Di tengah belantara hutan raya Pulau Jawa yang rindang dan damai, jauh dari keramaian dunia manusia, hidup sekelompok makhluk halus yang lembut dan penuh kasih. Mereka adalah Peri Hutan, makhluk penjaga keseimbangan alam yang bertubuh mungil, bersayap bening bagaikan daun muda, dan memiliki kekuatan untuk berbicara dengan segala makhluk serta menumbuhkan tanaman. Tokoh utama kita adalah Peri Buah Biru, yang akrab dipanggil Blueberry. Ia adalah peri yang ceria, cerdas, dan penuh semangat untuk menciptakan keindahan di tempat tinggalnya. Bersama dua sahabat karibnya—Peri Bunga Cemara (Cery) yang lembut dan pandai merangkai keindahan, serta Peri Anggur Ungu (Grape) yang kuat dan pandai mengolah kayu—mereka bersatu hati membangun sebuah tempat tinggal impian yang tak tertandingi keindahannya: Istana Pohon Tinggi yang berdiri megah di atas dahan Pohon Beringin Raksasa yang berusia ribuan tahun.
Rumah pohon istimewa ini dibangun dari dua jenis kayu pilihan: Kayu Jati Biasa yang kokoh bagaikan perisai, dan Kayu Jati Belanda Berwarna Hitam Mengkilap yang anggun bagaikan permata. Gaya bangunannya merupakan perpaduan sempurna dari Keharmonisan Rumah Korea, Kehalusan Rumah Jepang, dan Kemegahan Rumah Inggris. Bangunan ini berlantai tiga, dilengkapi dengan ruang pemandian raksasa berisi bak rendam sebesar kolam renang pribadi. Di sanalah ketiga sahabat peri ini sering berkumpul, bersuka ria, dan menghabiskan waktu berharga bersama dalam keharuman bunga alam semesta.
HATI YANG MENGINGINKAN RUMAH BERSAMA
Di pagi hari yang cerah, ketika sinar matahari menembus celah dedaunan hutan, Blueberry terbang melayang-layang di atas dahan Pohon Beringin Raksasa. Ia memandang sekelilingnya dengan pandangan penuh kerinduan. Sudah lama ia bermimpi memiliki tempat tinggal yang nyaman untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. "Cery, Grape, kemarilah!" seru Blueberry dengan suara lembut yang berhembus bagaikan angin sepoi. Kedua sahabatnya segera terbang mendekat, sayap mereka bergerak pelan menimbulkan bunyi yang halus. "Ada apa, Blueberry? Wajahmu tampak penuh harapan," tanya Cery sambil tersenyum manis. Blueberry menunjuk ke atas puncak Pohon Beringin yang menjulang tinggi ke langit. "Sahabatku, aku ingin kita membangun rumah pohon bersama. Sebuah tempat yang menjadi milik kita bersama, tempat kita bisa tidur, makan, dan bersuka ria kapan saja kita mau." Mendengar ucapan itu, mata Grape berbinar-binar. "Gagasan yang sangat indah! Pohon Beringin ini kuat sekali, ia sanggup menopang apa saja yang kita bangun. Kita akan menciptakan rumah terindah di seluruh penjuru hutan raya!" Maka sejak saat itu, hati ketiga peri itu bersatu dalam satu tekad: membangun tempat tinggal impian mereka.
MERENCANAKAN BENTUK RUMAH IMPIAN
Selama tujuh hari tujuh malam, ketiga peri itu duduk melingkar di atas batu besar sambil merencanakan bentuk rumah pohon mereka. Blueberry yang suka keindahan ketimuran mengusulkan: "Bagaimana jika kita meniru kelembutan Rumah Jepang yang banyak menggunakan ruang terbuka dan penghubung alami?" Cery menambahkan dengan semangat: "Aku sangat menyukai gaya Rumah Korea yang rapi dan penuh dengan ruang bersila yang nyaman untuk berkumpul!" Lalu Grape yang pernah melihat bangunan dari negeri jauh berkata: "Dan kita tidak boleh lupa dengan kemegahan Rumah Inggris yang memiliki atap tinggi dan ruangan yang luas!" Maka mereka sepakat: rumah pohon mereka akan menjadi Perpaduan Tiga Gaya Agung. Lalu mereka memutuskan bahan bangunan: "Kita akan menggunakan Kayu Jati Biasa sebagai penyangga utama karena kekokohannya," kata Grape yang ahli dalam hal kayu. "Dan kita akan memperindah dinding dan lantai dengan Kayu Jati Belanda Berwarna Hitam Mengkilap yang jarang dimiliki peri lain!" seru Cery dengan gembira. Mereka juga sepakat bahwa rumah itu akan berlantai tiga, dan di lantai paling bawah akan ada ruang pemandian yang sangat besar untuk bersenang-senang.
