Hujan di luar mengetuk kaca jendela, seirama dengan degup jantungku yang berat,ruangan ini terasa hangat, tapi justru membuatku semakin tersudut. Di sini, di antara dinding-dinding yang sunyi, bayang-bayang masa lalu datang menyerbu. Kenangan-kenangan yang seharusnya sudah larut dan hilang, kini justru terkuak kembali, membuat pikiranku semakin kusut tak berujung.
Aku merasa hanyut di dalam duniaku sendiri. Dunia yang kelam, seram, dan semakin redup. Rasanya seperti binasa, perlahan-lahan. Aku ingin menjerit, meluapkan semua rasa sakit yang aku terima—dari orang-orang yang tak pernah berusaha mengerti, yang hanya menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.
Setiap hari kulalui dengan langkah yang berat. Aku hanya berharap, suatu saat ada makna yang bisa aku genggam. Aku rindu senyumku yang dulu. Senyum yang tulus, yang kini entah pergi ke mana. Aku ingin ia kembali, secepat ia lahir pertama kali, seindah saat pertama kali aku merasakan bahagia.
Tidak ada satu pun manusia yang meminta takdir berat seperti ini. Tidak ada yang ingin hidup dalam luka. Namun, di tengah badai yang menerpa, ada satu keyakinan yang tetap menancap kuat di hatiku.
“Tapi menurutku, Tuhan itu baik."
Bisikan itu selalu muncul. Entah dari mana, tapi ia hadir menenangkan. Mungkin Tuhan sedang merangkai ceritaku menjadi sesuatu yang hebat. Mungkin jalan yang berliku ini bukan untuk menjatuhkanku, tapi untuk membentukku menjadi lebih kuat. Aku belajar untuk menunggu dengan hati yang lapang, belajar bertahan dalam segala macam alur hidup yang tak terduga.
Aku percaya, semua perjuangan ini tidak akan sia-sia. Suatu saat nanti, aku pasti akan bisa menembus gelap ini dan bertemu dengan cahaya.
Hari-hari masih terus berjalan. Masih ada rasa lelah, masih ada rindu akan senyum itu. Tapi harapanku tak pernah padam. Aku yakin, Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang indah. Dan sampai saat itu tiba, aku akan tetap bertahan, karena aku tahu... Tuhan itu sungguh baik.