Di antara aroma kertas lembap dan debu yang menari di bawah sela jendela Perpustakaan Nasional, ๐ฆ๐ฎ๐๐๐ฟ๐ฎ ๐ช๐ฎ๐ป๐๐ผ alias ๐๐๐ฎ๐ป merasa seperti sedang mengintip ke dalam nyawa orang lain. Jemarinya yang dibungkus sarung tangan lateks dengan hati-hati memisahkan lembaran surat yang terselip di dalam buku ๐๐ฐ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ต๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ข terbitan lama.
Itu adalah surat ke-12 yang ia temukan bulan ini. Semuanya ditulis dengan tinta sepia yang mulai memudar, ditujukan untuk sosok yang sama: ๐ผ. (huruf '๐ผ' kecil, yang dibaca dengan kelembutan yang aneh setiap kali Isan melafalkannya dalam hati).
"๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฐ., ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช 40 ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ญ๐ต๐ฆ ๐ต๐ณ๐ฆ๐ฎ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ญ๐ช๐ด ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ญ๐ข ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช..."
Isan tertegun. Di dunia tempat ia tinggalโdunia dengan notifikasi instan dan cinta yang habis dalam sekali swipeโketekunan tanpa pamrih ini terasa seperti sihir hitam.
Suara bel pintu perpustakaan memecah lamunannya. ๐๐ถ๐บ๐ฎ๐ ๐๐ฟ๐บ๐ฎ๐ป , tukang pos langganan yang selalu ceria, masuk dengan seragam oranye yang agak pudar.
"Mas Isan, ada paket kiriman alat restorasi lagi?" tanya Dimas sambil meletakkan tumpukan surat di meja depan.
Isan menatap Dimas, lalu beralih ke surat di tangannya. "Dimas, kamu pernah tidak... merasa seolah-olah kamu sedang mengantar pesan yang alamatnya bukan lagi sebuah rumah, tapi waktu?"
Dimas mengerutkan kening, tertawa kecil. "Waduh, Mas. Saya cuma antar surat ke alamat yang tertera. Kalau orangnya sudah tidak ada, ya saya bawa balik. Tapi... ada satu rumah di ujung jalan buntu dekat taman kota. Setiap kali saya antar surat ke sana, seorang nenek hanya bilang: 'Bukan ini yang saya tunggu'. Sudah sepuluh tahun dia bilang begitu."
Jantung Isan berdegup kencang. Ia mencatat alamat yang disebutkan Dimas.
Malam itu, Isan tidak pulang. Ia membedah surat-surat itu, mencari petunjuk. Di surat terakhir yang ia temukan, ada sebuah kalimat yang membuatnya menggigil: "๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ด๐ถ๐ณ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช, ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฃ๐ถ ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ."
Isan menyadari sesuatu. Inisial ๐ผ. bukan sekadar nama. Di salah satu sudut surat, ada bekas tekanan pena yang membentuk lingkaran sempurna, sebuah lubang kecil. Itu bukan huruf. Itu adalah simbol kehampaan... atau mungkin sebuah cincin yang tak pernah tersemat.
Besoknya, Isan berdiri di depan rumah yang dikatakan Dimas. Seorang wanita tua dengan mata yang masih menyimpan kilatan masa muda membukakan pintu.
"Saya Sastra Wanto, dari perpustakaan," ucapnya lirih sambil menyodorkan amplop tua yang sudah ia restorasi dengan sempurna.
Wanita itu melihat inisial ๐ผ. di amplop tersebut. Tangannya gemetar, tapi ia tidak membukanya. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Kamu terlambat, anak muda," bisiknya. "Atau mungkin... kamu datang tepat waktu untuk dirimu sendiri."
"Apakah Anda ๐ผ.?" tanya Isan.
Wanita itu menggeleng pelan. "Namaku Oli Sarmini. Tapi dia selalu memanggilku dengan '๐ผ' kecil, karena katanya, aku adalah awal dan akhir dari segala kalimatnya. Tapi surat ini... surat ini bukan untukku lagi. Simpanlah."
Isan pulang dengan kebingungan yang menyesakkan. Saat ia kembali ke meja kerjanya, ia melihat Dimas sedang menunggunya dengan amplop baru yang terlihat sangat modern, namun ditulis dengan gaya yang sangat ia kenali.
"Ini baru sampai tadi sore untuk Mas," kata Dimas dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Isan membukanya. Isinya hanya satu kalimat:
"๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ, ๐๐ข๐ด๐ต๐ณ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ต๐ฐ. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ค๐ข๐ณ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฐ.-๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ."
Isan menoleh ke arah jendela. Matahari sore jatuh tepat di atas tumpukan surat kuno, membuat debu-debu di atasnya terlihat seperti butiran emas. Ia baru sadar, cinta bukan tentang sampai atau tidaknya sebuah pesan, tapi tentang keberanian untuk terus menuliskannya meski tahu dunia mungkin takkan pernah membalas.
Isan akhirnya mengambil sebuah buku puisi tua yang sampulnya sudah mengelupas. Di halaman paling belakang, ia menyelipkan secarik kertas yang baru saja ia tulis.
