Salju turun di tengah bulan Maret. Seharusnya, bunga sakura sudah mulai mengintip dari balik kuncupnya, menjanjikan warna merah muda yang hangat di sepanjang jalan Seoul. Namun, tahun ini musim dingin seolah enggan berpamitan. Ia mencengkeram kota dengan udara beku yang menusuk hingga ke tulang.
Cha Eunwoo berdiri di peron stasiun kereta api yang sepi. Napasnya membentuk uap putih di udara. Ia menatap rel kereta yang membentang tanpa ujung, tertutup lapisan tipis es yang berkilau di bawah lampu temaram. Di telinganya, melodi lembut "Spring Day" mengalun dari pelantun musik sakunya, mengisi kekosongan yang selama ini ia bawa di dalam dada.
"Bogo sipda... (Aku merindukanmu...)”
Suara gumaman itu hampir tak terdengar, terkubur oleh deru angin. Eunwoo merapatkan syal wol berwarna biru tua di lehernya—syal yang dulu sering dipinjam oleh seseorang.
Seseorang itu adalah Moon Jaeran.
Eunwoo teringat bagaimana Jaeran selalu menjadi matahari di tengah musim dinginnya. Jaeran bukanlah tipe orang yang tenang; ia adalah energi yang meledak-ledak, tawa yang memenuhi ruangan, dan tangan yang selalu merangkul bahu Eunwoo saat ia merasa dunia terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Dulu, mereka sering menghabiskan waktu di atap gedung asrama, berbagi satu cup ramyeon instan sambil menatap langit malam.
"Eunwoo-ya," panggil Jaeran suatu malam, mulutnya penuh dengan mi. "Kalau suatu saat nanti kita terpisah, kau harus tetap menjadi orang yang paling bersinar, ya? Jangan biarkan wajah tampanmu ini layu karena sedih."
Eunwoo hanya tertawa kecil, mendorong kepala Jaeran menjauh. "Kenapa bicara seperti itu? Kita akan selalu bersama. Kau tidak akan bisa lepas dariku secepat itu."
Namun, takdir memiliki cara yang kejam untuk membuktikan kata-kata manusia itu salah.
Kini, Jaeran terasa seperti debu kecil yang melayang di udara. Dekat, namun tak bisa digenggam. Tampak, namun tak bisa disentuh. Seperti lirik lagu yang sedang ia dengar: *Bagaikan debu kecil yang beterbangan di udara, jika aku adalah salju yang turun, mungkin aku bisa mencapaimu sedikit lebih cepat.*
Eunwoo melangkah masuk ke dalam kereta yang baru saja tiba. Gerbong itu kosong. Ia duduk di dekat jendela, menyandarkan kepalanya pada kaca yang dingin. Kereta mulai bergerak, meninggalkan stasiun yang sepi. Di luar, pemandangan kota yang membeku perlahan memudar, digantikan oleh hamparan ladang yang memutih.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali mereka tertawa bersama? Satu tahun? Dua tahun? Bagi Eunwoo, waktu seolah berhenti di hari Jaeran memutuskan untuk pergi jauh demi mengejar mimpi yang berbeda, atau mungkin demi menyembuhkan luka yang tak pernah ia ceritakan pada Eunwoo.
Mereka tidak bertengkar. Tidak ada kata-kata kasar yang terucap. Hanya ada sebuah pesan singkat di suatu pagi musim semi yang lalu: *"Maaf, Eunwoo-ya. Aku harus pergi sebentar untuk menemukan diriku lagi. Tunggu aku sampai bunga sakura gugur."*
Namun, sakura sudah gugur berkali-kali, dan Jaeran belum juga kembali.
Eunwoo memejamkan mata. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat Jaeran. Jaeran yang sedang berlari di pantai, Jaeran yang memetik senar gitar dengan jemari yang kasar namun lihai, dan Jaeran yang menatapnya dengan tatapan "kita-akan-baik-baik-saja" yang khas.
"Seberapa lama lagi aku harus menunggu? Berapa banyak malam tak tidur yang harus kulewati? Sampai aku bisa melihatmu? Sampai aku bisa menemuimu?”
