📖 BAB 1: PERTEMUAN DI BAWAH PAYUNG MERAH
Hujan turun sangat deras sore itu. Air membanjiri jalanan kota kecil di kaki gunung itu. Angin berhembus kencang membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Di halte bus yang kecil dan reyot, berdiri seorang gadis cantik bernama Arumi.
Arumi memeluk tasnya erat-erat. Ia baru saja pulang sekolah. Wajahnya cemas menatap hujan yang tak kunjung reda. Ia tidak membawa payung, dan uangnya hanya tersisa cukup untuk ongkos pulang, tidak cukup untuk membeli payung.
"Ya Allah, kapan berhentinya hujan ini..." gumamnya pelan.
Tiba-tiba, sebuah payung besar berwarna merah menyamping di atas kepalanya, melindunginya dari guyuran air.
Arumi menoleh kaget. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki sebaya dengannya. Wajahnya tampan dengan kulit yang agak gelap karena sering terpapar matahari, matanya teduh dan senyumnya sangat manis.
Namanya Dika.
"Kamu mau ke mana? Ikut aku aja yuk, aku antar sampai jalan besar. Kasihan kalau basah nanti sakit," kata Dika dengan suara lembut dan sopan.
Arumi tersenyum malu-malu. "Makasih ya... Kamu baik banget. Tapi nanti kamu kebasahan dong?"
"Nggak kok, aku kuat," jawab Dika sambil menggeser payungnya lebih banyak ke arah Arumi, hingga bahu kanan Dika sendiri basah kuyup terkena air.
Mereka berjalan beriringan di bawah naungan payung merah itu. Hujan deras di luar, tapi hati mereka terasa hangat. Percakapan demi percakapan terjalin begitu cair dan akrab. Mereka ternyata satu sekolah, hanya beda kelas.
📿 HADIAH PERTAMA
Sebelum berpisah di persimpangan jalan, Dika menghentikan langkahnya. Ia merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sesuatu.
Itu adalah sepasang gelang persahabatan yang terbuat dari manik-manik kecil berwarna-warni. Warnanya merah dan biru, dirajut dengan bentuk hati yang sangat rapi.
"Ini buat kamu..." kata Dika sambil menyerahkan yang warna merah ke tangan Arumi. "Ini aku beli di pasar pagi tadi. Murah kok, tapi katanya ini gelang sakti lho."
"Sakti gimana?" tanya Arumi penasaran sambil memutar gelang itu di jarinya.
"Kalau kita pakai ini, walau kita jauh atau beda tempat, hati kita bakal tetep nyambung. Dan kita bakal ketemu lagi kok suatu hari nanti," jelas Dika dengan wajah serius tapi polos.
Arumi terharu. Ia langsung memakainya di pergelangan tangannya. "Wah cantik banget! Makasih ya Dika. Janji ya kita temenan terus!"
"Iya! Janji!"
Sejak hari itu, Arumi dan Dika menjadi pasangan sahabat yang tak terpisahkan. Ke mana pun mereka pergi, selalu berdua. Mereka belajar bersama, berbagi bekal, dan bermimpi bersama.
📖 BAB 2: JANJI DI ATAS BUKIT
Tahun berganti tahun. Kini mereka sudah duduk di bangku kelas 3 SMA. Cinta persahabatan mereka perlahan berubah menjadi rasa sayang yang lebih dalam. Mereka saling menyukai, tapi tak ada satu pun yang berani mengungkapkan lewat kata-kata, karena cukup lewat hati dan tatapan mata mereka sudah mengerti.
Suatu sore yang cerah, mereka duduk di atas bukit tempat favorit mereka. Dari sana mereka bisa melihat seluruh kota dan hamparan sawah yang hijau.
"Mi..." panggil Dika pelan.
"Iya Ka?" jawab Arumi lembut.
"Nanti kalau kita lulus sekolah ini, kamu mau kuliah di mana?" tanya Dika dengan nada sedih.
"Aku sih pengen banget kuliah di Jakarta, ambil jurusan Kedokteran. Tapi sayangnya... orang tua aku nggak punya uang banyak," jawab Arumi pelan, matanya menerawang jauh.
