Aku duduk di kursi mobil, jari mengetuk-ngetuk setir sambil menatap layar ponsel. Malam Jumat, jam 9 lewat. Apartemen terasa terlalu sepi. Suamiku — bukan, aku belum menikah. Aku Andi, 29 tahun, single, kerja di perusahaan marketing. Akhir-akhir ini nafsu semakin sulit dikendalikan. Aku buka aplikasi booking cewek yang sudah lama aku simpan di folder tersembunyi.Aku scroll foto-foto. Kebanyakan cewek muda, makeup tebal, pose menggoda. Tapi mataku berhenti di satu profil. Foto utamanya menampilkan cewek berusia sekitar 26-27 tahun. Kulit sawo matang mulus, rambut hitam panjang bergelombang, senyum manis yang terlihat polos, mata besar, dan body yang sangat menggoda: payudara besar, pinggul lebar, dan pinggang kecil. Nama profilnya “Rina Sweet”.Aku baca deskripsinya: “24 th, tinggi 162 cm, berat 52 kg, fresh graduate, ramah, bisa full service. Bisa datang ke hotel.”Harga malam itu Rp 1,5 juta. Aku langsung transfer DP. Chatnya cepat dibalas: “Siap Mas, lokasi hotel mana? Aku siap jam 10.”Aku kirim alamat hotel biasa di daerah kota, bukan apartemenku. Aku mandi cepat, pakai parfum favorit, lalu berangkat. Sepanjang jalan aku bayangin bagaimana malam ini akan berjalan. Aku sudah lama tidak ngewe dengan cewek baru. Yang terakhir adalah mantan pacar dua bulan lalu.Jam 9.50 aku sudah di kamar hotel. Aku duduk di sofa, jantung berdegup kencang. Pintu diketuk tepat jam 10.Aku buka pintu.Cewek yang berdiri di depanku memakai gaun hitam ketat selutut, rambut terurai, make up natural tapi cantik. Payudaranya terlihat penuh di balik gaun, pinggulnya lebar. Senyumnya manis.Tapi senyum itu langsung hilang begitu matanya bertemu denganku.“An… Andi?” suaranya bergetar, hampir hilang.Aku juga langsung membeku.“Rina…?”Rina adalah istri temanku, Budi. Kami berteman sejak kuliah. Budi dan Rina menikah setahun lalu. Aku sering ke rumah mereka, makan bareng, ngobrol santai, bahkan bantu Budi pasang AC baru di kamar mereka. Rina selalu ramah, sopan, dan kelihatan seperti istri baik-baik yang setia. Sekarang dia berdiri di depanku dengan gaun ketat, high heels, tas kecil di tangan, dan parfum yang mahal — jelas-jelas sedang “bekerja”.Kami berdua diam cukup lama. Suasana canggung dan tegang banget. Aku bisa melihat wajah Rina memucat, tangannya gemetar memegang tas.“Andi… tolong… jangan bilang siapa-siapa,” suaranya hampir menangis. “Aku… aku butuh uang. Budi lagi banyak hutang. Bisnisnya lagi jatuh. Aku cuma lakukan ini sesekali… please… aku mohon…”Aku masih syok. Tapi nafsu yang sudah naik sejak booking tadi tidak langsung hilang. Malah semakin aneh — campur antara kaget, kasihan, marah pada Budi, dan hasrat terlarang yang tiba-tiba membara.“Aku… gak nyangka,” kataku pelan, suaraku serak. “Kamu istri Budi… temanku.”Rina menunduk dalam-dalam. Air mata mulai netes ke pipinya. “Kalau kamu mau batal, aku mengerti. Aku pulang sekarang. Tapi tolong… jangan cerita ke Budi. Dia akan hancur kalau tahu.”Aku diam cukup lama. Lalu aku tutup pintu kamar, kunci dari dalam.“Masuk dulu,” kataku.Rina ragu, tapi akhirnya masuk. Dia berdiri di tengah kamar dengan tangan gemetar. Aku duduk di sofa, menatapnya dari atas ke bawah. Gaun hitam ketat itu membuat tubuhnya terlihat sangat seksi — payudara yang dulu aku anggap biasa saja sekarang terlihat penuh dan menggoda, pinggulnya lebar, kakinya jenjang dengan high heels.“Aku gak akan cerita ke Budi,” kataku pelan. “Tapi malam ini… kamu tetap di sini. Aku sudah bayar.”Rina menatap aku dengan mata berkaca-kaca. Ada malu yang sangat dalam, takut, dan keputusasaan. Tapi di balik itu, aku melihat sesuatu yang lain — mungkin nafsu yang sudah lama terpendam, atau rasa ingin melarikan diri dari masalah rumah tangganya.Dia mengangguk lemas. “Iya… aku nurut malam ini.”Aku berdiri, mendekat ke dia. Tanganku naik pelan ke pinggangnya. Rina gemetar, tapi tidak menjauh. Aku tarik resleting gaun hitamnya dari belakang. Gaun jatuh ke lantai dengan pelan. Dia hanya pakai bra hitam renda dan celana dalam matching.Payudaranya besar dan montok, pinggulnya lebar dan berisi. Aku peluk dia dari belakang, cium lehernya pelan. “Kamu cantik banget, Rin… Budi beruntung punya istri kayak kamu.”Rina mendesah pelan. “Andi… jangan bilang gitu… aku malu… aku istri temanmu…”Aku lepas bra-nya. Payudara terbebas. Aku remas keduanya dari belakang, jempol muter puting yang sudah mengeras. Rina menggelinjang kecil.