Hari pertama sekolah setelah masa orientasi selesai selalu terasa canggung bagi sebagian orang. Tapi bagiku, hari itu terasa lebih aneh dari biasanya.
Aku datang terlalu pagi.
Kupikir jam masuk sekolah adalah jam tujuh. Jadi ketika matahari baru naik sedikit di langit, aku sudah berdiri di depan gerbang sekolah dengan tas di punggung. Tapi setelah melihat papan jadwal di dekat pos satpam, aku baru sadar.
Jam masuk sebenarnya jam delapan.
Sekolah masih sangat sepi.
Gerbang memang sudah terbuka, tapi halaman sekolah kosong.
Tidak ada suara siswa, tidak ada langkah kaki, tidak ada tawa. Hanya angin yang melewati pepohonan dan suara sepatuku sendiri yang bergema di lantai koridor.
“Ya ampun… kepagian banget,” gumamku pada diri sendiri.
Aku masuk ke kelas, menaruh tas di bangku dekat jendela, lalu keluar lagi. Rasanya aneh duduk sendirian di kelas kosong.
Saat keluar dari pintu kelas, aku berjalan tanpa melihat ke depan.
Dan dalam satu detik semuanya terjadi.
“Eh—!”
Aku hampir saja menabrak seseorang.
Cowok di depanku refleks menghindar dengan cepat. Kami sama-sama terkejut.
Kalau dia tidak mundur satu langkah, mungkin kepala kami sudah saling terbentur.
Jantungku berdetak kencang.
“Maaf… aku nggak lihat ke depan,” kataku sambil memegang dada.
Dia menatapku sebentar.
Tatapan yang tenang, sedikit kaget, tapi cepat kembali datar.
Untuk sesaat, seolah dia ingin mengatakan sesuatu.
Tapi dia hanya mengangguk kecil.
“Tidak apa-apa.”
Itu saja.
Lalu dia berjalan melewatiku menuju ujung lorong.
Aku berdiri mematung beberapa detik.
“Serius cuma gitu doang?” gumamku pelan.
Cowok itu masuk ke kelas IPA 2.
Yang paling kuingat dari penampilannya saat itu hanya satu hal—
rambutnya sangat pendek.
Bahkan hampir botak sampai kulit kepalanya terlihat.
Beberapa hari kemudian, saat istirahat pertama, aku duduk di tangga di depan kelas bersama temanku.
Kelasku kebetulan berada tepat di samping kantin, jadi hampir semua siswa yang ingin membeli makanan pasti melewati lorong di depan kelas kami.
Lorong itu selalu ramai saat istirahat.
Dan di tengah keramaian itu, aku melihatnya lagi.
Cowok dengan rambut hampir botak itu.
“Oh itu dia lagi,” bisikku pada temanku.
“Yang mana?”
“Itu… yang rambutnya hampir botak.”
Temanku langsung menoleh.
Kami sama-sama memperhatikannya.
Dan jujur saja, aku hampir tertawa.
“Kenapa sih rambutnya dipotong segitu?” bisikku sambil menutup mulut.
Temanku ikut menahan tawa.
“Kayak pasien kanker ya,” kataku pelan.
“Eh jangan gitu,” temanku menegur, meski dia sendiri hampir tertawa.
Aku mencoba menahan diri. Tidak enak juga kalau sampai dia mendengar.
Anehnya, dia sama sekali tidak memperhatikan kami.
Dia berjalan bersama dua temannya menuju kantin. Langkahnya santai. Wajahnya tenang.
Tapi saat melewati tangga tempat kami duduk—
dia melirik sekilas ke arahku.
Cepat sekali. Hampir tidak terlihat.
Aku langsung pura-pura menoleh ke arah lain.
Entah kenapa, aku merasa sedikit bersalah.
Hari-hari berlalu.
Aku mulai terbiasa melihatnya lewat di depan kelas setiap hari.
Awalnya dia hanya menjadi hiburan kecil bagiku.
Setiap kali pelajaran terasa membosankan, aku akan menunggu dia lewat.
Bukan karena apa-apa.
Hanya karena menurutku rambutnya yang hampir botak itu lucu.
“Eh, botaknya lewat,” bisikku suatu hari.
