Annisa Rismawati menatap langit sore Cicalengka yang mulai meremang, membiarkan angin pegunungan menyentuh kulit wajahnya yang tampak lebih tenang dari setahun lalu. Di tangannya, sebuah undangan pernikahan berwarna krem keemasan masih terasa hangat, seolah-olah membawa beban memori yang sempat ingin ia kubur dalam-dalam. Namun, hari ini, beban itu terasa ringan. Tidak ada lagi sesak yang menghimpit dada, tidak ada lagi air mata yang dipaksa kering demi sebuah komitmen yang pincang.
Enam tahun. Annisa sering merenung, betapa ajaibnya seorang wanita bisa bertahan dalam ruang hampa selama lebih dari dua ribu hari. Nazarizkyhadi adalah nama yang dulu ia sebut dalam setiap sujudnya. Nazar adalah lelaki yang baik dalam standar moral yang paling dasar; dia tidak kasar, dia tidak berkhianat, namun dia adalah definisi dari sebuah kekosongan yang nyata. Hubungan mereka adalah sebuah garis lurus yang membeku. Selama enam tahun, Annisa adalah mesin tunggal yang menggerakkan roda asmara mereka. Ia yang merencanakan setiap pertemuan, ia yang selalu mengingat tanggal-tanggal penting, dan ia pula yang selalu mencari cara agar percakapan di antara mereka tidak berakhir pada kata "ya" atau "tidak".
"Aku melakukan itu, Kak," bisik Annisa suatu malam pada sahabatnya, suaranya parau namun penuh keyakinan. "Aku menemani dia selama enam tahun sampai rasa cinta aku benar-benar habis, menguap tanpa sisa. Aku menjadi hambar karena dia terlalu monoton, sementara aku sudah memberikan seluruh upaya, seluruh hatiku, full effort tanpa jeda. Aku seperti sedang menuangkan air ke dalam ember yang bocor. Aku lelah menjadi satu-satunya yang merasa memiliki."
Nazar adalah sosok yang menerima segalanya tanpa pernah merasa perlu memberi kembali. Dia menikmati perhatian Annisa seolah itu adalah hak patennya, tanpa pernah berpikir bahwa cinta adalah sebuah ekosistem yang butuh timbal balik. Ketika Annisa sakit, Nazar hanya berpesan untuk minum obat melalui pesan singkat. Ketika Annisa meraih prestasi dalam pekerjaannya sebagai pendidik, Nazar hanya mengangguk pelan tanpa ada binar kebanggaan di matanya. Kejenuhan itu bukan datang seperti badai, melainkan seperti tetesan air yang perlahan-lahan melubangi batu karang. Hingga pada suatu titik di tahun keenam, Annisa menyadari bahwa hatinya telah mati rasa. Ia tidak lagi marah, tidak lagi kecewa, ia hanya merasa kosong.
Perpisahan itu terjadi tanpa drama besar. Annisa melepaskan Nazar dengan ketenangan yang menakutkan, seperti seseorang yang akhirnya meletakkan ransel berat setelah berjalan puluhan kilometer. Setahun setelahnya adalah masa di mana Annisa belajar mencintai dirinya sendiri kembali, menata ulang kepingan hatinya yang sempat berserakan karena diabaikan. Ia mengira bahwa butuh waktu bertahun-tahun lagi untuk bisa membuka hati. Ia skeptis pada konsep cinta yang instan, karena baginya, enam tahun saja tidak cukup untuk menjamin kebahagiaan.
Namun, Tuhan adalah penulis skenario terbaik. Di tengah masa penyembuhannya, ia diperkenalkan dengan Sandi Ibrahim. Jika Nazar adalah musim dingin yang tak kunjung usai, Sandi adalah fajar yang membawa kehangatan. Tidak ada yang berlebihan dari Sandi, namun pria itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Nazar: inisiatif dan kepastian. Sandi tidak membiarkan Annisa menebak-nebak. Sandi tidak membiarkan Annisa berjuang sendirian untuk membangun suasana.
"Annisa, aku tidak ingin hanya menjadi bagian dari masa lalumu. Aku ingin menjadi masa depanmu," ucap Sandi dengan nada yang begitu mantap hanya dalam beberapa minggu perkenalan mereka.
Hanya butuh waktu dua bulan. Sebuah angka yang bagi banyak orang terdengar mustahil atau terburu-buru. Namun bagi Annisa, dua bulan bersama Sandi terasa lebih berisi daripada enam tahun bersama Nazar. Sandi adalah jawaban atas segala doa-doa Annisa yang sempat ia anggap tidak didengar. Sandi menghargai setiap detail kecil dalam hidup Annisa, mendukung impian-impiannya, dan yang paling penting, Sandi hadir secara utuh—baik raga maupun jiwanya.
Lamaran itu terjadi di sebuah pertemuan keluarga yang hangat, penuh haru, dan tanpa keraguan sedikit pun. Annisa melihat ibunya menitikkan air mata bahagia, melihat ayahnya menjabat tangan Sandi dengan mantap. Pernikahan mereka dilangsungkan tak lama kemudian, sebuah pesta sederhana yang menjadi saksi bahwa luka lama telah sembuh total. Annisa menyadari bahwa terkadang, Tuhan membiarkan kita berada di orang yang salah dalam waktu lama agar kita bisa benar-benar menghargai saat orang yang tepat itu akhirnya datang.
Malam ini, di bawah lampu kamar yang temaram, Annisa menatap suaminya yang sedang menyusun rencana masa depan mereka di sebuah buku catatan kecil. Sandi menoleh, tersenyum, lalu menggenggam tangan Annisa dengan erat. "Terima kasih sudah memilihku, Annisa," bisiknya tulus. Annisa tersenyum, hatinya yang dulu hambar kini penuh dengan rasa syukur yang meluap-luap. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung karena telah berani melepaskan beban demi mendapatkan perlindungan yang sesungguhnya.
Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto, dan menatap sebuah gambar lama yang selama ini ia simpan sebagai pengingat akan masa lalunya yang kelam namun mendewasakan. Annisa tersenyum getir, lalu dengan satu gerakan mantap, ia menekan tombol hapus pada foto tersebut, siap melangkah sepenuhnya ke masa depan tanpa bayang-bayang. Namun, saat ia meletakkan ponselnya, ia baru menyadari bahwa Sandi telah tertidur pulas dengan tangan yang masih menggenggam erat jemarinya, dan di bawah bantal Sandi, terselip sebuah foto usang yang menampakkan Sandi muda sedang berdiri di latar belakang foto kelulusan Annisa enam tahun lalu—pria itu ternyata telah mencintainya dalam diam, jauh sebelum Annisa tahu bahwa Sandi bahkan pernah ada di dunia ini.