Suara gerimis mengiringi langkah kaki Rama saat dia mendekati rumah tua yang sudah sepuluh tahun tidak pernah dia kunjungi. Dinding tembok yang dulunya putih bersih kini sudah banyak ditumbuhi lumut hijau pekat, dan pagar bambu yang pernah kokoh kini sebagian sudah roboh tertutup rerumputan tinggi.
Dia berhenti di depan pintu belakang yang selalu terbuka saat dia masih kecil. Pintu kayu itu warnanya sudah pudar, sebagian catnya mengelupas menampakkan serat kayu yang mengeras akibat cuaca. Di bagian bawah pintu masih terlihat tanda lingkaran kecil yang dibuatnya saat berusia sembilan tahun – tanda tinggi badan yang dia ukur setiap bulan bersama ayahnya.
“Masih ada di sana ya,” gumamnya pelan sambil mengusap bekas lingkaran itu.
Pintu berderit pelan saat Rama mendorongnya masuk. Udara dalam pekarangan terasa lebih sejuk dan lembab. Pohon pepaya yang dia tanam sendiri masih berdiri kokoh di sudut kanan, buahnya sudah mulai menguning di tangkai. Di dekat kolam ikan yang sudah mengering, terdapat tumpukan batu bata yang dulunya jadi tempat mereka bersantai sore hari.
“Ayam kampungmu yang suka lari masuk pekarangan, sekarang sudah tidak ada lagi,” suara lembut datang dari belakangnya.
Rama menoleh dan melihat seorang wanita berusia sekitar lima puluhan berdiri di ambang pintu rumah. Rambutnya sudah mulai berpucat, tapi wajahnya masih dikenalkannya dengan jelas. “Bu Warsih?”
Wanita itu mengangguk dengan senyum hangat. “Sudah lama sekali kamu tidak datang, Rama. Ayahmu selalu bilang kamu pasti akan kembali suatu hari.”
Rama merasa mata sedikit panas. Dia mengangguk perlahan. “Aku sudah coba datang beberapa kali, tapi selalu tidak berani masuk dari pintu depan.”
“Pintu belakang selalu jadi jalannya kamu kan?” Bu Warsih terdengar tertawa lembut. “Dulu kamu selalu masuk dari sini saat pulang sekolah, membawa berbagai kejutan buat ayahmu. Kadang ikan kecil yang kamu tangkap di sungai, kadang bunga liar yang kamu kumpulkan di jalan.”
Rama menoleh melihat kolam yang sudah kering. “Aku pernah janji akan memperbaiki kolam itu setelah lulus kuliah. Tapi kemudian aku pergi kerja ke kota dan tidak pernah punya waktu lagi.”
“Ayahmu tidak pernah menyalahkanmu,” kata Bu Warsih sambil mendekatinya. “Dia selalu bilang kamu sedang mengejar impianmu. Setiap hari dia duduk di bawah pohon pepaya itu, menunggu melihatmu datang dari pintu belakang seperti dulu.”
Rama merasa dada terasa sesak. Dia berjalan mendekati pohon pepaya dan menyentuh batangnya yang sudah besar. Di batang pohon itu terdapat beberapa tanda lingkaran kecil lainnya – sama seperti yang ada di pintu belakang.
“Dia terus mengukur tinggi pohon itu setiap bulan,” ujar Bu Warsih dari belakang. “Kata dia, kalau pohon sudah sebesar dirinya, berarti kamu sudah siap pulang.”
Rama melihat ke atas, pepohonan yang rindang sudah lebih tinggi dari rumah itu sendiri. Dia meraih salah satu buah pepaya yang sudah matang, menyentuh kulitnya yang halus. Saat dia menoleh kembali, mata sudah penuh air.
“Bu Warsih,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Bolehkah aku memperbaiki pintu belakang ini? Dan kolamnya juga?”
Bu Warsih tersenyum lagi, kali ini dengan mata yang juga berkaca-kaca. “Ayahmu pasti akan senang sekali mendengarnya.”
Rama meraih alat tukang yang sudah lama tergeletak di sudut pekarangan. Dia mulai membersihkan rerumputan yang tumbuh di sekeliling pintu belakang, sambil merenungkan setiap cerita yang pernah terjadi di tempat yang dulu selalu jadi pelariannya dari segala masalah. Pintu belakang yang pernah jadi jalannya untuk pergi menjelajah dunia, kini menjadi jalan untuk dia kembali pulang.