Dinding kamar kos yang sempit ini terasa semakin menghimpit saat aku memandangi sebuah foto kusam yang warnanya sudah mulai menguning di bagian tepi. Di sana, seorang lelaki muda dengan rambut yang masih hitam legam sedang menggendong bocah perempuan berpipi merah. Bocah itu adalah Syarifa. Foto itu diambil tepat satu minggu sebelum badai menghancurkan segalanya. Orang-orang mungkin menghujatku sebagai pengecut yang melarikan diri, tapi mereka tidak pernah melihat bagaimana punggungku berdarah-darah mencoba menahan langit agar tidak runtuh menimpa istri dan anakku. Namun, langit itu terlalu berat, dan aku hanyalah manusia biasa yang terbuat dari tanah, bukan baja.
Dahulu, aku bukan hanya seorang ayah; aku adalah pemuja setiap tawa Syarifa. Aku ingat bagaimana aku rela bekerja lembur di gudang tekstil, mengangkut berpuluh-puluh bal kain hingga bahuku lecet, hanya demi membelikan sepasang sepatu roda yang ia inginkan. Aku ingat rasa lelah itu menguap seketika saat melihatnya meluncur di gang sempit depan rumah kontrakan kami sambil berteriak kegirangan. Tapi ekonomi adalah monster yang tidak punya perasaan. Krisis menghantam perusahaan tempatku bekerja, dan dalam satu malam, aku berubah dari seorang pencari nafkah menjadi seorang beban.
Konflik dimulai dari piring yang kosong. Ketika perut lapar, cinta sering kali kehilangan suaranya dan digantikan oleh teriakan. Istriku, ibu Syarifa, adalah wanita baik yang kelelahan oleh kemiskinan. Setiap hari kami bertengkar hanya karena urusan uang belanja yang tidak ada, tagihan listrik yang menunggak, dan biaya sekolah Syarifa yang mulai menumpuk. Aku mencoba mencari kerja serabutan—menjadi kuli panggul di pasar, tukang parkir, hingga pemulung barang bekas—tapi uang yang kukumpulkan tak pernah cukup untuk menambal lubang kebutuhan kami yang semakin menganga.
Puncaknya adalah sebuah malam hujan di bulan Desember, saat Syarifa berusia enam tahun. Ia demam tinggi, tubuhnya menggigil hebat di bawah selimut tipis yang sudah robek di beberapa bagian. Aku merogoh saku, hanya ada beberapa keping koin yang bahkan tidak cukup untuk membeli sirup penurun panas di apotek bawah. Aku melihat istriku menangis sesenggukan di pojok ruangan, menatapku dengan sorot mata yang penuh penghinaan dan keputusasaan. "Lelaki macam apa kamu?" bisiknya, namun suaranya lebih tajam dari teriakan. "Anakmu sakit, dan kamu hanya bisa berdiri di sana seperti patung!"
Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa harga diriku. Aku keluar rumah menembus hujan deras, nekat mendatangi rumah kerabat untuk meminjam uang, namun pintu-pintu tertutup rapat. Mereka tahu aku tak punya masa depan untuk membayar kembali. Aku pulang dengan tangan hampa, basah kuyup, dan hati yang remuk. Di depan pintu rumah, aku mendengar Syarifa mengigau memanggil namaku. Aku tidak sanggup masuk. Aku merasa seperti racun di dalam rumah itu. Aku berpikir, jika aku tetap di sana, mereka akan terus menderita bersamaku. Ego dan rasa rendah diriku mencapai titik didih yang salah. Aku berbisik pada pintu yang tertutup itu, "Kalian akan lebih baik tanpa aku."
Perceraian itu bukan karena aku berhenti mencintai mereka. Justru karena aku terlalu mencintai Syarifa, aku merasa dia berhak mendapatkan bapa yang lebih baik dari seorang pecundang yang tidak bisa membeli obat untuk anaknya. Aku menandatangani surat itu dengan tangan gemetar, memberikan hak asuh sepenuhnya pada ibunya, dan aku melangkah pergi ke kegelapan malam tanpa menoleh lagi. Itulah kesalahan terbesarku: aku mengira dengan menghilang, beban mereka akan berkurang. Aku tidak tahu bahwa luka karena ditinggalkan jauh lebih perih daripada luka karena kelaparan.