"Terus kamu gimana?"
Dika menarik napas panjang. "Aku... aku dapat beasiswa kuliah di luar pulau. Di Jawa. Tapi aku bingung Mi. Aku sayang banget sama kamu. Aku nggak rela ninggalin kamu sendirian di sini."
Arumi menunduk, air matanya mulai menetes. "Aku juga nggak mau pisah Ka... Tapi itu kesempatan kamu. Kamu harus pergi. Kamu harus sukses. Jangan mikirin aku."
💍 JANJI BESAR
Dika menggenggam tangan Arumi erat sekali. Ia melihat tangan Arumi yang masih memakai gelang manik itu.
"Aku janji sama kamu Mi..." bisik Dika tegas. "Aku akan belajar yang paling rajin di sana. Aku akan kerja sambilan. Aku akan buktikan kalau aku bisa sukses."
"Dan nanti... kalau aku sudah pulang, kalau aku sudah punya uang dan jabatan, aku akan datang ke rumah kamu. Aku akan minta izin sama orang tua kamu buat nikahin kamu."
Dika mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya. Itu bukan cincin emas, bukan cincin berlian. Itu hanyalah sebuah cincin yang terbuat dari koin uang logam yang dipahat sendiri oleh Dika dengan silet dan kertas amplas. Bentuknya sederhana, tapi sangat unik dan mengkilap.
Dika memakaikan cincin itu ke jari manis Arumi dengan gemetar.
"Sementara ini pakai ini dulu ya. Ini simbol janji aku. Nanti aku ganti sama yang asli, yang emas putih berlian. Tunggu aku ya Arumi... Tunggu aku 5 tahun. Paling lama 5 tahun!"
Air mata Arumi jatuh membasahi pipinya. Ia mengangguk berkali-kali.
"Iya Ka... Aku janji aku akan nunggu. Berapapun lama nya. Aku nggak akan pacaran sama orang lain. Aku akan jaga diri aku, aku jaga gelang ini, dan aku jaga cincin ini sampai kamu datang jemput aku."
Mereka berpelukan lama di atas bukit itu, diiringi matahari terbenam yang memancarkan cahaya keemasan.
📖 BAB 3: WAKTU YANG BERJALAN SANGAT LAMBAT
Kepergian Dika menyisakan kekosongan yang besar di hati Arumi.
Hari demi hari terasa sangat berat. Tidak ada lagi suara tawa Dika, tidak ada lagi yang mengantarnya pulang, tidak ada lagi yang berbagi bekal dengannya.
Arumi tetap setia menunggu. Ia bekerja keras membantu orang tuanya, dan akhirnya dengan beasiswa dan tabungan yang sedikit, Arumi berhasil kuliah di kota terdekat. Ia menjadi mahasiswi yang sangat pintar dan cantik.
Banyak sekali pria-pria tampan, kaya, dan populer yang mendekati Arumi. Banyak yang melamar, banyak yang memberi hadiah mahal, banyak yang menawarkan kehidupan nyaman.
Tapi Arumi selalu menolak dengan halus.
Di jari manisnya, cincin buatan dari koin itu masih ia pakai dengan bangga. Di tangannya, gelang manik yang warnanya sudah mulai pudar itu masih terikat kuat.
"Maaf... aku sudah punya janji dengan seseorang. Aku sedang menunggu dia," jawab Arumi selalu begitu.
Orang-orang menganggap Arumi aneh dan bodoh.
"Masa iya nunggu cowok yang nggak jelas kabarnya?!"
"Itu kan cuma janji anak kecil! Mana mungkin dia ingat! Pasti dia di sana udah punya cewek orang kaya!"
"Cincin apa cuma dari uang logam! Mending lepas aja!"
Tapi Arumi tidak peduli. Ia percaya pada Dika. Ia percaya pada cinta mereka.
"Dika pasti kembali. Dika orangnya pegang janji."
📖 BAB 4: KETIKA JARAK MENGUJI SETIA
Sudah 6 tahun berlalu. Lebih lama dari janji awal mereka.
