Di kerajaan Langit Utara, ada hukum yang tidak bisa dilawan: _Penyihir tidak boleh jatuh cinta pada manusia_. Karena cinta akan membakar sihirnya, dan sihir yang terbakar akan membakar dunia.
Alya bukan penyihir biasa. Dia Penjaga Konstelasi. Tugasnya menyulam bintang di langit tiap malam agar dunia bawah tetap punya arah. Tangannya bisa memetik cahaya, matanya bisa bicara dengan rasi. Tapi hatinya kosong. Sudah 200 tahun kosong.
Sampai suatu malam, benang bintangnya putus dan jatuh ke bumi. Tepat di atap rumah seorang penulis bernama Arsa.
Arsa tidak percaya sihir. Dia percaya deadline, kopi pahit, dan naskah yang tak pernah selesai. Tapi malam itu dia naik ke atap karena buntu ide. Lalu melihat seutas benang emas menyala di gentengnya. Saat dia sentuh, dunia berubah.
Alya turun ke bumi untuk mengambil benangnya. Baru kali ini dia menginjak tanah. Baru kali ini dia mencium bau hujan dan kopi. Dan baru kali ini dia melihat mata manusia yang tidak takut pada sihirnya.
“Kau siapa?” tanya Arsa.
“Yang punya benang itu,” jawab Alya kaku. “Kembalikan.”
“Kalau kukembalikan, kau pergi?”
Alya mengangguk. Itu aturan.
Arsa genggam benang itu lebih erat. “Kalau begitu aku simpan dulu. Besok kembali.”
Besok jadi seminggu. Seminggu jadi sebulan.
Alya beralasan langit bisa menunggu. Padahal dia yang tak mau pergi.
Arsa mengajarinya minum kopi tanpa gula. Alya mengajarinya nama-nama bintang yang tak ada di buku.
Arsa menulis cerita tentang perempuan dari langit. Alya diam-diam menyulam nama Arsa di antara gugus Orion, biar tiap malam dia bisa lihat dari atas.
Tapi langit tidak lupa.
Suatu malam petir tanpa hujan menyambar rumah Arsa. Para Tetua Konstelasi datang.
“Alya, kau melanggar. Pilih: Sihirmu, atau dia.”
Alya gemetar. Tanpa sihir, dia bukan siapa-siapa. Tak bisa kembali ke langit, tak bisa menyulam bintang lagi. Dunia bawah akan kehilangan arah.
Arsa maju. Dia bukan penyihir, tapi dia penulis. Dia tahu cara mengakhiri cerita.
“Ambil sihirnya,” kata Arsa pelan. “Tapi jangan ambil ingatannya tentang aku. Biar dia tetap ingat rasanya jatuh cinta. Itu lebih kejam, tapi juga lebih adil.”
Tetua mengangkat tangan. Cahaya menyilaukan keluar dari dada Alya. Sihirnya dicabut. Tubuhnya jadi fana, jadi manusia. Ringkih, dingin, tapi hidup.
Hukum dipenuhi: penyihir tidak mencintai manusia. Karena Alya bukan penyihir lagi.
Malam itu untuk pertama kalinya Alya kedinginan. Arsa memeluknya, menyelimutinya dengan jaket lusuh.
“Kau bodoh,” bisik Alya. “Sekarang kau harus menjagaku.”
“Aku penulis,” jawab Arsa. “Tugasku menjaga tokoh utama tetap hidup sampai halaman terakhir.”
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang di bumi melihat keanehan. Rasi Orion punya satu bintang kecil baru. Redup, tapi tidak pernah padam.
Kata para astronom, itu mustahil.
Kata Arsa yang rambutnya sudah memutih, “Itu Alya. Dia tidak bisa menyulam langit lagi. Jadi dia taruh namaku di sana, biar aku yang menjaganya dari bumi.”
Di sampingnya, Alya yang juga menua tertawa. “Terbalik. Itu namamu, yang kusimpan di bintang sebelum aku jadi manusia. Biar kalau suatu hari kamu lupa, langit yang ingatkan.”
Mereka tua bersama. Dan tiap malam, mereka minum teh tawar di beranda, menatap satu bintang kecil yang cahayanya butuh 200 tahun untuk sampai ke bumi.
Cukup. Karena cinta mereka juga butuh 200 tahun untuk bertemu.
---
TAMAT.