Layar televisi di sudut kedai kopi ini tidak pernah berbohong, tapi ia sangat mahir menyayat hati. Di sana, di bawah sorotan lampu kristal yang berkilau, putriku—Syarifa Hadinah Salju—berdiri dengan keanggunan yang seolah dipinjam dari langit. Ia mengenakan gaun putih yang ekornya menyapu lantai, menggandeng seorang pemuda bernama Sulaiman Akbar. Pemuda itu, yang seluruh negeri tahu adalah putra dari seorang musisi besar yang hidupnya dulu penuh hiruk-pukuk skandal, kini menjadi sandaran hidup putriku. Mereka tampak begitu serasi, begitu sempurna, seolah-olah tidak ada ruang bagi debu atau noda untuk menyentuh kebahagiaan itu. Dan di sinilah aku, seorang lelaki tua dengan jemari yang gemetar memegang cangkir kopi plastik, duduk di barisan paling belakang kehidupan, menonton sejarah yang kutulis sendiri dengan tinta kegagalan.
Dunia mengenalku sebagai "ayah kandung" hanya dalam barisan teks berita atau kolom biografi singkat di internet. Namun, bagiku, gelar itu terasa seperti pakaian yang kekecilan dan berduri; ia menyesakkan napas dan melukai kulit. Orang-orang di kedai ini tidak tahu siapa aku. Mereka hanya melihat seorang pria dengan jaket kusam yang terlalu sering menatap layar televisi dengan mata berkaca-kaca. Mereka tidak tahu bahwa nama "Salju" yang disematkan di belakang nama Syarifa adalah nama yang kuberi dengan harapan ia akan memiliki hati yang putih dan murni, mendinginkan segala amarah yang dulu membakar rumah tangga kami.
Semua bermula dua puluh tahun yang lalu. Ingatan itu masih tajam, seperti sembilu yang sengaja diasah setiap malam. Syarifa saat itu baru berusia enam tahun. Ia adalah bocah dengan kuncir dua yang selalu berlari menyambutku di pintu depan setiap kali aku pulang kerja. "Bapa!" teriaknya, sebuah kata yang sekarang terdengar seperti lonceng kematian bagi harga diriku. Hari itu adalah hari terakhir aku merasakan pelukan kecilnya. Ego, amarah, dan ketidakmampuan untuk saling memahami antara aku dan ibunya membuat kami memilih jalan pintas bernama perceraian. Aku pergi dengan kemarahan yang meluap, membawa koper yang ringan namun memikul rasa benci yang berat. Aku berpikir, hidup akan lebih mudah tanpa beban keluarga. Betapa bodohnya aku. Aku tidak hanya meninggalkan sebuah rumah; aku meninggalkan sebuah jantung yang berdetak.
Sejak hari itu, aku menghilang. Bukan karena diculik atau tersesat di hutan, tapi aku memilih untuk menyesatkan diriku dalam rasa malu dan pelarian. Satu tahun menjadi dua tahun, hingga tanpa sadar, dua dekade telah terlampaui. Aku mendengar kabarnya hanya melalui desas-desus, lalu melalui majalah, dan akhirnya melalui berita nasional saat namanya mulai melambung sebagai bintang besar. Syarifa Hadinah Salju tumbuh menjadi wanita yang tangguh tanpa sedikit pun campur tangan dariku. Ia belajar berjalan, belajar membaca, menangis saat patah hati pertama kali, hingga mencapai puncak kariernya, semuanya tanpa kehadiran sosok yang seharusnya menjadi pelindungnya yang paling depan.
Kini, ia menikah. Ia dipersunting oleh Sulaiman, satu dari tiga bersaudara—Sal, Sul, dan Sil—yang hidupnya pun tak lepas dari sorotan karena drama orang tua mereka di masa lalu. Aku melihat mertua putriku di layar televisi, sang musisi yang dulu sempat jatuh karena skandal namun berhasil bangkit dan merangkul anak-anaknya. Aku iri padanya. Lelaki itu mungkin pernah melakukan kesalahan fatal, tapi ia ada di sana. Ia berdiri di samping Sulaiman. Ia memeluk Syarifa seolah Syarifa adalah anaknya sendiri. Sementara aku? Aku bahkan tidak punya keberanian untuk sekadar mengirimkan pesan singkat berisi ucapan selamat.
Bapa macam apa aku ini? Pertanyaan itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalaku. Seorang bapa adalah akar, yang meski tak terlihat, ia memberi kekuatan agar pohon bisa berdiri tegak menantang badai. Namun aku adalah akar yang membusuk dan melepaskan diri sebelum pohon sempat tumbuh. Aku melewatkan masa-masa keemasan Syarifa. Aku tidak ada di sana untuk mengusir mimpi buruknya. Aku tidak ada di sana untuk mengusap air matanya saat ia merasa dunia terlalu kejam. Dan sekarang, saat ia menemukan dermaga untuk melabuhkan hatinya, aku hanya bisa menjadi penonton anonim yang membayar kopi seharga belasan ribu rupiah untuk sekadar menumpang melihat wajahnya di TV.
