Kegelapan di balik pintu geser kayu ek itu tidak pernah tercium baunya dari trotoar jalan utama. Dari luar, "Rumah Cahaya Daycare" tampak seperti surga kecil di tengah hiruk-pikuk kota. Pagar bercat pastel, stiker-stiker hewan lucu di kaca jendela, dan lagu anak-anak yang diputar pelan melalui pengeras suara luar.
Namaku Paramitha Ratnasari. Panggil saja Mitha. Setelah hampir setahun meratapi status pengangguran dan tumpukan surat penolakan kerja, aku akhirnya diterima di sini. Gajinya memang tidak seberapa, bahkan mungkin lebih rendah dari upah minimum regional. Tapi bagiku, ini adalah pelampung di tengah samudra keputusasaan.
"Tugasmu sederhana, Mitha," kata Ibu Ratna, sang pemilik daycare, pada hari pertamaku. Senyumnya lebar, namun matanya sedingin es. "Jaga kebersihan, isi buku laporan harian, dan pastikan orang tua pulang dengan senyum. Ingat, citra adalah segalanya."
Minggu pertama berlalu dengan kelelahan yang luar biasa. Aku ditugaskan di area depan, menyambut anak-anak di pagi hari dan menyerahkan mereka kembali pada sore hari. Semuanya tampak normal, hingga aku mulai menyadari pola-pola yang janggal.
Ada seorang anak bernama Arka, usianya baru dua tahun. Setiap kali ibunya menjemput, Arka akan langsung menyambar botol susu dengan rakus, seolah dia tidak minum setetes pun sejak pagi. "Mbak Mitha, apa Arka makan lahap hari ini? Kok badannya makin kurus ya?" tanya ibunya suatu sore dengan wajah cemas.
Aku melirik buku laporan. Di sana tertulis: Makan siang habis, snack buah habis, tidur siang nyenyak.
"Sesuai laporan, Bu. Arka pintar sekali makannya," jawabku ragu, mengikuti instruksi senior. Namun hati kecilku mencelos melihat Arka yang tampak lemas.
Kejanggalan itu mencapai puncaknya pada hari Senin di minggu kedua. Aku diminta membantu di "Ruang Istirahat Pusat"—sebuah area di lantai dua yang selama ini tertutup rapat dan hanya boleh dimasuki oleh staf senior. Karena salah satu pengasuh jatuh sakit, Ibu Ratna terpaksa mengutusku ke sana.
Saat pintu berat itu terbuka, aku dihantam oleh hawa panas yang menyesakkan dan bau pesing yang menyengat. Kamar itu luas, namun pengap tanpa satu pun pendingin ruangan atau kipas angin yang menyala.
Pemandanganku mengabur sesaat. Di depanku, sekitar lima puluh anak balita berderet di atas matras tipis yang disusun rapat. Mereka semua telanjang bulat, hanya mengenakan popok sekali pakai yang tampak sudah sangat berat dan penuh.
"Kenapa mereka tidak pakai baju?" bisikku gemetar pada kawan kerjaku, Sari.
"Biar tidak banyak cucian, Mitha. Dan popoknya sengaja tidak diganti sering-sering supaya hemat pengeluaran kantor," jawab Sari datar, seolah hal ini adalah prosedur standar medis.
Aku mendekat ke salah satu barisan. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kaki anak-anak itu... kaki mereka diikat dengan kain kasa panjang ke kaki matras atau ke satu sama lain.
"Sari... kenapa kakinya diikat?" suaraku meninggi, hampir berteriak.
"Sshhh! Jangan berisik!" bentak Sari. "Mereka ini banyak tingkah kalau tidur siang. Kalau diikat, mereka diam. Kita jadi punya waktu istirahat dua jam tanpa gangguan. Jangan sok suci, kamu butuh kerjaan ini, kan?"
Aku mematung. Di pojok ruangan, seorang bayi perempuan merintih pelan. Aku menghampirinya dan mengangkat sedikit lengannya. Ada bekas lebam keunguan di sana, seperti bekas cubitan keras. Aku teringat laporan orang tua kemarin yang mengeluhkan luka serupa, namun pihak daycare berkilah bahwa itu adalah akibat gigitan nyamuk atau karena anak-anak bermain terlalu kasar satu sama lain.