Temanku langsung menoleh.
Kami tertawa kecil.
Empat bulan berlalu.
Rambutnya mulai tumbuh.
Suatu hari saat dia lewat di depan kelas, temanku tiba-tiba berkata,
“Alysa.”
“Hm?”
“Itu anak yang kamu ejek dulu…”
Aku menoleh.
“… sebenarnya ganteng loh.”
Aku memperhatikannya lebih lama dari biasanya.
Matanya agak sipit.
Kulitnya kuning langsat.
Rambutnya lurus dan sekarang sudah cukup panjang.
Dan saat dia tersenyum kepada temannya—
ada satu lesung pipi kecil di pipi kirinya.
Aku terdiam sejenak.
“Iya juga ya…” gumamku pelan.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikannya lebih sering.
Suatu hari aku bertanya pada temanku.
“Eh… kamu kenal anak IPA 2 yang dulu rambutnya hampir botak?”
Temanku langsung tertawa.
“Oh, kamu maksud Natan?”
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
“Namanya Natan?”
“Iya. Dia tetanggaku.”
Aku mencoba terlihat santai.
“Orangnya gimana?”
“Pendiam sih,” jawab temanku. “Tapi sebenarnya dia baik. Kalau sudah dekat dia juga rame kok.”
Aku mengangguk pelan.
Sejak hari itu aku mulai bertanya banyak hal tentangnya.
Pelan-pelan.
Seolah hanya sekadar penasaran.
“Dia anak tunggal?”
“Bukan.”
“Orang tuanya kerja apa?”
“Ibunya guru di sekolah kita.”
Setiap informasi kecil tentangnya terasa penting bagiku.
Sampai suatu hari temanku berkata,
“Dia juga seiman sama kita kok.”
Aku hanya mengangguk.
Tapi di dalam hati, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Butuh waktu lebih dari satu semester sampai akhirnya aku mengaku pada diriku sendiri.
Aku duduk sendirian di kelas sore itu.
Lorong sudah sepi.
Aku menatap keluar jendela.
“Jadi… aku suka dia ya?” bisikku pelan.
Itu pertama kalinya aku jatuh cinta.
Aku mulai memperhatikannya setiap hari.
Diam-diam.
Tidak ada yang tahu.
Kadang aku bahkan merasa bersalah.
Karena aku ingat sesuatu yang pernah kuucapkan dalam doa di gereja.
Aku pernah berkata pada Tuhan,
“Kalau bisa… aku tidak ingin pacaran sebelum lulus SMA. Aku ingin fokus sekolah.”
Janji itu kuingat dengan jelas.
Dan mungkin karena itu aku memilih tetap diam.
Melihatnya dari jauh.
Selalu dari jauh.
Suatu hari aku melihat sesuatu yang membuat dadaku terasa aneh.
Di kantin.
Natan duduk berhadapan dengan seorang gadis.
Gadis itu cantik.
Pintar.
Dan beberapa minggu kemudian kabar itu menyebar di sekolah.
“Natan pacaran sama anak sekelasnya.”
Temanku mengatakan itu sambil makan di kantin.
Aku hanya tersenyum kecil.
“Oh ya?”
Padahal di dalam hatiku terasa seperti sesuatu yang runtuh perlahan.
Sejak hari itu aku sering melihat mereka bersama.
Duduk berdampingan.
Berjalan di lorong sekolah.
Tertawa pelan.
Kadang saat mereka lewat di depan kelas, aku mencoba tidak melihat.
Tapi entah kenapa mataku selalu mencari Natan.
Dan kadang—
dia juga melirik sekilas ke arah kelasku.
Tatapan singkat.
Cepat sekali.
Seolah hanya kebetulan.
Aku tidak pernah tahu apa arti lirikan itu.
Dan mungkin memang tidak ada arti apa-apa.
Hari kelulusan akhirnya tiba.
Hari terakhir kami berada di sekolah itu.
Aku berdiri di depan kelas IPA 2 hampir lima jam menunggu.
Dia pasti datang untuk mengambil ijazahnya.
Setidaknya aku bisa melihatnya sekali lagi.
Hanya sekali.
“Dia pasti datang… kan?” gumamku.
