Bunyi derap langkah kaki bergema di lapangan SDN 2 Pucang. Empat bocah tak beralas kaki berlarian dengan keringat yang sudah membasahi punggung. Ada sedikit debu beterbangan, tetapi terabaikan dengan senyum yang merekah dari setiap bibir.
Anang, bocah berambut ikal berada di luar gambar lingkaran pada tanah berusaha mengejar tiga temannya yang saling bergandengan tangan di dalam lingkaran. Doni yang berambut cepak tampak terengah-engah kelelahan, tetapi masih terus tertawa riang. Pur yang terlihat paling besar, berpegangan erat pada Hafid.
“Sudah ah capek,” pekik Anang pasrah. Betisnya sudah tak kuat lagi dipaksa berlari.
“Nyerah nih? Kamu kalah ya hari ini,” ejek Hafid. Bocah bertopi itu memang paling doyan mengolok-olok. Semuanya keluar dari lingkaran, dan mengambil duduk di bibir lapangan voly yang terbuat dari semen.
Pur menjatuhkan tubuhnya, menengadah menatap langit senja. Warna jingga kemerahan yang sedikit menyilaukan, membuatnya mengernyit.
“Bukankah sekarang waktunya kita untuk pulang?” gumam Pur lirih. Doni menoleh terkekeh. Senyumnya terlihat mengejek.
“Kamu pasti dimarahi Mamahmu kan? Jam setengah enam sore masih belum pulang,” seloroh Doni.
“Sekali-kali ndak apa-apa lho bermain hingga agak malam. Toh besok libur sekolah,” sambung Hafid menimpali. Pur menghela napas. Dia duduk kembali. Menepuk-nepuk punggungnya yang sedikit berdebu.
“Apa kalian tidak tahu jika sekarang adalah waktu yang dinamakan surup?” tanya Pur memasang wajah serius. Doni dan Hafid kompak menggeleng. Anang diam saja duduk di ujung.
“Lihatlah langit warnanya merah,” tunjuk Pur yang diikuti semua temannya ikut mendongak.
“Surup adalah waktu pergantian siang dan malam. Kata Mamahku, warna merah di langit itu adalah warna kejahatan. Banyak makhluk mengerikan akan turun ke bumi untuk menculik anak-anak yang masih berada di luar rumah,” jelas Pur bersungguh-sungguh. Doni dan Hafid kompak menoleh, menatap Pur dengan lidah terjulur.
“Kamu dibohongi Mamahmu Pur. Mana ada makhluk lain turun ke bumi mau nyulik anak-anak. Memangnya alien? Transformers?” ejek Hafid disambut tawa renyah dari Doni.
“Ngeyel. Memang begitu kok. Memangnya kalian pikir kenapa langit senja berubah jingga atau merah? Padahal kan pagi dan siang hari berwarna biru. Kalaupun matahari sudah terbenam, langit malam akan berwarna biru tua kehitaman. Warna merah itu jelas penanda agar manusia berhati-hati,” bantah Pur menggebu-gebu.
“Eh tapi aku pernah dengar juga sih. Katanya waktu paling menyeramkan itu memang bukan tengah malam, melainkan pergantian siang dan malam,” sambung Doni tiba-tiba. Hafid kali ini tidak mengejek. Giliran Anang yang terkekeh. Tiga temannya langsung memelotot padanya.
“Apanya yang lucu?” sergah Pur, Doni, dan Hafid bersamaan.
“Bumi itu memang indah, unik, dan asyik teman-teman,” ucap Anang setelah menghela napas. Tiga temannya diam menyimak. Mereka semua tahu, jika Anang sudah membuka mulut, maka yang keluar adalah pelajaran IPA. Anang merupakan bintang kelas yang doyan membaca buku.
“Cahaya matahari itu terdiri dari berbagai warna, termasuk biru dan merah. Saat sinar matahari melewati atmosfer, cahaya biru dan ungu akan lebih mudah dipantulkan dalam berbagai arah oleh molekul-molekul udara daripada cahaya merah,” ucap Anang memulai penjelasan.
“Nah, saat matahari berada tinggi di langit yaitu siang hari, sinar matahari hanya melewati lapisan atmosfer yang tipis, sehingga cahaya biru yang dihamburkan akan memberikan warna biru pada langit.”
“Laluuu?” potong Pur. Doni dan Hafid menyimak.
“Saat matahari mendekati horizon atau senja maka sinar matahari harus menempuh jarak yang lebih panjang dan melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal. Akibatnya, cahaya biru dan ungu yang lebih mudah dihamburkan akan terserap atau dipantulkan jauh sebelum mencapai mata kita, sehingga hanya cahaya merah dan jingga yang tersisa dan mencapai mata kita, memberikan warna senja yang kemerahan. Selain itu, partikel lain di atmosfer seperti debu, polusi, dan awan juga dapat memengaruhi warna langit senja. Partikel ini dapat menyerap atau memantulkan cahaya tertentu, sehingga menghasilkan warna senja yang bervariasi. Bukankah warna senja yang jingga tidak setiap hari bisa kita lihat?” Anang tersenyum mengakhiri penjelasannya.
“Darimana kamu mendapatkan semua pengetahuan itu?” tanya Doni penuh selidik.
“Baca ensiklopedia. Kalian juga bisa melihat di konten-konten youtube. Makanya gunakan handphone untuk belajar sebaik-baiknya,” jawab Anang penuh kebanggaan. Hafid dan Doni mengangguk-angguk.
“Ahh, tapi tetap saja waktu surup terasa menyeramkan. Sebaiknya kita segera pulang,” sambung Pur. Dia tidak mungkin mendebat penjelasan Anang.
“Seram apanya Pur?” ledek Hafid, disusul tawa Doni.
Tiba-tiba terdengar suara geraman dari belakang gedung perpustakaan. Bagian belakang sekolah adalah persawahan yang seharusnya sudah tidak ada orang pada waktu senja tiba. Keempat anak itu pun terdiam. Suara geraman itu disusul dengan bunyi langkah kaki yang terdengar berat dan diseret.
Pur memelotot pada Doni dan Hafid. Mereka kompak menoleh pada Anang. Namun bocah yang baru menjelaskan teori langit berwarna jingga itu sudah berlari terlebih dahulu keluar dari area sekolah.
“Tunggu kamiii!” pekik Pur, Hafid, dan Doni berlari tunggang-langgang.
Dari belakang gedung perpustakaan, tampak sosok Bapak-bapak yang memanggul jerami kering. Dia terdengar menggeram dengan langkahnya yang terseok karena beratnya beban jerami di pundak.
“Tenggorokanku terasa serak, tidak nyaman. Kebanyakan minum es sepertinya,” keluh Bapak petani masih terus menggeram. Sampai di luar gerbang sekolah dia terbatuk-batuk dan meludah ke selokan.
Langit senja semakin berwarna merah. Menjadi tanda dan alarm agar setiap orang pulang ke rumah. Beristirahat setelah seharian bekerja.
Bung Kus
Cerpen Anak
27 April 2026