MEMILIH POHON TEMPAT BERDIRINYA ISTANA
Pemilihan tempat menjadi hal terpenting bagi ketiga peri. Mereka terbang mengelilingi seluruh hutan raya, memeriksa setiap pohon tua yang ada. Ada Pohon Mahoni yang rindang, Pohon Cemara yang tinggi, namun tidak ada yang sekuat dan sebesar Pohon Beringin Raksasa yang tumbuh di tengah hutan. Akarnya menjuntai bagaikan jubah raksasa, dahannya menjulang sampai menembus awan, dan batangnya sebesar sepuluh lingkaran peri bergandengan tangan. "Inilah tempatnya!" seru Blueberry sambil mencium kulit pohon yang halus. "Pohon Beringin ini telah menjaga hutan ini selama ribuan tahun, ia akan menjadi induk rumah kita yang setia." Pohon Beringin pun bergoyang-goyang dengan lembut seolah menyetujui keinginan peri-peri kecil itu. "Anak-anak hutan, gunakanlah dahan dan batangku sebaik-baiknya. Aku bangga bisa menjadi tempat tinggal makhluk suci seperti kalian," bisik suara pohon yang dalam dan menyejukkan hati.
MENGUMPULKAN BAHAN KAYU PILIHAN
Keesokan harinya, mereka memulai perjalanan untuk mengumpulkan bahan bangunan. Grape memimpin perjalanan ke kawasan hutan timur tempat tumbuhnya Kayu Jati Biasa. Kayu ini berwarna coklat keemasan, kuat bagaikan tulang belulang raksasa, dan tahan terhadap segala cuaca. Dengan kekuatan peri yang dimilikinya, Grape memanggil kayu-kayu itu untuk tumbuh dan terpotong dengan rapi tanpa melukai induk pohonnya. Sementara itu, Blueberry dan Cery terbang ke kawasan hutan barat yang tertutup kabut. Di sana tumbuhlah Kayu Jati Belanda Berwarna Hitam Mengkilap, kayu langka yang hanya tumbuh di tanah yang disiram embun bunga kenanga. Warna kayunya hitam pekat bagaikan malam yang cerah, dan permukaannya halus bagaikan cermin air tenang. "Betapa indahnya kayu ini," gumam Cery sambil membelai permukaan kayu yang berkilau terkena sinar matahari. Mereka mengumpulkan kayu-kayu itu dengan penuh hormat, karena kayu langka ini adalah anugerah alam yang berharga.
MENATA DASAR RUMAH DI DAHAN BERINGIN
Setelah semua bahan terkumpul, saatnya meletakkan dasar rumah pohon. Mereka memilih dahan terkuat yang berada setinggi seratus pohon kelapa dari permukaan tanah. Dahan ini lebarnya bagaikan lapangan luas, sempurna untuk menopang bangunan tiga lantai. Grape yang paling kuat di antara mereka bekerja keras menancapkan tiang penyangga dari Kayu Jati Biasa ke dalam celah-celah dahan. "Tiang ini harus tertanam kuat agar rumah kita tidak goyah walau diterpa angin kencang sekalipun," ujar Grape sambil menggerakkan tangannya dengan gerakan terampil. Blueberry dan Cery membantu menempelkan lem perekat alami dari getah pohon Karet Hutan yang lengket dan kuat. Selama tiga hari mereka bekerja keras, hingga akhirnya dasar rumah terpasang kokoh di atas dahan Beringin. Ketika mereka berdiri di atasnya, mereka merasa seolah berdiri di atas awan yang melayang di langit.