Waktu berjalan sangat lambat.
Sampai akhirnya pintu kelas terbuka.
Yang keluar bukan Natan.
Melainkan ibunya.
Di tangannya ada ijazah milik Natan.
Saat itu aku langsung mengerti.
Dia tidak datang hari itu.
Dadaku terasa kosong.
“Tuhan… ternyata aku memang tidak boleh melihatnya lagi ya.”
Satu tahun berlalu.
Aku menjadi mahasiswa.
Tidak ada kabar tentang Natan.
Sampai suatu malam saat aku membuka Instagram, muncul saran akun.
Natan.
Tanganku berhenti di layar.
Aku menatap foto profilnya cukup lama.
“Follow nggak ya…”
Setelah ragu beberapa menit, aku akhirnya menekan tombol itu.
Beberapa saat kemudian muncul notifikasi.
Natan mengikuti Anda kembali.
Jantungku berdegup kencang.
Aku membuka story-nya untuk pertama kali.
Dan di situlah aku melihat sesuatu yang membuat hatiku kembali retak.
Dia sedang menyukai seseorang di kampusnya.
Beberapa hari kemudian bio Instagram-nya berubah.
Nama seorang gadis.
Mereka resmi berpacaran.
Aku menatap layar ponsel cukup lama.
Dan untuk kesekian kalinya, aku merasa kalah oleh seseorang yang bahkan tidak pernah kukenal.
Tahun demi tahun berlalu.
Perasaan itu tidak benar-benar hilang.
Sampai akhirnya tujuh tahun sejak pertama kali aku hampir menabraknya di lorong sekolah.
Aku membuat keputusan.
Aku membuka DM Instagram-nya.
Lalu menulis pesan.
“Hai, Natan.
Maaf kalau pesan ini tiba-tiba.
Aku cuma ingin jujur sekali saja.
Aku sudah menyukaimu sejak SMA.
Tapi kamu tidak perlu merasa terganggu.
Aku tahu kamu bahagia dengan orang yang kamu pilih.
Aku hanya ingin mengatakan ini sebelum aku benar-benar pergi.”
Aku membaca pesan itu beberapa kali.
Lalu mengirimnya.
Setelah itu aku menarik napas panjang.
Dan menekan tombol unfollow.
Hari aku meninggalkan kota itu, aku menoleh ke belakang sekali lagi.
Jalan yang dulu sering kulewati.
Gedung sekolah yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang cintaku padanya yang tak berhasil ku gapai.
Aku mengingat semuanya.
Bahkan tempat tinggalku, yang menjadi saksi bisu tangisan serta ribuan kata kata yang dan doa yang ku ucapkan agar akubbisa punya kesempatan untuk bersamanya.
Seorang anak laki-laki dengan rambut hampir botak yang tanpa sadar mengubah banyak hal dalam hidupku.
Mengajarkanku tentang arti cinta dan melepaskan dengan iklas demi kebahagiaan orang yang dicintai.
Aku tersenyum kecil.
“Natan… mungkin memang bukan aku yang kamu yang menjadi takdirmu, meskipun cinta yang kumiliki sangat besar".
Aku akhirnya mengerti sesuatu.
Cinta tidak selalu datang untuk dimiliki.
Kadang ia hanya datang untuk mengajarkan kita tumbuh.
Mengajarkan kita melepaskan.
Dan mengajarkan kita bahwa seseorang bisa sangat berarti dalam hidup kita… bahkan jika dia tidak pernah benar-benar menjadi milik kita.
Natan tetap menjadi cinta pertama yang kusimpan di sudut terdalam hatiku.
Bukan sebagai penyesalan.
Melainkan sebagai kenangan.
Karena pada akhirnya, dari semua jarak yang pernah ada di hidupku—
jarak antara aku dan Natan adalah jarak yang tidak pernah berhasil kutempuh meski aku mengusahakannya.
Dan mungkin sejak awal, memang hanya itu yang bisa kulakukan.
Melihatnya berjalan di kehidupnya dengan cinta pilihannya,
sementara aku berdiri di tempatku tanpa bisa berbuat apa apa dalam diam serta kesunyian ini.
Dan tetap setia pada satu kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar berubah.
Watching you.
From a distance.