Tahun-tahun berikutnya adalah pengabdianku pada penyesalan. Aku hidup berpindah-pindah, dari satu terminal ke terminal lain, bekerja sebagai kuli bangunan di kota-kota yang jauh agar tidak perlu melihat bayanganku sendiri di mata orang-orang yang mengenalku. Namun, setiap kali aku melihat anak kecil di jalanan, hatiku berdenyut. Aku selalu menyisihkan sebagian kecil upahku yang tak seberapa, memasukkannya ke dalam sebuah kaleng biskuit tua, bermimpi suatu hari nanti uang itu bisa kuberikan pada Syarifa untuk kuliahnya. Tapi apa daya, takdir punya rencana lain. Syarifa tumbuh menjadi bintang, dan uang di kaleng biskuitku yang hanya ratusan ribu itu berubah menjadi penghinaan jika dibandingkan dengan kekayaannya sekarang.
Aku melihatnya di majalah saat ia mulai remaja. Wajahnya begitu mirip denganku, namun matanya memiliki ketegaran yang pasti ia pelajari dari ibunya. Aku ingin mendatanginya, ingin memeluknya dan menjelaskan bahwa aku pergi karena aku merasa gagal, bukan karena aku tak sayang. Tapi setiap kali aku berdiri di depan gedung tempat ia bekerja, keberanianku luntur. Aku melihatnya keluar dari mobil mewah, dikelilingi pengawal dan penggemar. Siapakah aku? Hanya seorang pria tua berbau keringat yang akan merusak citranya yang sempurna. "Jangan," bisik nuraniku. "Jangan tarik dia kembali ke dalam lumpur masa lalumu yang kelam."
Konflik batin ini tak pernah henti. Setiap hari adalah peperangan antara rindu dan rasa malu. Aku mencintai Syarifa lebih dari nyawaku sendiri, tapi mencintainya berarti membiarkannya tetap berada di singgasananya yang berkilau tanpa ada noda "ayah gagal" yang menempel padanya. Aku adalah bapa sejatinya, bapa yang memilih untuk mati di dalam ingatan anaknya agar sang anak bisa hidup tanpa beban sejarah. Aku adalah bapa yang rela dianggap jahat, dianggap tidak bertanggung jawab, hanya agar ia memiliki alasan untuk terus maju tanpa perlu mengasihani orang tua yang tak berguna.
Kini, melihatnya menjadi istri dari Sulaiman Akbar, aku menyadari bahwa lingkaran hidup ini memang aneh. Sulaiman, yang juga tumbuh besar di tengah prahara keluarganya, kini menjadi pelindung Syarifa. Mungkin mereka berdua saling memahami karena sama-sama memiliki ruang kosong di hati yang ditinggalkan oleh kesalahan orang tua. Aku hanya bisa berharap Sulaiman tidak akan pernah membuat kesalahan yang sama denganku. Aku berharap Sulaiman cukup kuat untuk bertahan saat badai ekonomi atau badai apa pun menghantam, karena meninggalkan orang yang dicintai adalah jenis kematian yang paling lambat.
Orang bilang bapa sejati adalah yang selalu ada. Tapi bagiku, bapa sejati adalah dia yang sanggup menanggung beban kebencian dari anaknya sendiri demi kebaikan masa depan sang anak. Aku adalah hantu dalam hidupnya, penunggu setia di balik layar kaca. Di sisa usiaku ini, aku tidak mengharapkan permintaan maaf darinya, karena dialah yang seharusnya menuntut permintaan maaf dariku. Aku hanya ingin ia tahu, dalam setiap sujudku yang tak pernah ia lihat, namanya adalah satu-satunya kata yang kupanjatkan pada Tuhan.
Aku melipat kembali foto tua itu, menyimpannya di dalam dompet yang sudah mengelupas. Aku akan terus berjalan di trotoar ini, menjadi debu di bawah kakinya yang melangkah menuju kebahagiaan. Jika suatu saat ia membaca tulisan ini dan bertanya-tanya siapa lelaki tua yang menangis di pojok kedai kopi saat hari pernikahannya, biarlah ia tidak pernah tahu jawabannya. Karena baginya, aku sudah lama mati di usia enam tahun, dan biarlah kenangannya tentang bapaknya tetap menjadi misteri yang tak perlu ia pecahkan. Cukuplah aku tahu bahwa anakku, Salju-ku, telah menemukan mataharinya.