Sore itu, aroma kopi bercampur dengan sisa hujan di luar jendela. Fafie duduk di meja makan, menatap secarik kertas di hadapannya: Surat Resign. Di luar, bulan April sedang bersiap merayakan semangat Kartini, namun di dalam dadanya, ada perang batin yang belum usai.
Ingatannya melayang ke belasan tahun silam. Masa-masa saat ia harus memoles wajah sepagi mungkin, mengenakan pakaian kerja yang rapi, dan mencium kening anak-anaknya yang masih terlelap. Dulu, ia merasa cukup beruntung. Ada orang tua dan dua babysitter yang menjaga rumah. Ia bisa bekerja dengan tenang karena tahu anak-anaknya berada di tangan yang aman.
"Aku bekerja untuk mereka," bisiknya dulu pada cermin, menguatkan hati setiap kali rasa bersalah muncul karena melewatkan langkah pertama atau kata pertama buah hatinya.
Namun, waktu adalah pencuri yang paling lihai. Tiba-tiba saja, botol susu berubah menjadi ponsel pintar. Suara tangis bayi berubah menjadi suara berat remaja yang lebih sering tertutup di balik pintu kamar.
Suatu malam, putra sulungnya hanya menatapnya sekilas saat ia pulang lembur. "Ibu pulang?" tanyanya datar, tanpa binar yang dulu selalu ada. Di saat itulah, Fafie tersadar. Meski dulu ada yang menjaga fisiknya, jiwanya tidak selalu hadir di sana.
Maka, di bulan Kartini ini, Fafie mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya. Bukan untuk mendaki puncak karier yang lebih tinggi, tapi untuk "pulang".
Hari pertama setelah resmi menganggur, suasana rumah terasa berbeda. Tidak ada lagi dering telepon kantor yang mendesak. Sebagai gantinya, ada percakapan panjang di meja makan tentang teman sekolah, tentang mimpi-mimpi remaja mereka yang selama ini hanya ia dengar sepotong-sepotong.
Fafie tidak lagi bisa bebas menggeser kartu kredit untuk belanja tas bermerek atau sepatu mahal seperti dulu. Ia harus mulai menghitung setiap pengeluaran dengan cermat. Tapi anehnya, ia merasa lebih kaya.
"Bu, besok temani aku beli buku, ya?" tanya si bungsu sambil bersandar di bahunya.
"Ibu bisa?"
"Bisa, Sayang. Ibu bisa kapan saja."
Melihat senyum lebar di wajah anaknya, Fafie merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Sebuah ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan bonus tahunan mana pun.
Ia sadar, menjadi Kartini masa kini bukan hanya soal membuktikan diri di dunia luar. Baginya, Kartini adalah tentang keberanian memilih jalan yang paling damai bagi jiwanya. Ia memilih untuk "waras". Ia memilih untuk hadir.
Malam itu, ia tidur tanpa beban target perusahaan di pundaknya. Di balik pintu kamar sebelah, ia mendengar tawa anak-anaknya yang saling bercanda. Fafie tersenyum dalam gelap. Dompetnya mungkin tak sepadat dulu, tapi jiwanya kini penuh.
Ternyata, keputusan terbaiknya bukan saat ia diterima kerja dulu, melainkan saat ia memutuskan untuk berhenti dan kembali menjadi "Ibu" seutuhnya. Sebuah kemerdekaan yang sesungguhnya.
---
Selamat Hari Kartini untuk Anda dan semua ibu yang sedang berjuang dengan pilihannya masing-masing!