Hujan sore itu di Tokyo punya aroma yang berbeda—campuran antara aspal basah dan rindu yang mendadak tiba-tiba. Aku duduk menyendiri, memeluk cangkir kopi yang hangatnya mulai merambat ke telapak tangan, mencari sedikit kenyamanan di tengah dingin yang menyusup. Di depanku, bukan 𝘈𝘮𝘦𝘳𝘪𝘤𝘢𝘯𝘰 atau 𝘊𝘢𝘱𝘱𝘶𝘤𝘤𝘪𝘯𝘰 mahal seperti milik orang-orang sibuk di sekitar sini, melainkan secangkir Milo hangat. Warna cokelatnya yang sederhana adalah favoritku, satu-satunya hal yang terasa jujur dan akrab di lidahku saat ini.
Di seberang jalan sana, sebuah papan nama berpendar kuning redup, membelah temaram kota: 𝗖𝗮𝗳𝗲́ 𝗟𝘂𝗻𝗮.
Aku tertegun. Luna. Sama seperti namaku, Luna Marwah.
Melihat nama itu tergantung di sana, aku merasa seperti sedang dipanggil pulang oleh diriku yang dulu. Dulu, aku hanyalah Luna yang berusaha menjadi rembulan bagi orang lain—selalu ingin menerangi, meski terkadang aku sendiri kehabisan cahaya. Sementara "Marwah" tetap kusimpan rapat sebagai harga diri, sebuah kompas yang menjagaku agar tidak benar-benar tersesat, meskipun hatiku sering kali merasa asing di tubuh sendiri.
Perjalananku sampai bisa duduk tenang di kursi kayu ini tidak pernah mudah. Bertahun-tahun aku hanyalah robot bernyawa. Hidupku habis untuk mengejar jadwal kereta, menunduk di depan layar komputer, dan pulang saat lampu-lampu jalan sudah bosan menyala. Aku masih ingat betul kalimat pedas Bos, aku tulis di pojok buku agenda ini, kalimat yang sempat membuat duniaku runtuh:
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘫𝘶, 𝘓𝘶𝘯𝘢. 𝘏𝘪𝘥𝘶𝘱𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘰𝘴𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯, 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶-𝘴𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨."
Kata-kata itu seperti vonis bahwa aku adalah manusia gagal yang sekadar figuran di film orang lain. Namun, perlahan-lahan, literasi menarikku keluar dari kegelapan itu. Awalnya hanya berupa amukan-amukan kecil di buku agenda kantor, tepat di bawah kalimat hinaan Bos tadi. Aku menulis tentang betapa lelahnya aku, tentang semburat jingga yang kulihat di sela gedung tinggi, atau rahasia yang kusimpan sendirian. Tak kusangka, coretan itu mulai punya nyawa.
Saat pertama kali jemariku memegang pena untuk menyusun sebuah cerita pendek di kafe ini, tanganku gemetar hebat. Ada rasa tidak percaya diri yang mengusik ketenanganku. 𝘈𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶? 𝘚𝘪 𝘬𝘶𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘶?
Seketika bayangan masa sekolah muncul—aku masih bisa mendengar gema tawa itu. Tawaku sendiri, yang paling nyaring di antara gerombolan gadis di lorong sekolah, saat kami melihat Jia berjalan menunduk dengan tumpukan buku di dadanya.
"Si Kutu Buku Culun!" teriakku waktu itu. Aku melihat bahunya sedikit merosot, namun ia tak pernah menoleh. Ia hanya masuk ke dalam perpustakaan, tempat yang dulu dianggap sebagai tempat pengasingan bagi orang-orang yang "tidak punya kehidupan."
Kini, bertahun-tahun kemudian, di sebuah sudut sunyi di Tokyo, aku justru sedang memeluk sebuah buku catatan seolah itu adalah pelampung satu-satunya agar aku tidak tenggelam. Jia, kalau saja kau bisa melihatku sekarang.
Aku duduk dengan jemari yang gemetar, persis seperti jemarimu dulu saat membalik halaman buku. Dulu aku sombong karena merasa punya dunia yang luas dan berisik, sementara kau hanya punya duniamu yang kecil dalam tulisan. Ternyata, aku salah besar. Duniamu yang luas, Jia. Duniamu yang abadi, sementara duniaku yang dulu kini sudah menguap habis dihancurkan kata-kata pedas bosku dan rutinitas yang meredupkan cahaya di dalam diri.
Ada rasa perih yang telat datang. Saat aku menuliskan kalimat pertamaku untuk sebuah cerpen, aku merasa sedang mencuri sedikit keberanian yang dulu kau miliki setiap hari. Aku menyakiti karena aku takut pada keheninganmu. Aku menghinamu karena sebenarnya aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa merasa cukup hanya dengan kata-kata. Sekarang, aku mengerti.
Setiap kali aku menggoreskan pena, aku seperti sedang mengeja kata "maaf". Maaf karena pernah menertawakan duniamu yang kini justru menjadi tempatku mengungsi. Maaf karena pernah menganggap kamu culun, padahal kaulah yang paling berani menghadapi hidup dengan kejujuran, sementara aku hanya bersembunyi di balik sorak-sorai yang kosong. Takdir seolah menyadarkan aku; aku justru berakhir di posisi Jia, mencari pelarian di antara tumpukan kertas.
Menulis cerpen bagiku akhirnya bukan lagi soal merangkai kalimat indah, tapi soal bertahan hidup. Di balik jendela kaca ini, aku melihat dunia dengan mata berbeda. Ada luka di balik payung ungu wanita di trotoar, ada ambisi yang lari terburu-buru dalam jas pria itu, dan ada keajaiban kecil di papan nama Café Luna.
Di sela uap Milo hangat ini, aku membayangkan Jia ada di meja seberang. Ia mungkin akan tersenyum kecil tanpa dendam, melihat si Luna yang dulu nakal kini justru sibuk bergulat dengan titik dan koma. Cerita pertamaku ini mungkin belum sempurna. Tapi di setiap paragrafnya, ada sedikit nyawa Jia yang dulu pernah kucoba padamkan dengan tawa jahat.
Sekarang, di depan buku catatan yang sudah mulai terisi ini, aku bukan lagi Luna yang hanya diam menonton hidupnya berlalu. Aku adalah pemilik cerita ini. Hidupku mungkin tidak selalu penuh pesta; lebih banyak mendung dan gerimisnya. Namun justru di saat-saat paling sunyi inilah, kata-kata mengalir paling jujur.
Aku kembali menatap ke luar jendela, tersenyum kecil. Biarlah dunia sibuk dengan kebisingannya. Di sini, di pojok kafe dengan aroma Milo yang menenangkan, aku sudah menemukan tempat berteduh. Aku Luna Marwah, dan mulai detik ini, setiap titik dan koma yang ditulis adalah bukti bahwa aku benar-benar hidup.