Setiap kali aku melihat foto-fotonya di media sosial yang diunggah para penggemar, aku selalu mencari-cari apakah ada guratan wajahku di sana. Mungkin lengkung senyumnya, atau cara matanya menyipit saat tertawa. Ada rasa bangga yang muncul secara ilegal di dadaku—bangga yang tidak pantas kumiliki. "Itu anakku," bisik nuraniku. Tapi seketika itu juga kenyataan menampar: "Bukan, dia bukan anakmu lagi. Dia adalah anak dari perjuangan ibunya yang kau tinggalkan, dan anak dari kemandirian yang ia bangun dari puing-puing kerinduan yang tak pernah kau penuhi."
Pernikahan ini adalah puncak dari segala kesedihanku. Melihat Sulaiman Akbar menjabat tangan wali—yang tentu saja bukan aku—terasa seperti vonis mati bagi peran kebapaanku yang memang sudah lama mati suri. Sulaiman adalah pemuda yang baik, setidaknya itu yang terbaca dari sorot matanya yang tulus. Ia berasal dari keluarga yang berantakan namun berhasil menemukan keutuhan kembali. Ironisnya, Syarifa keluar dari keluarga yang tampak tenang di permukaan tapi menyimpan lubang besar di tengahnya karena kepergianku. Mereka berdua adalah dua jiwa yang mencoba menyembuhkan luka masa lalu dengan membangun masa depan bersama.
Aku sering membayangkan, andai waktu bisa diputar kembali ke sore itu saat ia berusia enam tahun. Aku ingin berlutut di depannya, memegang tangan kecilnya, dan berkata, "Bapa tidak akan pergi ke mana pun. Bapa akan di sini, meski badai datang, meski kita tidak punya apa-apa." Namun, kata-kata itu kini hanya menjadi hiasan dalam lamunan yang sia-sia. Penyesalan adalah satu-satunya harta yang kupunya sekarang, dan ia adalah harta yang paling tidak berharga di dunia ini.
Malam semakin larut, dan acara resepsi di televisi itu mulai berakhir. Aku melihat Syarifa dan Sulaiman berdansa perlahan. Di bawah lampu-lampu yang temaram, Syarifa tampak sangat bahagia. Ada kedamaian di wajahnya yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Mungkin, ketidakhadiranku justru adalah berkah baginya. Mungkin, jika aku ada di sana, aku hanya akan menjadi beban atau pengingat akan masa lalu yang kelam. Pikiran itu menyakitkan, tapi mungkin itulah kebenarannya. Cinta seorang ayah yang gagal terkadang memang paling baik ditunjukkan melalui jarak, agar sang anak bisa terbang tanpa harus terbebani oleh bayang-bayang kegagalan orang tuanya.
Aku berdiri dari kursi kedai, merapatkan jaket untuk menghalau angin malam yang mulai menusuk tulang. Aku berjalan menyusuri trotoar, melewati baliho besar yang menampilkan wajah putriku sebagai duta sebuah merek kecantikan. Aku berhenti sejenak, menatap matanya yang ada di poster itu. "Selamat, Salju," bisikku pelan, hampir tak terdengar oleh deru kendaraan yang lewat. "Maafkan Bapa yang pengecut ini. Bapa yang hanya berani mencintaimu dari kejauhan, bapa yang hanya berani mendoakanmu saat dunia sudah terlelap."
Aku tahu, suatu hari nanti, mungkin di kehidupan yang lain, aku akan mendapat kesempatan untuk meminta maaf. Tapi untuk sekarang, biarlah aku tetap menjadi orang asing baginya. Biarlah ia terus bersinar tanpa tahu bahwa di sudut kota yang gelap, ada seorang lelaki tua yang selalu menyebut namanya dalam setiap napas yang tersengal. Aku akan terus hidup dengan rasa sakit ini, karena itulah satu-satunya cara bagiku untuk tetap merasa terhubung dengannya. Rasa sakit ini adalah bukti bahwa aku pernah memilikinya, meski aku sendiri yang membuang permata itu ke dalam lumpur.
Langkahku membawaku menjauh dari keramaian, kembali ke rumah sepi yang hanya berisi kenangan-kenangan usang dan potongan kliping koran tentangnya. Aku akan merebahkan diri, memejamkan mata, dan berharap dalam mimpi aku bisa kembali ke masa dua puluh tahun lalu—hanya untuk sekali lagi, mendengar suara kecilnya memanggil "Bapa" sebelum semuanya terlambat. Bapa macam apa aku? Aku adalah bapa yang kalah, namun tetap berharap bahwa di setiap tawa putriku, ada sepotong doa yang diam-diam tersampaikan untuk keselamatannya, meski ia tak pernah tahu dari mana doa itu berasal. Selamat menempuh hidup baru, Syarifa. Maafkan Bapa.