawanya. "Kopinya sudah siap, Put. Hati-hati di jalan."
Sambungan telepon itu tiba-tiba terputus dengan suara statis yang panjang. Layar HP lama itu meredup, lalu benar-benar mati, menjadi benda bisu kembali.
Roy memasukkan ponsel itu ke saku jaket kulitnya. Ia menatap ke arah pintu besar perpustakaan. Untuk pertama kalinya dalam sekian lama, sang penjaga cerita "yang tak pernah ditulis" itu merasa tugasnya selesai. Ia tidak butuh lagi buku puisi tentang kepulangan, karena kepulangan itu sendiri sedang berlayar menuju arahnya.
...
Dua hari kemudian, pelabuhan diselimuti kabut tipis saat fajar menyingsing. Roy berdiri di ujung dermaga, jaket kulitnya terpasang rapi, memberikan kesan pria yang berwibawa dan tenang di tengah hiruk-pikuk orang yang berlalu-lalang. Matanya yang tajam menyisir setiap penumpang yang turun dari kapal feri besar yang baru saja bersandar.
Lalu, di antara kerumunan itu, sosok yang ia tunggu muncul.
Putra melangkah turun dengan gagah. Ia mengenakan seragam loreng kebanggaannyaโseragam yang melambangkan tugas berat dan pengabdiannya sebagai Prajurit Samudera. Baretnya terselip rapi di bahu, dan sebuah tas ransel besar menggantung di punggungnya yang tegap. Wajahnya yang terpapar matahari dan angin laut tampak lebih tegas dan matang, namun senyumnya langsung mengembang saat melihat kakaknya.
"Bang Roy!" seru Putra. Suaranya berat dan penuh energi, memecah kebisingan pelabuhan.
Roy tidak bergerak banyak, namun senyum tipis di wajahnya memancarkan rasa bangga yang luar biasa. Saat Putra sampai di hadapannya, adiknya itu langsung memberikan hormat singkat dengan jenaka sebelum akhirnya mereka berpelukan erat. Aroma kain seragam yang khas dan debu perjalanan tercium kuat.
"Kamu makin terlihat gagah, Put. Seragam itu... cocok sekali untukmu," kata Roy sambil menepuk pundak Putra yang kokoh.
"Dan Abang masih tetap terlihat seperti orang paling pintar di kota ini," balas Putra sambil tertawa, matanya berbinar. "Terima kasih sudah mengangkat telepon lama itu, Bang. Rasanya seperti ada panggilan takdir yang menyuruhku pulang."
Roy terdiam sejenak, teringat pada buku puisi yang telah menjadi abu di perpustakaan tengah malam. Ia melihat ke arah seragam adiknyaโsebuah realita yang jauh lebih berharga daripada imajinasi manapun yang pernah ia jaga.
"Mari pulang, Put. Ibu sudah menunggu, dan aku punya banyak waktu untuk mendengarkan semua cerita samudera yang belum sempat kamu tulis di surat," ujar Roy sambil merangkul bahu adiknya.
Keduanya berjalan meninggalkan dermaga, menyusuri jalanan kota yang mulai terbangun. Di bawah sinar matahari pagi, Roy merasa karismanya bukan lagi berasal dari buku-buku kuno yang ia jaga, melainkan dari keberaniannya untuk melepaskan yang fiksi demi mendekap yang nyata.