Kini aku tahu kebenarannya. Buku laporan itu hanyalah fiksi. Makan siang yang katanya habis? Sebagian besar dibuang ke tempat sampah untuk menghemat waktu menyuapi. Luka lebam itu? Hukuman karena mereka menangis terlalu keras. Dan tidur nyenyak yang dilaporkan? Itu adalah hasil dari kelelahan hebat setelah menangis di bawah suhu ruangan yang mencapai tiga puluh derajat lebih tanpa pakaian.
Hari itu, aku bekerja seperti robot. Tanganku gemetar saat mengisi buku laporan palsu sore harinya. Aku melihat wajah-wajah orang tua yang lelah, yang menyerahkan sebagian besar gaji mereka demi keamanan anak-anak mereka, tanpa tahu bahwa mereka sedang menitipkan buah hati ke dalam neraka kecil yang rapi.
Malamnya, aku tidak bisa tidur. Bayangan Arka yang kelaparan dan kaki-kaki mungil yang terikat terus menghantuiku. Aku hanyalah Mitha, pengangguran yang baru mendapat napas. Jika aku melapor, aku akan kehilangan pekerjaan ini. Ibu Ratna punya koneksi kuat, dia bisa saja membalikkan fakta dan menuduhku yang melakukan penganiayaan itu.
Namun, saat aku bercermin, aku melihat pantulan seorang pengecut.
Esok paginya, aku masuk dengan rencana. Aku menyembunyikan ponselku di saku apron, dengan lubang kamera yang mengintip sedikit ke luar. Saat suasana sepi dan staf lain sedang makan di bawah, aku menyelinap ke Ruang Istirahat Pusat.
Dengan tangan gemetar, aku merekam segalanya. Barisan tubuh mungil yang berkeringat, ikatan di kaki mereka, popok yang menggantung berat, hingga tangisan tanpa suara dari mereka yang sudah terlalu lelah untuk berteriak. Aku juga memotret sisa makanan yang dibuang ke dalam bak sampah besar di belakang dapur.
Sore hari saat penjemputan, aku berdiri di depan gerbang. Ibu Arka datang lebih awal. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.
"Mbak Mitha, Arka demam semalam. Dia terus-menerus mengigau ketakutan kalau kakinya disentuh," bisiknya sambil terisak.
Inilah saatnya.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada CCTV atau staf lain yang mendengar. Aku merogoh kantongku dan memberikan selembar kertas kecil yang sudah kutulisi alamat email dan nomor telepon pribadiku.
"Jangan bicara di sini, Bu," bisikku tajam. "Buka pesan yang saya kirimkan nanti malam. Tolong, kumpulkan orang tua yang lain. Jangan kembali ke sini besok."
Malam itu, bom waktu itu meledak. Aku mengirimkan rekaman video dan foto-foto tersebut ke grup WhatsApp orang tua yang berhasil kuhubungi. Dalam hitungan jam, kekacauan pecah.
Pagi harinya, Rumah Cahaya Daycare tidak lagi tenang. Puluhan mobil polisi dan massa yang marah mengepung bangunan itu. Aku berdiri di sana, di antara kerumunan, menyaksikan Ibu Ratna digiring keluar dengan tangan terborgol. Wajahnya yang dulu penuh wibawa kini pucat pasi, hancur oleh keserakahannya sendiri.
Aku kehilangan pekerjaanku. Kembali menjadi pengangguran. Namun, saat melihat Arka digendong ibunya menjauh dari tempat itu, melihat anak-anak itu akhirnya bisa bernapas di udara yang sejuk dan bebas, aku tahu ini adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat seumur hidupku.
Namaku Mitha. Aku mungkin tidak punya uang di bank, tapi setidaknya malam ini, aku bisa tidur tanpa perlu merasa kaki-kakiku terikat oleh rasa bersalah. Dunia mungkin kejam, tapi kita tidak harus menjadi bagian dari kekejaman itu hanya untuk bertahan hidup.