Namaku Ratih, 28 tahun. Sudah tiga bulan menikah dengan suamiku, Andi. Kami tinggal di rumah mertua karena rumah kami sendiri masih dalam proses renovasi. Mertuaku, Pak Hadi (53 tahun), adalah duda yang tinggal sendirian di rumah besar bergaya Jawa di pinggir kota. Beliau orangnya tenang, sabar, dan sangat perhatian.Sejak pindah ke sini, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Pak Hadi selalu memperlakukanku dengan lembut — membantuku memasak, menanyakan kabar setiap hari, bahkan kadang memijat pundakku saat aku capek setelah kerja. Andi sering lembur atau dinas ke luar kota, jadi aku dan Pak Hadi sering menghabiskan malam berdua saja.Malam itu Andi lagi dinas ke Surabaya selama tiga hari. Rumah hanya aku dan Pak Hadi. Aku baru pulang kerja jam 8 malam, badan capek sekali. Pak Hadi sudah menyiapkan makan malam sederhana di meja makan.“Kamu capek ya, Nak? Makan dulu, nanti Bapak pijit pundakmu,” katanya lembut sambil tersenyum.Aku tersenyum malu. “Terima kasih, Pak. Bapak selalu baik sama aku.”Setelah makan, kami duduk di ruang keluarga. Pak Hadi duduk di belakangku di sofa, tangannya mulai memijat pundakku dengan lembut. Jari-jarinya kuat tapi hangat. Aku mendesah pelan, merasakan ketegangan di tubuhku perlahan hilang.“Enak, Nak?” tanyanya pelan di telingaku.“Iya, Pak… enak sekali…” jawabku, suaraku mulai bergetar.Tangan Pak Hadi turun perlahan ke punggungku, mengusap pelan. Aku memakai daster tipis tanpa bra karena di rumah. Payudaraku terasa berat dan sensitif. Saat jari beliau menyentuh pinggangku, aku merasa getaran hangat di perut bawah.“Pak… ini…” aku berusaha protes, tapi suaraku lemah.Pak Hadi berbisik lembut di telingaku, “Bapak tahu ini salah, Nak. Tapi Bapak sudah lama merasakan sesuatu yang berbeda sama kamu. Kamu istri anak Bapak, tapi… Bapak melihat kamu sebagai perempuan yang cantik, lembut, dan membutuhkan kasih sayang.”Aku menoleh pelan. Mata kami bertemu. Ada kelembutan, ada kerinduan, dan ada nafsu yang tertahan lama di mata beliau.Aku tidak tahu kenapa, tapi aku malah mendekatkan wajahku. Bibir kami bertemu dalam ciuman yang lembut pada awalnya, lalu semakin dalam dan penuh perasaan. Lidah kami saling menyentuh pelan, seperti sedang saling mengeksplorasi.Pak Hadi mengangkat aku ke pangkuannya. Tangannya mengusap punggungku dengan lembut, lalu naik ke payudaraku. Dia meremasnya pelan, penuh kasih sayang, bukan kasar.“Ratih… payudaramu indah sekali…” bisiknya sambil menurunkan dasterku. Payudaraku terbebas. Beliau memandangnya dengan penuh kekaguman, lalu menunduk dan mencium putingku dengan sangat lembut. Lidahnya muter pelan, menghisap dengan penuh kasih, seolah sedang menyayangi.“Ahh… Pak… pelan… enak sekali…” desahku, tanganku memeluk kepalanya.Beliau terus menghisap bergantian, tangannya mengelus pinggul dan paha aku dengan lembut. Aku sudah sangat basah. Pak Hadi mengangkat dasterku sampai pinggang, lalu tangannya menyentuh memekku yang licin.“Kamu sudah basah sekali, Nak… Bapak senang kamu merasakan hal yang sama,” bisiknya sambil memasukkan satu jari pelan.Aku mendesah panjang. “Pak… ahhh… jari Bapak… lebih dalam… hhh… aku mau Bapak…”Pak Hadi mengangkat aku ke kamar beliau. Beliau membaringkan aku di kasur dengan lembut, seolah aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Beliau melepas bajunya sendiri. Tubuhnya masih kekar meski sudah 53 tahun — dada bidang berbulu halus, perut agak berisi, dan kontolnya besar, tebal, sudah tegang sempurna.Beliau naik ke kasur, mencium seluruh tubuhku dengan penuh kasih sayang — dari kening, turun ke leher, payudara, perut, lalu ke paha dalamku. Lidahnya menyentuh memekku dengan lembut, menjilat pelan, menghisap klitorisku dengan penuh perasaan.“Ahhh… Pak… lidah Bapak… enak sekali… hhh… pelan… aku mau keluar… ahh… ya… seperti itu…”Aku orgasme pertama dengan lembut tapi intens, tubuhku bergetar pelan di mulut beliau. Pak Hadi naik ke atasku, mencium bibirku dalam-dalam sambil memasukkan kontolnya pelan-pelan.“Ahhh… Pak… gede… penuh sekali… hhh… pelan dulu… biar aku rasain Bapak…”Beliau gerak sangat pelan dan dalam, seolah sedang bercinta dengan penuh kasih sayang. Setiap dorongan terasa penuh makna. Tangannya mengelus rambutku, mencium keningku, dan berbisik kata-kata lembut.“Ratih… kamu cantik… Bapak sayang kamu… biarkan Bapak mencintaimu malam ini…”Aku memeluk leher beliau erat, mendesah di telinganya. “Pak… ahh… lebih dalam… aku juga… aku juga merasakan hal yang sama… hhh… entot aku dengan lembut… aku mau merasakan Bapak sepenuhnya…”Kami bercinta lama sekali dengan ritme yang lembut tapi penuh gairah. Aku orgasme berkali-kali, setiap kali terasa lebih dalam dan emosional. Akhirnya Pak Hadi keluar di dalamku dengan desahan panjang, cairannya hangat memenuhi rahimku.Kami berpelukan erat di kasur, keringat bercampur, napas masih tersengal. Pak Hadi mencium keningku lama sekali.“Malam ini Bapak merasa hidup lagi, Nak. Terima kasih sudah memberi Bapak kesempatan mencintaimu.”Aku menangis pelan di dada beliau. “Pak… aku juga… aku merasa dicintai dengan benar malam ini.”Sejak malam itu, hubungan kami berlanjut dengan penuh kasih sayang dan nafsu yang dalam. Setiap kali Andi tidak di rumah, aku dan Pak Hadi menghabiskan malam dengan bercinta yang lembut, romantis, dan penuh perasaan.Aku tahu ini salah di mata dunia.
Tapi di antara pelukan Pak Hadi, aku merasa dicintai, dihargai, dan diinginkan dengan cara yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.Pak Hadi bukan hanya mertuaku.
Dia adalah laki-laki yang membuat aku merasa seperti perempuan yang benar-benar dicintai.Dan aku… sudah jatuh cinta pada mertuaku sendiri.