Judulnya pas: *Royal yang Paling Mahal*
---
Dulu aku pikir, “royal” itu artinya dia traktir aku steak tiap minggu, beliin tas yang aku tunjuk di etalase, dan selalu bilang “iya” pas aku manja minta dijemput jam 11 malam cuma buat beli martabak.
Namanya Ahmad pamungkas Baik,Sabar,Ngerti aku,Kalau aku ngambek karena chat-nya dibales lama, dia bakal datang bawa es krim, duduk di lantai kosan, dan dengerin aku ngomel tiga jam tanpa protes.
Sampai aku percaya, tubuh ini aman kalau aku serahkan ke dia. Karena dia Ahmad yang royal, Ahmad yang baik dan Ahmad yang gak mungkin nyakitin aku.
Tiga bulan setelah itu, dua garis biru muncul di testpack Tanganku gemetar,Tapi aku senyum. Ini anak Ahmad pamungkas. Anak dari laki-laki paling royal dan baik yang pernah aku kenal.
Aku kasih tau dia di taman kota, tempat biasa kita nongkrong.
“ahmad, aku hamil” kataku, gugup tapi bahagia.
Dia diam, Lama Rokok di tangannya gak dia hisap. Matanya gak lihat aku. Matanya lihat ke arah lain. Ke arah perempuan yang duduk di bangku seberang. Perempuan yang melambai ke dia.
“Siapa dia?” tanyaku.
Ahmad baru nengok, “Oh Temen.”
“Temen” yang dia samperin lima menit kemudian, ninggalin aku sendirian dengan testpack di genggaman dan perut yang tiba-tiba mual bukan karena morning sickness,Tapi karena kenyataan.
Sejak hari itu,ahmad menghilang. WA centang satu,Telepon gak diangkat, Kosannya kosong tidak ada sama sekali.
Aku sendirian,Mual sendirian,Nangis sendirian,Ke dokter sendirian.
Sampai malam itu, aku jatuh di kamar mandi,Darah Banyak Sakitnya bukan di perut,Tapi di dada.
Dokter bilang, “Janinnya gak bisa dipertahankan Mbak, Maaf Janinnya keguguran karena stres berat.” disitu aku bahagia bercampur kesedihan bagaimanapun dia anak tak berdosa,tapi disisi lain aku bahagia karna anak itu tak ada lagi dalam perutku.
Aku tidak benci kepada anak itu karna dia tidak bersalah tapi aku juga tak bisa menahan rasa malu jika dia lahir kedunia ini,seperti apa tatapan orang kepada ku nantinya,disisi lain aku hanya benci ayahnya yang tak mau bertanggung jawab.
Anak pertama Ahmad tak pernah lahir ke dunia dia hilang bersama kenangan manis yang kudapat dengan kata royal.
Aku hancur? Iya. Seminggu aku gak keluar kamar,Sebulan aku gak ngaca.
Sampai suatu hari, aku lihat wajah sendiri di cermin Pucat,Kuyu,Kalah.
Dan aku benci wajah itu,wajah yang membuat aku muak bahkan hanya untuk menatap dicermin sekalipun.
Raga gak pernah nanya kabarku,Gak pernah minta maaf. Gak pernah peduli bayiku hilang karena ulahnya.
Setahun kemudian, undangan nikah digital mampir di Instagram,Ahmad & Alina. Perempuan di taman kota itu,Foto prewed mereka mesra. Caption-nya: “Akhirnya pelabuhan terakhir.”
Aku tertawa,Tawa yang pait. Aku tak pernah menyangka mereka berbahagia diatas penderitaan yang aku alami selama ini 1 tahun aku berjuang sendirian menghadapi trauma yang aku dapatkan karna dirinya itu.
Tahun-tahun setelahnya aku pakai buat bayar semua tagihan sakit hati itu. Kerja pagi-malem,Bisnis kecil-kecilan,Uangnya aku pakai buat ke gym, ke salon, ke dokter kulit, ke psikolog. Bukan buat Ahmad tapi untuk diriku sendiri dan aku sadar aku bisa mendapatkan yang lebih dari nya.
Aku mau cantik,Bukan biar dia nyesel. Tapi biar aku gak kenal lagi sama perempuan kuyu di cermin dulu.
Sekarang,Lima tahun berlalu.
“Rania, kamu beda banget Cantik banget sekarang.”