MEMBANGUN LANTAI PERTAMA - RUANG BERKUMPUL
Pembangunan dimulai dari lantai paling bawah. Lantai Pertama dirancang sebagai Ruang Berkumpul Utama yang mengadopsi gaya Rumah Korea. Lantainya ditutupi dengan papan Kayu Jati Belanda Hitam yang dipasang rapi, halus, dan tidak ada celah sedikitpun. Tidak ada kursi dan meja tinggi seperti rumah manusia, melainkan lantai yang dihaluskan sehingga nyaman untuk duduk bersila. Di tengah ruangan dibuatkan tempat duduk dari anyaman daun Pisang Hutan yang lembut. Dinding ruangan dibuat rendah sesuai gaya Timur, dengan jendela lebar yang menghadap ke segala penjuru hutan. "Di sini kita bisa duduk bersama sambil menikmati pemandangan hutan setiap hari," kata Cery sambil menghias sudut ruangan dengan bunga-bunga liar. Langit-langit ruangan dibuat tinggi mengikuti gaya Rumah Inggris, memberikan kesan lapang dan megah meskipun ukurannya untuk makhluk peri.
MEMBANGUN LANTAI KEDUA - RUANG TIDUR DAN BERISTIRAHAT
Naik ke lantai kedua, ketiga peri menerapkan Gaya Rumah Jepang yang sederhana namun indah. Ruangan ini dibagi menjadi tiga bagian untuk tempat tidur masing-masing peri. Dindingnya terbuat dari bilah Kayu Jati Biasa yang disusun rapi, dengan tirai dari serat tanaman kapas hutan yang berwarna putih bersih. Tempat tidur mereka terbuat dari anyaman daun Kelapa Muda yang empuk bagaikan kasur awan, ditutupi dengan selimut dari bulu burung Merpati Hutan yang halus dan hangat. Setiap ruang tidur memiliki jendela kecil yang menghadap ke arah matahari terbit. "Setiap pagi, sinar matahari akan masuk menyapa kita saat kita bangun tidur," kata Blueberry sambil menempatkan hiasan bunga di samping tempat tidurnya. Di tengah lantai kedua ada lorong penghubung yang terbuka ke udara, sehingga angin hutan segar selalu masuk ke dalam ruangan.
MEMBANGUN LANTAI KETIGA - RUANG PENGAMATAN LANGIT
Lantai paling atas dirancang dengan perpaduan Gaya Inggris dan Korea yang paling megah. Atapnya dibuat tinggi dan melengkung bagaikan mahkota raja, terbuat dari susunan daun Rumbia Hutan yang tebal dan kedap air. Di tengah lantai ketiga dibuatkan ruangan terbuka tanpa dinding penuh, hanya ada pagar dari ranting pohon yang dihias dengan bunga menjalar. Tempat ini disebut Ruang Pengamatan Langit. Dari sini, ketiga peri bisa melihat seluruh penjuru hutan raya, sampai ke ujung cakrawala yang berpadu dengan langit. Pada malam hari, mereka bisa duduk di sini sambil menatap bintang-bintang berkelap-kelip di langit. "Inilah tempat terindah di seluruh alam semesta," seru Grape sambil membentangkan sayapnya menikmati angin malam. Lantai ruangan ini seluruhnya terbuat dari Kayu Jati Belanda Hitam yang berkilau memantulkan cahaya bulan.
PEMBUATAN TANGGA PENGHUBUNG ANTAR LANTAI
Untuk menghubungkan ketiga lantai, mereka membuat tangga yang unik dan indah. Tiang penyangga tangga dari Kayu Jati Biasa yang kokoh, sedangkan anak tangganya dari Kayu Jati Belanda Hitam yang halus. Tangga ini dibuat melengkung mengikuti alur dahan pohon, tidak lurus kaku seperti tangga manusia. Di samping tangga dipasang pagar dari ranting pohon Mawar Hutan yang berduri halus agar aman saat menaiki dan menuruni tangga. "Kita harus membuat tangga ini nyaman untuk kaki kita yang mungil," kata Cery sambil mengatur jarak antar anak tangga agar pas dengan ukuran tubuh peri. Tali pengikat tangga dibuat dari serat pohon Mendong yang kuat dan lentur. Hasilnya, tangga penghubung itu terlihat bagaikan jalur emas hitam yang memutar naik ke langit.