Persahabatan mereka lebih dari sekadar teman biasa. Itu adalah ikatan bromance yang tumbuh dari kesulitan yang mereka lalui bersama sebagai trainee, dari air mata yang tumpah saat mereka gagal dalam audisi, hingga pelukan erat saat salah satu dari mereka akhirnya berhasil. Jaeran adalah rumah bagi Eunwoo, dan tanpa rumah, Eunwoo merasa seperti pengembara yang tersesat di tengah badai salju.
Kereta melaju semakin cepat. Eunwoo melihat bayangannya sendiri di kaca jendela. Wajahnya terlihat lelah. Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan segalanya, tapi bagi Eunwoo, waktu hanya membuat lubang di hatinya semakin lebar.
Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah foto polaroid yang sudah agak menguning di bagian pinggirnya. Di foto itu, ia dan Jaeran berpose konyol dengan coretan spidol di pipi mereka. Jaeran tersenyum lebar hingga matanya menyipit, sementara Eunwoo tertawa di sampingnya.
"Kau berjanji untuk kembali saat musim semi, Jaeran-ah," bisik Eunwoo pada foto itu. "Tapi kenapa di sini masih terasa seperti musim dingin yang abadi?"
Setiap kali Eunwoo mencoba melupakan, kenangan itu justru datang menyerbu seperti ombak. Ia ingat bau parfum Jaeran yang seperti kayu pinus, ia ingat cara Jaeran mengetuk pintu kamarnya dengan irama tertentu agar Eunwoo tahu itu dia, dan ia ingat janji mereka untuk pergi ke laut bersama saat salju mencair.
"Kau tahu itu, kau adalah sahabat terbaikku. Pagi akan datang lagi. Karena tidak ada kegelapan, tidak ada musim yang abadi.”
Eunwoo tahu itu benar secara logika. Musim akan berganti. Salju akan mencair. Namun, hatinya tetap terjebak dalam tanggal yang sama, di bulan yang sama, di saat Jaeran melepaskan genggamannya.
Kereta berhenti di sebuah stasiun kecil di pinggiran kota yang jauh dari keramaian Seoul. Eunwoo turun, meski ia sendiri tidak tahu mengapa ia memilih stasiun ini. Mungkin karena tempat ini terlihat seperti tempat di mana waktu berhenti bergerak.
Ia berjalan menyusuri trotoar yang licin. Di ujung jalan, terdapat sebuah pohon besar yang masih gundul tanpa daun. Di bawah pohon itu, ada sebuah bangku kayu tua.
Eunwoo membeku.
Seorang pria duduk di sana. Ia mengenakan mantel cokelat panjang dan topi rajut yang menutupi telinganya. Pria itu sedang menatap langit, membiarkan butiran salju jatuh di wajahnya.
Jantung Eunwoo berdegup kencang. Ritmenya tidak beraturan, seolah ingin melompat keluar. Postur tubuh itu, cara ia menyilangkan kakinya, dan getaran yang terpancar darinya... Eunwoo mengenalnya. Ia mengenalinya bahkan jika pria itu tertutup salju sekalipun.
"Moon Jaeran?"
Suara Eunwoo pecah.
Pria itu menoleh perlahan. Matanya membelalak kaget. Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar. Tidak ada suara angin, tidak ada suara kereta, hanya ada detak jantung yang saling bersahutan di udara dingin.
Jaeran berdiri dengan kaku. "Eunwoo? Bagaimana... bagaimana kau bisa ada di sini?"
Eunwoo tidak menjawab. Ia berlari. Ia tidak peduli jika ia terpeleset di atas es atau jika orang-orang menganggapnya gila. Ia menabrak Jaeran dengan pelukan yang begitu erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, pria itu akan menguap menjadi asap.
"Kau jahat," bisik Eunwoo, suaranya teredam di bahu Jaeran. "Kau bilang hanya sebentar. Kau bilang tunggu sampai sakura gugur. Tapi kau tidak pernah datang."
Jaeran terdiam, tangannya perlahan naik dan membalas pelukan Eunwoo tak kalah erat. Eunwoo bisa merasakan tubuh Jaeran bergetar—dia sedang menangis.