“Ahh… pelan… payudaraku sensitif…”Aku putar badannya, hisap puting kirinya dalam-dalam. Lidahku muter pelan di sekitar areola, gigit kecil, lalu tarik kuat. Rina melengkung, tangannya pegang kepalaku.“Ahhh… Andi… enak… hisap lagi… lebih dalam… hhh… putingku… ya seperti itu… aku sudah basah banget…”Aku geser celana dalamnya ke samping. Memeknya sudah sangat licin. Aku masukkan dua jari pelan, gerak maju mundur sambil jempol muter klitoris.Rina menggelinjang hebat. “Andi… jari kamu… lebih dalam… ahhh… gerak cepat… hhh… aku mau keluar…!”Dia orgasme pertama dengan tubuh gemetar kuat, cairannya muncrat ke jari aku. Aku tarik jari, jilat pelan sambil tatap matanya. “Manis… istri temanku rasanya manis sekali.”Rina napasnya tersengal. Matanya sudah gelap nafsu meski masih ada malu yang sangat dalam. “Andi… aku mau kontol kamu… tapi pelan ya… aku masih malu…”Aku buka celana. Kontolku tegang keras. Rina pegang dengan tangan gemetar. “Gede banget… Budi tidak sebesar ini…”Aku dorong dia rebah di kasur, buka kakinya lebar. Aku geser celana dalamnya sepenuhnya. Kepala kontolku menyentuh lubangnya yang licin. Dorong pelan. Masuk setengah, Rina meringis nikmat.“Ahhh… Andi… pelan… gede sekali… isi aku pelan-pelan… hhh… enak… lebih dalam… nyentuh rahimku…”Aku gerak sangat pelan dulu, keluar masuk setengah, biar dia merasakan setiap inci. Rina mendesah panjang setiap dorongan. “Andi… kontol kamu penuh sekali… ahh… sodok lebih dalam… hhh… aku suka… entot aku pelan dulu… ahh… ya… seperti itu…”Aku tambah dalam, sodok dengan ritme stabil. Bunyi basah plak-plak pelan memenuhi kamar hotel. Payudara Rina goyang-goyang. Aku remas keduanya, cubit puting sambil bisik, “Memek istri temanku enak banget… nyedot kontol aku terus… kamu suka diginiin teman suami ya?”Rina menggelinjang liar. “Iya Andi… aku suka… entot aku lebih keras… ahhh… aku keluar lagi… hhh… Andi… keluar di dalam aja… aku aman…”Aku percepat ritme. Rina orgasme kedua dengan jerit kecil yang ditahan, memeknya berdenyut kuat memerah kontolku. Aku ikut keluar di dalamnya, cairan hangat memenuhi rahimnya sampai netes ke sprei.Kami berpelukan, napas ngos-ngosan. Rina cium bibirku pelan, matanya masih berkaca-kaca. “Andi… ini salah… aku istri Budi… tapi… malam ini aku milik kamu.”Malam itu kami melanjutkan sampai pagi. Aku ngentot Rina di kasur, di sofa, bahkan di kamar mandi. Dia semakin liar — mendesah nama aku, meminta aku sodok lebih keras, dan memohon agar aku keluar di dalamnya berkali-kali.“Andi… isi memek aku penuh… aku mau ngerasa hangatnya kontol teman suamiku… ahhh… entot aku lagi… aku ketagihan…”Pagi harinya, Rina pulang dengan tubuh lemas, memeknya masih berdenyut dan penuh sisa-sisaku. Sebelum pergi dia bisik pelan:“Kalau kamu mau lagi… hubungi aku lewat nomor ini. Tapi tolong… jangan pernah bilang ke Budi.”Aku tersenyum dan mengangguk.Sejak malam itu, setiap kali Budi sibuk atau keluar kota, Rina kadang menghubungiku. Aku booking dia lagi sebagai “cewek” di aplikasi yang sama. Dan setiap kali kami ketemu, aku ngewe istri temanku dengan penuh nafsu terlarang.Dia masih istri Budi di depan umum.
Tapi di hotel atau di mobil, dia adalah cewek yang aku booking — dan ketagihan kontol teman suaminya sendiri.Aku tahu ini salah. Aku tahu aku sudah mengkhianati teman baikku. Tapi setiap kali melihat Rina tersenyum malu-malu di depan Budi, aku hanya bisa diam. Karena aku tahu, malam nanti dia mungkin akan menghubungiku lagi.Dan aku… tidak akan menolak