Dika tidak pernah mengirim surat, tidak pernah menelepon. Entah dia sibuk, entah dia susah sinyal, atau entah dia memang sudah melupakan.
Hati Arumi mulai hancur perlahan. Ia mulai lelah menunggu. Air matanya sudah kering, hatinya terasa beku.
Suatu hari, orang tua Arumi memaksanya untuk menerima lamaran seorang pengusaha sukses yang sangat kaya raya. Pria itu baik, tampan, dan sangat mencintai Arumi.
"Mi, terima saja Nak. Kamu sudah cukup tua untuk menunggu hal yang tak pasti. Dia sudah jelas-jelas ninggalin kamu. Jangan bodoh lagi," kata Ibunya memohon.
Akhirnya, dengan hati yang hancur berkeping-keping, Arumi mengangguk setuju.
"Baik Bu... Aku terima. Tapi... tolong beri aku waktu seminggu lagi. Aku mau rapihin hati aku dulu."
Malam itu, Arumi duduk di depan jendela. Hujan turun lagi derasnya, persis seperti hari pertama mereka bertemu.
Arumi menatap gelang manik di tangannya.
"Sudah cukup ya... Kita sudah berusaha bertahan. Mungkin memang takdir kita nggak bisa bersama. Maafin aku ya Dika... Aku nggak kuat nunggu lagi."
Dengan tangan gemetar dan air mata yang membanjiri pipi, Arumi melepaskan gelang itu dan cincin koin itu. Ia menyimpannya ke dalam kotak musik kesayangannya, lalu menguncinya rapat-rapat.
Selamat tinggal masa lalu. Selamat tinggal cinta pertamaku.
📖 BAB 5: KEDATANGAN YANG TERLAMBAT
Tepat tiga hari sebelum hari pernikahan Arumi.
Suasana di rumah Arumi sangat sibuk. Rumah dihias indah, bunga-bunga bermekaran, tamu undangan mulai berdatangan. Arumi berdiri di depan cermin, memakai gaun pengantin putih yang sangat cantik dan mewah.
Tapi wajahnya datar. Tidak ada senyum bahagia. Hatinya terasa mati. Ia akan menikah dengan pria yang baik, tapi bukan pria yang dicintainya.
Tiba-tiba...
Dari arah jalan raya, terdengar suara mobil mewah berhenti mendadak di depan pagar rumah mereka.
Pintu mobil terbuka. Turunlah seorang pria tampan, tinggi besar, berpakaian sangat rapi dan modis, memakai kacamata hitam, dan membawa tas kerja kulit yang mahal.
Itu adalah Dika.
Tapi Dika yang sekarang sudah berubah total. Ia bukan lagi anak laki-laki kurus dan sederhana dulu. Ia datang sebagai pria sukses, kaya raya, dan sangat karismatik. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan predikat terbaik dan kini memegang jabatan tinggi di perusahaan besar.
Dika berlari kecil menuju pintu rumah, napasnya terengah-engah, wajahnya penuh semangat dan cinta.
"ZUMAAAA!!!" teriak Dika memanggil nama panggilan kesayangannya. "AKU DATANG MI! AKU SUDAH DATANG!"
"Aku sudah tepati janjiku! Lihat ini!" Dika mengangkat sebuah kotak beludru merah kecil di tangannya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang sangat besar dan indah, dan sepasang gelang emas yang mewah.
"Aku ganti janji aku Mi! Dari manik jadi emas! Dari koin jadi berlian! Ayo kita nikah sekarang! Ayo kita bahagia!"
😭 DUNIA YANG HANCUR
Tapi saat Dika masuk ke dalam rumah, apa yang dilihatnya membuat kakinya lemas seketika dan dunia seakan runtuh menimpanya.
Di ruang tamu, ia melihat Arumi berdiri memakai gaun putih nan indah. Dan di sampingnya, berdiri seorang pria lain yang menggenggam tangan Arumi.
Suasana hening total. Hanya suara hujan di luar yang terdengar.
Mata Dika terbelalak lebar. Mulutnya terbuka tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Kotak cincin di tangannya terlepas, jatuh ke lantai kayu.
JLEB!!!
Sangat sakit. Rasa sakit itu menusuk tepat ke jantungnya.
