Namaku Anna Anindya. Aku adalah putri bungsu dari lima bersaudara. Mungkin karena aku lahir paling akhir, takdir seakan memanjakanku sejak awal. Aku tumbuh menjadi gadis yang lucu, manja, dan sedikit cengeng. Bagi kakak-kakakku, aku adalah boneka kecil yang harus dijaga. Namun, bagi dunia, aku adalah putri kesayangan Bapak Alam.
Ayahku, Leo atau sering di panggil dengan sebutan Bapak Alam, bukanlah sosok sembarangan. Di desaku yang masih begitu lekat dengan akar budaya, beliau adalah Tokoh adat Dayak yang sangat disegani. Wajahnya tegas, tatapannya bijaksana, dan pengetahuannya tentang leluhur serta adat istiadat begitu luas. Di luar sana, semua orang hormat dan sangat menghargai beliau. Tapi di hadapanku, singa itu berubah menjadi si paling lembut.
Apa pun yang aku mau, selalu dituruti. Aku bisa menangis sejadi-jadinya jika keinginanku tak terpenuhi, dan hanya dengan satu senyuman ayah, dunia kembali cerah. Beliau adalah rumah teraman, pelukan terhangat, dan cintaku yang pertama. Bagiku, Bapak Alam adalah segalanya. Aku tak pernah membayangkan bagaimana hidup tanpa kehadirannya.
Namun, takdir punya cara lain untuk menguji hati.
Saat usiaku menginjak angka dua puluh, dunia yang indah itu runtuh seketika. Sakit jantung yang diderita ayah akhirnya mengambilnya pergi untuk selamanya.
Hari itu, warna-warni di mataku menghitam semua.
Sejak kepergiannya, aku bukan lagi Anna yang ceria. Aku berubah menjadi sosok yang pendiam, menarik diri dari dunia luar. Hari-hariku habis hanya di dalam kamar, memeluk baju bekasnya, dan menangis dalam sepi. Aku kehilangan arah. Kehilangan sosok pelindung. Kehilangan cinta pertama dan satu-satunya yang pernah membuatku merasa begitu berharga.
Rasa kosong itu begitu menggerogoti, hingga aku berharap ada seseorang yang datang untuk mengisi ruang yang ditinggalkan ayah.
Di tengah kesepian yang mencekam, aku mengenalnya lewat dunia maya. Dia berasal dari Pulau Sumatera, suaranya terdengar tenang dan kata-katanya terdengar bijaksana. Kami menghabiskan waktu berjam-jam di telepon, berbagi cerita, hingga aku merasa menemukan kembali "teman bicara" yang selama ini hilang.
Karena terlalu rindu akan sosok figur ayah, karena terlalu ingin dilindungi, aku buta. Aku mengira kehadirannya adalah jawaban. Aku berharap dia bisa menjadi pelindung baru, menjadi teman hidup yang membimbingku tumbuh dewasa, menggantikan peran ayah yang sudah tiada.
Saat dia mengajakku menikah, dengan polosnya aku mengangguk setuju.
Ah, betapa bodohnya aku.
Itu adalah keputusan paling keliru yang pernah kuambil dalam hidup. Kupikir aku sedang melangkah menuju pelaminan bahagia, nyatanya aku sedang melangkah masuk ke dalam gerbang neraka.
Sejak hari itu, penderitaan yang sesungguhnya dimulai.
Sosok yang kukira akan menjadi pelindung, ternyata menjadi sumber ketakutan terbesarku. Pria yang kuharap bisa mengerti kelembutan hatiku, justru menyakiti dengan cara yang tak terbayangkan. Mimpi indah yang kubangun di atas rindu akan sosok ayah, hancur berkeping-keping menjadi kenyataan yang begitu pahit.
Sekarang aku sadar,
Kehilangan ayah memang menyakitkan,
Tapi menyadari bahwa aku sendiri yang menyerahkan hidupku ke tangan yang salah,
Adalah siksaan yang jauh lebih membunuh perlahan.
Aku memeluk neraka itu dengan tanganku sendiri,
Dan kini, aku terjebak di dalamnya,
Menangisi Anna kecil yang dulu pernah begitu bahagia,
Di bawah lindungan sang pemimpin adat,
Sebelum dunia tahu betapa kejamnya takdir yang menantiku
✍️ Anna Anindya