Ia tidak menulis untuk mantan kekasihnya, juga bukan untuk Oli Sarmini. Ia menulis untuk siapa saja yang nanti akan merasa kesepian di tengah bisingnya dunia digital.
"Dim," panggil Isan tanpa mengalihkan pandangan dari rak buku. "Kamu tahu kenapa surat-surat ini terasa lebih nyata daripada pesan di ponselmu?"
Dimas yang sedang merapikan tas posnya menoleh. "Kenapa, Mas?"
"Karena untuk menulis ini, seseorang harus menyediakan waktu, duduk diam, dan membiarkan jemarinya kotor oleh tinta. Ada bagian dari nyawa yang tertinggal di kertas ini. Sementara di ponsel... kita hanya meninggalkan jejak jempol yang bisa dihapus dalam sedetik."
Dimas terdiam, lalu perlahan memasukkan ponselnya ke saku. Ia melihat Isan mendorong buku itu kembali ke sela-sela rak yang gelap, membiarkannya kembali menjadi rahasia yang menunggu untuk 'dihidupkan' kembali.
"Jadi," bisik Dimas. "Siapa yang bakal nemu suratmu itu, Mas?"
Isan tersenyum tipis, matanya menatap debu emas yang melayang di udara. "Mungkin orang yang sama rusaknya denganku. Atau mungkin... kamu, empat puluh tahun dari sekarang."
Mereka berdua berjalan keluar, meninggalkan perpustakaan yang mulai gelap, sementara di dalam sana, surat-surat itu tetap bernapas dalam diam, menjaga sisa-sisa romansa yang menolak untuk mati.
Isan menarik napas panjang, lalu menuliskan kalimat itu dengan tangan yang sedikit bergetar, memastikan setiap lengkungan hurufnya membawa beban emosi yang jujur:
"๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฃ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฏ๐บ๐ช:
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ-๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ. ๐๐ถ๐ฏ๐ช๐ข ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ค๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ด ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ถ. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ, ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ต๐ถ๐ญ๐ช๐ด๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ญ: ๐๐ข๐ฎ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช."
Ia tidak membubuhkan nama. Hanya inisial ๐. kecil di sudut bawah, sebuah gema dari cara sang penulis misterius menyapa ๐ผ. selama empat dekade.
Isan menutup buku itu dengan bunyi klik pelan yang memuaskan. Saat ia melangkah keluar bersama Dimas, ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Cinta modern mungkin ringkih dan digital, tapi malam ini, ia telah membangun sebuah jembatan dari tinta yang tidak akan bisa dihapus oleh sinyal mana pun.
"Mas," celetuk Dimas saat mereka sampai di parkiran. "Kalau nanti aku yang nemu buku itu pas sudah tua, aku bakal traktir kamu kopi paling mahal."
Isan tertawa, suara tawanya memecah keheningan senja. "Deal, Dim. Tapi pastikan kopinya jangan kopi instan."
...
Beberapa hari kemudian, rasa penasaran menggigit hati Isan. Ia kembali ke rumah itu, membawa niat untuk mengenal lebih jauh tentang kisah cinta agung tersebut. Namun, saat ia mengetuk pintu, rumah itu tampak kosong. Seorang tetangga lewat dan memberitahu bahwa wanita yang mengaku bernama Oli itu sudah pindah entah ke mana sejak semalam.
Isan terkejut. Ia mencoba mencari jejak sang penulis surat, berharap bisa mempertemukan kisah itu pada akhirnya. Namun, penyelidikannya membawa pada sebuah kebenaran yang jauh lebih pilu.
Setelah menelusuri arsip lama dan catatan kependudukan, ia menemukan fakta pahit: Pengirim surat-surat itu memang sudah tiada dunia lebih dari sepuluh tahun lalu. Namun, karena ia hidup menyendiri dan tak memiliki keluarga, makamnya tak ada yang tahu pasti. Ia hilang ditelan waktu, meninggalkan hanya tinta dan rindu yang tak beralamat.
Dan Oli... wanita tua itu bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah seorang yang pandai bermain peran, yang selama bertahun-tahun menikmati perhatian dan rasa iba dari orang-orang yang datang membawa surat. Ia tahu ia bukan '๐ผ'.", tapi ia memilih membiarkan dirinya menjadi pelabuhan sementara bagi rindu yang tak punya tujuan.
Isan berdiri terpaku di bawah langit mendung. Surat-surat itu ditulis dengan hati yang tulus, oleh seseorang yang sudah tiada, untuk seseorang yang tak pernah ada, dan diterima oleh seseorang yang hanya berpura-pura.
Namun anehnya, rasa sedih itu justru berubah menjadi ketenangan. Meskipun pengirimnya sudah tiada dan penerimanya bohong, kata-kata itu tetap nyata. Cinta yang tertulis di kertas itu tidak sia-sia, karena akhirnya, cinta itu menemukan rumahnya di hati Isan sendiri.
Dan di suatu tempat di tanah yang tak bernama, sang penulis mungkin akhirnya bisa tenang. Pesannya telah sampai, walau bukan pada tangan yang ia harapkan, tapi pada jiwa yang mampu mengerti.