"Z... Zuma...?" panggil Dika dengan suara pecah dan bergetar hebat. "Ini... ini apa? Kamu... kamu mau nikah?"
Arumi terpaku melihat sosok di depannya. Wajahnya pucat pasi. Jantungnya berhenti berdetak.
Air matanya meledak seketika.
"DIKAAAAAAA!!!!" teriak Arumi histeris. "KENAPA KAMU BARU DATANG SEKARANG?! KENAPA GAK DARI DULU?!"
"Aku NUNGGU KAMU 6 TAHUN!!! 6 TAHUN LHO!!! Aku nunggu sendirian... Aku tolak semua orang... Aku jaga janji kita... Tapi kamu kemana aja?!" isak Arumi menangis sejadi-jadinya, jatuh berlutut di hadapan Dika.
"Maafin aku Mi... Maafin aku!!!" Dika juga ikut menangis, memeluk lutut Arumi. "Aku sibuk kerja keras! Aku mau buktikan aku bisa sukses biar aku pantas sama kamu! Aku nggak mau kamu menderita miskin lagi sama aku! Maafin aku telat sedikit aja..."
"SUDAH TERLAMBAT KAAAA!!!" teriak Arumi memecah keheningan. "Besok aku jadi istri orang lain! Semuanya sudah terlambat! Kenapa takdir sekejam ini sama kita?!"
📿 PERTEMUAN YANG MENGHANCURKAN
Dika menggenggam tangan Arumi. Ia melihat jari manis Arumi. Cincin koin itu sudah tidak ada.
"Dimana cincin kita Mi? Dimana gelang kita?" tanya Dika penuh harap.
Dengan gemetar, Arumi mengambil kotak musik itu, membukanya, dan memperlihatkan benda-benda itu yang sudah tergeletak diam di dalam sana.
Melihat gelang manik yang sudah pudar dan cincin koin yang lusuh itu, hati Dika hancur lebur.
"Ini... ini bukti cinta kita kan?" bisik Dika. "Kamu masih simpan... Berarti kamu masih sayang kan sama aku Mi?"
"Aku sayang Ka! Sayang banget!!! Tapi apa gunanya?! Kita udah di dua jalan yang beda! Kita nggak bisa balik lagi!"
📖 BAB 6: PILIHAN YANG SANGAT BERAT
Suasana menjadi sangat kacau. Keluarga Arumi dan calon mempelai pria terkejut melihat kejadian itu.
Calon suami Arumi, Pak Bimo, adalah orang yang bijaksana dan baik hati. Ia melihat betapa besarnya cinta dan kesedihan di antara dua insan itu. Ia melihat bagaimana mereka saling memandang dengan mata yang penuh air mata.
Bimo mendekati Arumi.
"Arumi..." panggil Bimo pelan. "Kalau hatimu sebenarnya ada di dia... Kalau kamu lebih bahagia sama dia... Kamu nggak perlu nikah sama aku. Aku nggak mau memaksamu. Aku nggak mau hidup sama orang yang hatinya nggak ada di sini."
"Tapi... tapi aku sudah janji Pak..." isak Arumi.
"Janji pada Tuhan dan pada hati sendiri itu lebih penting Arumi. Pergilah sama dia. Jangan sampai kamu menyesal seumur hidup."
🏃♂️💨 LARI MENUJU CINTA
Mendengar itu, tak ada lagi yang bisa menahan mereka.
Dika menggenggam tangan Arumi erat sekali.
"Ayo kita pergi Mi... Kita mulai dari awal lagi. Kita buktikan kalau cinta kita nggak akan mati walau hujan badai sekalipun."
"Iya Ka... Ayo!"
Di tengah hujan deras yang kembali turun membasahi bumi, Dika dan Arumi berlari meninggalkan tempat itu. Mereka berlari menuju mobil Dika, meninggalkan segala keraguan, meninggalkan segala aturan, dan mengejar kebahagiaan mereka sendiri.
📖 BAB 7: PELANGI SETELAH HUJAN
Beberapa tahun kemudian...
Di sebuah rumah kecil yang nyaman dan hangat,