"Maafkan aku, Eunwoo-ya," suara Jaeran serak dan penuh penyesalan. "Aku tersesat. Aku pikir jika aku menjauh, aku tidak akan menjadi beban bagimu. Tapi aku salah. Ternyata hidup tanpa cahayamu jauh lebih dingin daripada musim dingin manapun."
Mereka duduk di bangku kayu itu selama berjam-jam, membiarkan salju menyelimuti bahu mereka. Jaeran bercerita tentang perjalanannya, tentang ketakutannya, dan tentang bagaimana ia setiap hari mendengarkan lagu yang sama dengan Eunwoo untuk merasa dekat.
"Aku selalu ingin menghubungimu," kata Jaeran sambil menatap tangannya yang memerah karena dingin. "Tapi aku takut kau sudah membenciku. Aku takut tempatku di sampingmu sudah diisi oleh orang lain."
Eunwoo menggeleng kuat. "Tidak akan pernah. Kau adalah bagian dari diriku, Jaeran-ah. Seperti musim yang tidak lengkap tanpa salah satu di antaranya. Bagiku, kau adalah musim semiku."
Jaeran tersenyum untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu kembali. Senyum itu—senyum yang selalu mampu mencairkan kebekuan di hati Eunwoo.
Tiba-tiba, sebuah butiran lembut jatuh di hidung Eunwoo. Itu bukan salju yang tajam dan dingin. Itu sesuatu yang lebih ringan, berwarna merah muda pucat.
Eunwoo menengadah. Di dahan pohon yang tadinya gundul, satu dua kuncup bunga mulai mekar. Angin hangat bertiup dari arah selatan, membawa aroma tanah yang basah dan kehidupan yang baru.
Musim dingin telah berakhir.
"Tunggu sedikit lagi. Hanya beberapa malam lagi. Aku akan datang menjemputmu. Aku akan datang untukmu.”
Lirik lagu itu kini terasa nyata. Penantian panjang itu tidak sia-sia. Kebekuan yang menyiksa itu akhirnya menyerah pada hangatnya pertemuan.
Eunwoo berdiri dan mengulurkan tangannya pada Jaeran. Jaeran menatap tangan itu, lalu menatap wajah Eunwoo yang kini memancarkan kebahagiaan yang tulus. Ia menyambut tangan itu, berdiri, dan mereka mulai berjalan berdampingan menuju stasiun.
"Jadi, apa rencanamu sekarang?" tanya Eunwoo.
"Entahlah," jawab Jaeran santai, menyandarkan kepalanya di bahu Eunwoo saat mereka berjalan (gaya khasnya yang sangat dirindukan Eunwoo). "Mungkin mulai dengan makan ramyeon di atap asrama? Aku sangat merindukan ramyeon buatanmu."
Eunwoo tertawa, suara yang murni dan jernih, bergema di sepanjang jalan yang kini mulai dihiasi kelopak sakura yang berguguran. "Ramyeon buatanku? Kau bahkan selalu memakan bagianku!"
"Itu karena milikmu selalu terasa lebih enak," sahut Jaeran dengan cengiran lebarnya.
Mereka melangkah masuk ke dalam gerbong kereta menuju Seoul. Kali ini, Eunwoo tidak lagi sendirian menatap jendela. Ada Jaeran di sampingnya, bercerita tentang masa depan, tentang lagu-lagu yang ingin mereka ciptakan bersama, dan tentang bagaimana mereka tidak akan pernah membiarkan musim dingin memisahkan mereka lagi.
Di luar, matahari mulai terbenam, menyinari kota dengan warna emas yang hangat. Salju yang tersisa di pinggir jalan mulai mencair, mengalir menjadi aliran air kecil yang memberi makan bagi bunga-bunga yang akan segera mekar sempurna.
Eunwoo tahu, meskipun badai mungkin akan datang lagi di masa depan, ia tidak akan takut. Selama ada Jaeran di sisinya, setiap musim akan menjadi musim semi yang indah.
Karena pada akhirnya, tidak ada kegelapan yang abadi. Tidak ada musim dingin yang tak berujung.
Sakura sedang mekar. Dan sahabatnya telah pulang.