Sebuah rumah yang berisi keluarga kecil berjalan tenang damai tetapi mereka melupakan seseorang yang dulu berharga dan sekarang di gantikan posisinya dengan adik tiri dan ibu tirina. Sebelum di ganti gadis ini merasa senang bahagia setelah ia di gantikan posisinya ia menjadi bayang bayang sang keluarga hingga keluarga tersebut melupakannya perlahan lahan bagaikan angin yang berlalu.
Setiap malam gadis itu berharap. "Dunia.., kenapa engkau sungguh tak adil? Kapan aku mendapatkan bahagia dari keluarga ku? Aku ingin bahagia seperti yang lain, aku tak ingin menjadi bayang bayang merreka saja, tapi apakah mereka masih memiliki mata untuk melihat wajahku walau sebentar ?", gadis itu menatap jendela kamar berharap mendapatkan jawaban dari dunia.
Pada saat makan malam bersama kali ini gadis itu ingin mengungkapkan secara terang kepada keluarga nya yang mementingkan kakak dan adik nya dari pada gadis itu. "Ayah..ibu...", suara gadis itu membuat meja makan yang awalnya canda tawa menjadi hening bagaikan taman di malam hari. "Ada apa?", tanya sang ibu tiri yang menjawab tanpa melihat wajah gadis itu atau lebih tepatnya berpura pura baik di depan suami dan anak anak nya. "Bolehkah aku.. meminta kalian Untuk melihat ku ?",gadis itu bertanya walau ragu.
"Kamu itu manja sekali padahal udah besar stop dengan sikap anak anak mu ibu dan ayah capek dengan sikap ke kanak Kanakan mu itu!", jawab sang ibu sinis tanpa peduli. "Ta-.." "cukup kamu kembali ke kamar mu kamu berisik sekali ibu capek denger omongan mu itu hanya membual dan tak penting."
Belum sempat gadis itu berbicara tapi ibu tirinya memotong nya dengan perkataan yang tajam bagaikan panah yang terkena sasaran tepat pada tempatnya. Gadis itu pun menatap mereka dan. "Kapan kalian memperhatikan ku?,kapan kalian memiliki mata untuk melihat ku? Kapan kalian mau mendengarkan ku?, kapan?, kapan ?kapan ayah ibu ? Aku juga berhak bahagia tidak bagaikan bayang bayang saja aku capek sebagai bayangan", Terjatuhlah butiran bening hingga membuat semua keluarga terdiam.
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan dik", ucap sang kakak tegas tanpa peduli perasaan sang adik. "Kenapa? Aku capek aku benci kalian kalian tak pernah memfikirkan perasaan ku kalian selalu melupakan ku, aku benci keluarga ini " ucap saaang gadis dengan nada tinggi dan melampiaskan amarahnya hingga 'PLAK, sebuah tamparan melayang ke pipi gadis itu dari sang ayah."sudah cukup kamu hanya banyak bicara berisik dan kata kata mu.", ucap sang ayah marah.