Di sebuah desa bernama Aranta, desa dengan penuh kuasa magis di dalamnya kuasa itu membentuk sebuah energi yang sangat kuat yang mampu menciptakan perlindungan di seluruh desa. Di desa tersebut hiduplah seorang anak bernama Arya Praheswara ia hidup seorang diri, dalam hal magis dia memiliki kuasa magis yang lebih rendah dari pada orang lain. Disiang hari pada penduduk desa Aranta sedang mempersiapkan pesta untuk merayakan hari kemenangan mereka terhadap bangsa api Reshwara yang mereka kalahkan dalam pertempuran Bratasena dua ribu tahun lalu.
masyarakat mulai mempersiapkan semua hal yang sedang dibutuhkan dalam pesta, kakek Sanjaya yang merupakan tetua adat di desa Aranta membimbing para warga untuk menata dekorasi yang sangat meriah untuk persiapan pesta. Arya yang membantu persiapan itu pun bertanya kepada kakek sanjaya “kek sebenarnya mengapa kita mengadakan pesta yang semegah ini”, kemudian mendengar itu kakek sanjaya menceritakan suatu hal “kita melakukan ini untuk memperingati kemenangan dalam peperangan yang yang dilakukan oleh leluhur kita dua ribu tahun dahulu, pertempuran itu dinamakan pertempuran Bratasena, yang dimana leluhur kita memenangkan peperangan dengan bangsa Reshwara. Itulah mengapa pesta ini dibuat” mendengar itu Arya mengangguk paham dan melanjutkan pekerjaan membantu yang lain. Singkat cerita, di malam harinya pesta dimulai mereka memulainya dengan sambutan dan dilanjutkan oleh nyanyian. Arya serta warga desa larut dalam suasana gembira.
Tanpa mereka sadari ada magis aneh yang mencoba untuk menembus perlindungan desa Aranta. Mereka berusaha keras agar bisa merusak pelindung tersebut dan dengan usaha yang mereka miliki perlindungan desa pun hancur. kakek Sanjaya menyadari bahwa pelindung mereka hancur dan tak lama kemudian ada suara yang menggema di tengah pesta, “para penduduk Aranta kami datang untuk membalas dendam” suara itu menggema di seluruh pesta, sehingga menyebabkan pesta tersebut berhenti seketika. Langit malam yang awalnya cerah kini ditutupi dengan awan berwarna merah yang sangat pekat bak seperti ingin membinasakan penduduk Aranta. kemudian dari Awan tersebut muncul sekelompok orang dengan mengenakan pakaian merah api yang diiringi oleh hawa yang sangat panas. Kakek sanjaya seketika terkejut, karena yang datang ke desa Aranta adalah para orang dari bangsa Reshwara yang pernah mereka kalahkan dahulu.
Tanpa aba-aba mereka langsung menyerang dengan membabi buta desa aranta yang mengakibatkan semuanya luluh lantah tak bersisa, semua warga menangis dan panik karena mereka kebingungan dan juga takut karena serangan yang mendadak ini. para penduduk desa juga mulai melawan menggunakan magis yang mereka miliki namun itu sia-sia saja mereka gugur satu persatu oleh kekuatan dari bangsa Reshwara. kakek sanjaya sangat kesal ia begitu marah karena bangsa Reshwara datang dengan tiba-tiba dengan keteguhan hatinya kakek Sanjaya maju sendirian di depan para warga yang kini telah menangis putus asa. Kakek sanjaya mengeluarkan senjata terakhir yang dimiliki oleh Aranta, senjata tersebut adalah Keris Maheswara, keris itu merupakan senjata yang sama seperti yang digunakan pada perang Bratasena dua ribu tahun lalu.
Namun saat penggunaan keris itu memerlukan magis yang cukup besar agar mampu mencapai penggunaan yang maksimal, kakek Sanjaya sedikit putus asa karena magis yang ia miliki tidaklah cukup. Kakek sanjaya kemudian melihat di sekelilingnya banyak sekali warga desa yang menangis dan juga banyak warga desa yang tewas dan kakek Sanjaya pun melihat Arya yang juga menangis di balik perlengkapan pesta yang telah hancur. Kakek Sanjaya berbicara pelan kepada Arya “jaga dirimu baik-baik serta bawa desa ini ke arah yang benar”. Setelah mengucapkan itu kakek sanjaya memunculkan magis aneh yang belum pernah ada sebelumnya. Arya yang melihat itu matanya membulat dan dia terdia seketika, ketika kakek Sanjaya perlahan menghilang dan magis di dalam dirinya berkumpul di sekitar keris. Kakek sanjaya baru saja mengorbankan dirinya sendiri untuk menjadi magis bagi keris Maheswara. keris itu kemudian terangkat ke udara dan kemudian melayang ke arah Arya. Arya langsung terkejut, tangisannya terhenti karena keris Maheswara menghampiri dirinya.
dia memandangi keris itu dan nampak bayangan Kakek sanjaya di aura magis keris tersebut seolah-olah mengajaknya untuk berani melawan para bangsa Reshwara yang tengah menghancurkan desa. Dengan keberanian yang mulai muncul dari dalam dirinya dia kemudian mengambil keris yang melayang di depannya dan melangkah maju. Langkah demi langkah sembari mengeluarkan magis dalam dirinya. ia akhirnya berada sengat dekat dengan musuh. Ia mulai mengayunkan keris itu membuat kilatan seperti bulan sabit dengan jumlah tak terhingga, kilatan itu kemudian menerjang para bangsa Reshwara yang sedang menghancurkan desa. Tak ada satupun yang bisa menghindar dari kilatan keris itu, semua memfokuskan magis api mereka untuk menahan kilatan keris Maheswara, namun lagi-lagi mereka tak mampu menahan keliatan yang dihasilkan keris itu, sehingga mereka binasa karena terkena kilatan keris tersebut.
semua berlangsung begitu cepat dan seketika para bangsa Reshwara telah menghilang, langit yang awalnya dipenuhi oleh awan merah kini mulai menghilang dan langit malam pun kembali, namun tidak dengan kesenangan yang ada, telah hilang dan binasa, semua telah porak poranda dan juga hancur tak tersisa. Arya berdiri diam ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena lemas, semua magis yang ada dalam dirinya telah ia gunakan. Namun ia memiliki tekad dalam hatinya untuk membuat desa Aranta pulih seperti semua.
tak terasa pagi menyingsing di ufuk timur, semua warga desa bergotong royong untuk membersihkan desa, mereka juga memakamkan yang telah gugur dalam peristiwa semalam, pelindung desa juga sudah diperbaiki dan juga telah dibuat untuk menjadi lebih kuat dibanding yang sebelumnya. Disisi lain Arya berdiri di bukit dekat desa ia menatap ke langit ia sekarang ingin menjadi pengguna magis yang lebih kuat lagi di banding sebelumnya agar ia mampu mencegah kehancuran desa terulang kembali.