Di gang sempit yang hanya basah saat gerimis, toko kecil itu berdiri dengan aroma kertas tua yang menenangkan. Bu Patmi, sang penjaga toko, selalu menata tumpukan buku harian dengan rapi, meski ia sendiri merasa ada bagian dari hidupnya yang kosong, seputih lembaran kertas yang belum ditulisi.
Setiap Selasa sore, Pak Nyoman datang. Ia selalu menuju rak yang sama, mengambil buku bersampul kulit kusam, dan membacanya dengan tatapan rindu yang dalam.
"Buku itu sangat menarik bagi Anda, Pak?" tanya Bu Patmi suatu hari, sambil menyuguhkan teh hangat.
Pak Nyoman tersenyum getir. "Setiap kali membacanya, saya merasa menemukan bagian diri saya yang hilang, Bu."
Bu Patmi tidak tahu bahwa buku itu adalah milik Pak Nyoman sendiri. Ia sengaja "menjual" cerita masa lalu demi bisa bertahan hidup melihat wanita yang dicintainya lupa akan segalanya. Namun, hatinya tak bisa berbohong; ia terus kembali untuk mencuri dengar suara masa lalunya.
Suatu sore, hujan di luar semakin menderu, menciptakan dinding air yang mengisolasi toko itu dari dunia luar. Saat Pak Nyoman hendak pulang, sebuah foto usang terjatuh dari selipan buku tersebut. Bu Patmi membungkuk, jemarinya yang sedikit gemetar mengambil selembar foto hitam putih yang tergeletak di lantai kayu.
Ia terdiam. Matanya terpaku pada sosok gadis remaja dengan kuncir kuda yang tertawa lebar di foto itu. Di sampingnya, seorang pemuda kurus merangkul bahunya dengan canggung namun protektif.
"Pak Nyoman..." suara Bu Patmi nyaris hilang ditelan bunyi hujan. "Gadis ini... ini saya, kan? Tapi siapa pemuda yang terlihat begitu bahagia di samping saya ini?"
Pak Nyoman meletakkan cangkir tehnya yang masih mengepul. Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian dari sisa-sisa masa lalu yang ia simpan sendiri selama puluhan tahun.
"Namanya Nyoman, Bu," jawabnya pelan, matanya menatap lurus ke arah Bu Patmi. "Dia anak laki-laki yang dulu selalu kalah main kelereng darimu, tapi selalu menang dalam hal menunggumu pulang sekolah di bawah pohon kamboja."
Bu Patmi menatap foto itu, lalu beralih menatap wajah keriput Pak Nyoman di hadapannya. Perlahan, sebuah denyut samar muncul di kepalanyaโbukan rasa sakit, melainkan rasa hangat yang asing.
"Kecelakaan itu..." Bu Patmi berbisik, suaranya bergetar. "Dokter bilang suami saya tidak selamat, dan saya kehilangan banyak hal di kepala saya. Saya pikir saya hanya kehilangan ingatan tentang hari itu saja."
"Anda kehilangan lebih dari sekadar hari itu, Patmi," potong Pak Nyoman lembut. Kini ia berani menyebut namanya tanpa embel-embel 'Bu'. "Anda kehilangan seluruh cerita tentang kita. Tentang cinta monyet yang tidak sempat tumbuh karena Anda pindah kota dan menikah dengan pria lain."
Air mata mulai menggenang di sudut mata Bu Patmi. "Lalu kenapa Bapak menjual ingatan ini ke toko saya? Kenapa tidak menyimpannya sendiri?"
Pak Nyoman tersenyum tipis, jenis senyuman yang menyimpan luka sekaligus keikhlasan. "Karena mengingat sendirian itu melelahkan, Patmi. Saya menjualnya agar bisa membacanya di sini, di depanmu, tanpa perlu merasa sendirian lagi. Saya hanya ingin memastikan bahwa meskipun kamu lupa, cerita kita tetap ada di dunia ini."
Bu Patmi terisak pelan, bukan karena sedih, tapi karena merasa akhirnya "ditemukan". Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Pak Nyoman yang masih memegang buku harian itu.
"Terima kasih sudah tidak lupa, Nyoman," ucap Bu Patmi tulus.
Sore itu, di tengah aroma kertas lama dan suara rintik hujan, dua jiwa yang sempat terpisah oleh maut dan lupa itu akhirnya duduk bersisian. Mereka tidak mencoba memperbaiki masa lalu, melainkan hanya menikmati kebersamaan sebagai dua sahabat lama yang akhirnya pulang ke rumah yang sama.
Toko buku itu tetap berdiri. Tidak ada pengakuan cinta yang dramatis atau pernikahan yang terburu-buru. Bagi Pak Nyoman, bisa duduk di kursi kayu yang sama dengan Bu Patmi sambil mendengarkan rintik hujan sudah lebih dari cukup.
Mereka sepakat untuk tidak lagi memaksakan ingatan yang sudah terhapus. Bu Patmi dan Pak Nyoman kini memulai babak baru sebagai teman lama yang baru saja "bertemu kembali". Di antara tumpukan buku tua, mereka menemukan bahwa meski memori bisa dijual, rasa nyaman tidak akan pernah bisa benar-benar hilang.