Malam selalu menjadi ruang paling jujur bagi Love.
Di saat dunia mulai tenang dan suara-suara perlahan menghilang, hanya ada satu hal yang tetap ia tunggu,sebuah notifikasi kecil di layar ponselnya.
Cahaya redup dari layar itu seakan menjadi jendela menuju seseorang yang tidak pernah benar-benar dekat, namun selalu terasa ada.
Nama itu muncul...
Abang.
Senyum Love terlukis tanpa sadar.
Ia membuka pesan dari aplikasi chat itu perlahan, seolah ingin menikmati setiap detik yang tercipta dari hal sederhana tersebut.
"Love, sudah istirahat?"
Pertanyaan yang sama, hampir setiap malam. Namun tidak pernah terasa membosankan.
"Belum, Bang,lagi nunggu Abang."
Ia menekan tombol kirim, lalu meletakkan ponsel di dada, memeluknya seolah itu adalah pengganti kehadiran yang belum pernah ia rasakan secara nyata.
Cinta mereka memang lahir dari dunia yang tidak biasa.
Tidak ada pertemuan pertama yang bisa dikenang.
Tidak ada sentuhan yang bisa diingat.
Hanya kata-kata...
Hanya suara...
Dan keyakinan yang tumbuh perlahan, di antara waktu yang tidak pernah sepenuhnya milik mereka.
Di tempat lain, jauh dari jangkauan yang bisa ditempuh dalam hitungan jam, Abang duduk sendiri di sudut bengkel motor nya. Lampu masih menyala, kotak perkakas masih terbuka, dan tanggung jawab masih menunggu untuk diselesaikan.
Namun di sela semua itu, ada satu hal yang tidak pernah ia lewatkan,
Love...
Ia membaca pesan chat itu dengan napas yang sedikit tertahan.
Ada rasa hangat yang tidak bisa dijelaskan, sesuatu yang selalu membuatnya ingin kembali, meski dunia menuntutnya untuk terus berjalan.
"Maaf ya, Love. Abang baru bisa pegang HP."
Jeda sejenak...
"Hari ini capek banget."
Ia hampir menutup percakapan itu, tapi kemudian menambahkan satu kalimat lagi.
"Tapi Abang kangen."
Kalimat sederhana, namun penuh makna.
Karena bagi Abang, mengatakan rindu bukan sekadar kebiasaan, melainkan pengakuan bahwa di tengah kesibukannya, ada satu nama yang selalu ia bawa dalam pikirannya.
Love membaca pesan itu dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Bukan karena sedih...
Tapi karena merasa dihargai.
Karena di tengah dunia yang seringkali sibuk dan tak peduli, masih ada seseorang yang mengingatnya, meski hanya lewat layar.
"Love juga kangen, Bang."
Jawabannya singkat.
Namun hatinya penuh.
Hubungan mereka bukan hubungan yang mudah.
Jarak menjadi tembok yang tidak bisa disentuh.
Waktu menjadi batas yang tidak bisa diatur.
Kadang saat Love ingin berbicara, Abang sedang sibuk.
Kadang saat Abang ingin bercerita, Love sudah terlelap.
Mereka seringkali berada di waktu yang berbeda.
Di momen yang tidak pernah benar-benar bersamaan.
Namun anehnya, mereka tidak pernah merasa kehilangan.
Karena setiap kali waktu mempertemukan mereka, walau hanya sebentar, semuanya terasa cukup.
Suatu malam, hujan turun perlahan di luar jendela kamar Love.
Ia duduk bersandar, memeluk lututnya, dengan ponsel di genggaman.
Tidak ada pesan chat sejak sore tadi.
Tidak ada kabar.
Jam terus berjalan.
Satu jam.
Dua jam.
Hingga akhirnya, rasa rindu berubah menjadi sunyi yang sedikit menyesakkan.
Love tidak marah.
Ia hanya diam.
Karena ia tahu, mencintai Abang berarti memahami bahwa tidak semua waktu bisa ia miliki.
Ia membuka galeri ponselnya. Tidak ada foto Abang di sana.
Hanya tangkapan layar percakapan, rekaman suara singkat, dan kata-kata yang pernah mereka tukar.
Namun itu cukup.
Lebih dari cukup.
Karena bagi Love, Abang tidak perlu terlihat untuk terasa nyata.
Di sisi lain, Abang baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.
Waktu sudah larut. Tubuhnya lelah, namun pikirannya langsung menuju satu hal.
Ia meraih ponselnya dengan cepat.
Melihat percakapan terakhir mereka.
Hatinya sedikit terasa sesak.
Ia tahu, ia terlambat lagi.
"Love, maaf ya…"
Pesan itu terkirim.
Tidak lama kemudian, balasan datang.
"Enggak apa-apa, Bang."
Jawaban sederhana.
Terlalu sederhana.
Dan justru itu yang membuat Abang merasa lebih bersalah.
“Love nunggu, ya?” tulisnya lagi.
Beberapa detik kemudian,
"Iya. Tapi Love ngerti."
Abang menutup mata sejenak.
Kesabaran itu… bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa.
Malam itu, mereka terhubung lewat untaian kata-kata.
Tidak ada wajah.
Tidak ada tatapan.
Hanya kata-kata yang mengalir pelan, mengisi ruang kosong yang selama ini ada.
“Love…”
“Iya, Bang…”
“Terima kasih ya, sudah sabar.”
Love tersenyum kecil, meski Abang tidak bisa melihatnya.
“Love sabar bukan karena terbiasa nunggu, Bang…”
Jeda sejenak.
“Tapi karena Love tahu, yang ditunggu itu memang pantas.”
Hening.
Namun hening itu penuh arti.
Abang menahan napasnya.
“Abang enggak mau sia-siakan itu,” jawabnya pelan. “Abang serius sama Love.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun cukup untuk menguatkan semua yang selama ini mereka jalani.
Hari demi hari berlalu.
Tidak ada perubahan besar.
Mereka tetap di dua dunia yang berbeda.
Tetap berkomunikasi lewat pesan singkat.
Tetap menunggu waktu yang tepat untuk saling menyapa.
Namun di balik semua itu, cinta mereka tumbuh dengan cara yang tidak terlihat.
Lebih kuat.
Lebih dalam.
Lebih tenang.
Love belajar bahwa cinta bukan tentang selalu bersama.
Melainkan tentang tetap tinggal, meski jarak mencoba memisahkan.
Abang belajar bahwa cinta bukan hanya perasaan.
Melainkan tanggung jawab untuk menjaga hati seseorang, bahkan ketika tidak bisa hadir di sampingnya.
Suatu malam, Abang mengirim pesan yang sedikit berbeda.
“Love…”
“Iya, Bang?”
“Jangan pergi, ya.”
Love tersenyum, matanya terpejam.
“Love enggak ke mana-mana.”
Di antara waktu yang terbagi, dan waktu yang menunggu, Mereka mungkin tidak memiliki kebersamaan yang utuh.
Tidak memiliki kenangan dalam bentuk nyata.
Namun mereka memiliki sesuatu yang jauh lebih berarti, Kesetiaan yang diuji oleh jarak.
Kesabaran yang tumbuh dari waktu.
Dan cinta… yang tetap hidup, meski hanya disampaikan lewat layar.
Hingga suatu hari nanti, Saat waktu tidak lagi menjadi penghalang, dan jarak bukan lagi alasan, Love dan Abang akan bertemu.
Bukan sebagai dua orang asing yang pernah saling menunggu.
Melainkan sebagai dua hati yang berhasil bertahan,di antara waktu yang terbagi,
dan waktu yang terus menunggu.
Romansa Nath_Love
290426