PEMBUATAN BAK RENDAM RAKSASA - HATI RUMAH KITA
Bagian yang paling ditunggu-tunggu oleh ketiga peri adalah Ruang Pemandian Raksasa yang terletak di bagian belakang Lantai Pertama. Di sini mereka menciptakan sebuah bak rendam sebesar kolam renang peri yang luasnya bisa menampung dua puluh orang peri sekaligus. Dinding dan dasar bak rendam seluruhnya dilapisi dengan lempung putih yang halus dan kedap air. "Kita akan membuat bak rendam ini menjadi tempat paling nyaman di rumah kita," seru Blueberry dengan mata berbinar-binar. Grape bekerja keras mengukur ukuran bak rendam agar kedalamannya pas: cukup dalam untuk berenang dan cukup dangkal untuk duduk berendam. Keliling bak rendam dihias dengan ubin kecil dari batu kristal hutan yang berwarna-warni, menambah keindahan ruangan pemandian.
MENGALIRKAN AIR SUMBER ALAMI KE DALAM RUMAH
Air untuk bak rendam tidak sembarangan air. Ketiga peri menggunakan kekuatan alam untuk menyalurkan air dari Mata Air Suci yang berada di puncak gunung tertinggi di hutan raya. Air mata air ini jernih bagaikan kaca, dingin menyejukkan hati, dan memiliki keharuman alami tanah gunung. Mereka membuat saluran air dari batang bambu yang dipotong berongga, menghubungkan mata air langsung ke bak rendam di rumah pohon. "Air ini adalah anugerah alam yang menyegarkan tubuh dan jiwa," kata Cery sambil memeriksa aliran air yang mengalir deras masuk ke dalam bak rendam. Air masuk ke dalam bak rendam dengan suara gemericik yang menenangkan hati, seolah-olah alam sedang bernyanyi bersama mereka.
PENGHIASAN RUMAH DENGAN KEINDAHAN ALAM
Setelah bangunan utama selesai, saatnya menghias rumah pohon agar semakin indah sesuai gaya perpaduan yang mereka inginkan. Mengikuti Gaya Jepang, mereka menanam tanaman hias kecil di sudut-sudut ruangan: pohon Cemara Kerdil, bunga Sakura Hutan, dan rumput hijau halus. Sesuai Gaya Korea, mereka menggantungkan anyaman daun dan manik-manik dari biji tanaman di dinding ruangan. Mengikuti Gaya Inggris, mereka menanam tanaman merambat di sekitar pagar rumah sehingga seluruh bangunan diselimuti dedaunan hijau yang rindang. Kayu Jati Biasa berwarna keemasan dipadukan dengan Kayu Jati Belanda Hitam menciptakan kontras warna yang menawan: hangat namun mewah, sederhana namun megah. "Kita benar-benar telah menciptakan keajaiban alam," gumam Blueberry sambil memandang hasil kerja keras mereka.
PENGAMBILAN NAMA RUMAH: ISTANA POHON BUAH BIRU
Pada hari penyelesaian bangunan, ketiga peri duduk melingkar di depan pintu rumah pohon sambil memikirkan nama yang cocok untuk tempat tinggal mereka. "Karena Blueberry yang pertama kali mengusulkan ide membangun rumah ini, sebaiknya nama ini diambil dari namamu," usul Grape sambil menoleh ke sahabatnya. Cery pun menyetujui: "Warna rumah kita yang padu antara emas dan hitam bagaikan langit biru malam, sesuai dengan namamu Buah Biru." Maka dengan suara bulat, mereka sepakat memberi nama tempat tinggal mereka "ISTANA POHON BUAH BIRU". Sebuah nama yang sederhana namun penuh makna, melambangkan persahabatan tiga peri yang tidak terpisahkan. Mereka menuliskan nama itu di papan kayu dari Kayu Jati Belanda Hitam yang digantung di pintu masuk rumah pohon.
HARI PERTAMA TINGGAL DI RUMAH BARU
Pagi hari pertama mereka tinggal di rumah baru terasa sangat istimewa. Ketika matahari terbit memancarkan sinar emasnya, Blueberry membuka matanya sambil tersenyum bahagia. Ia terbang menuju ruang makan sambil berseru: "Cery! Grape! Bangunlah! Hari ini kita akan memulai kehidupan baru di rumah kita sendiri!" Kedua sahabatnya segera bangun dengan wajah cerah. Mereka berjalan melintasi lorong rumah pohon.