Chat dari nomor tak dikenal. Aku tahu itu Ahmad. Dia ganti nomor tiga kali, aku blokir tiga kali.
Dia mulai ‘salah kirim’ story,Komen di akun olshop-ku pakai akun fake dan Titip salam lewat temen.
Kemarin, temenku bilang “Raga nanya-nanya lo Katanya lo glowing parah, Bininya... ya gitu deh, habis lahiran.”
Aku buka Instagram Alina Istrinya,Ada foto anak mereka,Lucu Umur 3 tahun.
Dadaku gak sakit lagi lihat itu, Yang ada cuma dingin dan rasa benci yang begitu dalam selama ini.
Ahmad kira aku terpuruk karena dia,Dia kira aku bangkit biar dia nyesel.
Dia salah.
Aku bangkit karena akhirnya aku ngerti arti “royal” yang sebenarnya.
Royal itu bukan dia yang traktir aku steak.
Royal itu aku, yang masih mau bangun tiap pagi setelah kehilangan semuanya.
Royal itu aku, yang bayar semua sesi psikolog demi waras.
Royal itu aku, yang milih rawat diri sendiri, bukan rawat dendam.
Dia chat lagi malam ini.
“Ra, bisa ketemu? Aku kangen,Aku salah dulu Aku nyesel.”
Aku baca,Aku senyum. Bukan senyum karna baper tapi karna kemenangan sudah ada di tangan ku.
Sambil tersenyum sinis aku trus memblokir Nomor keempatnya itu dan aku akan terus memblokir nomor nya sampai dia tau apa itu putus asa.
Aku tak akan pernah menerima maaf nya itu karna maaf nya sama sekali tak berharga.
Tapi harga diriku?
Itu hal paling mahal yang pernah kamu sia-siain. Dan stoknya udah habis,Khusus buat kamu.
Sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan pasangan itu yang membuat aku hancu,tapi aku bersyukur karna hal itu lah aku bangkit dari titik terendah ku dan bangkit dengan sakit yang dia berikan itu sampai dia menyesal telah meninggalkan aku dahulu.
Aku matiin HP Ngaca Perempuan di cermin udah gak kuyu,aku cantik,aku utuh,aku mahal dan aku tak akan pernah mengulangi kesalahan itu lagi.
Perempuan cantik ini sekarang tak akan pernah menjadi milik mu lagi selamanya karna dirimu sendiri yang dulu menyia-nyiakan dirinya dan meninggalkan nya disaat semuanya kacau.
Bertahun-tahun berlalu aku sudah tidak tau tentang kabarnya,dia sudah tak pernah lagi nge dm disosial media mana pun. aku pun memulai kehidupan yang baru disaat aku fokus hanya kepada diriku sendiri disaat itulah aku mendapatkan laki-laki yang mengusahakan diriku.
Tentu aku tak langsung percaya begitu saja kepada pria itu,aku mulai bercerita tentang masa lalu ku yang bisa dibilang sangat tidak baik,dia bisa menerima itu dan siap menjalani setiap resiko yang akan ada didepannya nanti,dia membuktikan bahwa dia bisa dipercaya.
3 bulan berlalu dan dia masih tetap bertahan,aku mulai luluh,tapi belum menerimanya juga karna masih takut akan masa lalu. Sampai pada akhirnya setengah tahun berlalu dan aku menerima dia aku mengagumi effort,rasa sabarnya,kekhawatiran nya terhadap ku dan juga kebaikan nya. Tetapi aku masih khawatir akan masa lalu sampai akhirnya ada hari dimana dia membawa hubungan ini kejenjang keseriusan,dan yaa itu pertunangan.
Akhirnya aku yakin terhadap dirinya dan aku melangkah tanpa takut akan ditinggalkan dan diduakan.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk menikah dengannya aku sudah yakin dengan pilihan ku dan kami melangsungkan pernikahan dengan meriah. Tak berapa lama aku mendengar bahwa Ahmad menceraikan istrinya,aku bahagia karna pada akhirnya hubungan yang dijalin diatas penderitaan aku hancur juga, sedangkan aku sedangkan berbahagia bersama suami dan memiliki 2 anak.
Aku senang memiliki Argantara sebagai suami ku dan kami menjadi keluarga yang sempurna tanpa kekurangan apapun didalamnya.