Hari-hariku di kelas selalu sama, penuh suara riuh teman-teman, tumpukan buku, dan tugas yang tak ada habisnya. Tapi ada satu hal yang selalu berhasil membuat suasana jadi berbeda, sesuatu yang diam-diam aku nantikan setiap pagi.
Namanya Aril.
Dia duduk tidak terlalu jauh dari tempatku, cuma beda beberapa baris ke depan. Aku sering mencuri pandang saat dia tidak melihat. Entah saat dia sedang serius mendengarkan guru menjelaskan, saat dia tertawa bersama teman-temannya, atau bahkan saat dia terlihat sibuk mengacak-acak rambutnya sendiri karena pusing mengerjakan soal.
Semua hal tentang dia terlihat begitu menarik di mataku.
"Erin, ngelamun aja sih. Nanti dimarahin Bu Guru lho," bisik temanku membuyarkan lamunanku.
Aku buru-buru menunduk, memalingkan wajah yang tiba-tiba terasa panas. Padahal tadi mataku tidak sengaja terus menatap punggung Aril. Rasanya aneh, campur aduk antara senang dan deg-degan. Cuma hal kecil seperti dia lewat di depanku atau tidak sengaja bersentuhan tangan saat mengambil barang yang sama saja, bisa membuat hari-hariku terasa lebih berwarna.
Aku tidak tahu apa yang Aril pikirkan. Bagiku, dia itu tipe cowok yang tenang, kadang terlihat cuek tapi sebenarnya baik. Seringkali aku berharap dia sadar, berharap ada satu kesempatan kecil di mana dia menoleh dan melihatku lebih dari sekadar teman sekelas.
Tapi sampai saat ini, perasaan ini masih aku simpan rapi-rapi. Cuma menjadi cerita sunyi di antara deretan meja belajar, dan menjadi alasan kenapa aku selalu semangat datang ke sekolah.
Cukup melihatnya dari jauh, rasanya sudah cukup bahagia.