Namaku Violet. Tapi akhir-akhir ini aku merasa seperti bunga violet yang diinjak orang lewat—layu, nggak dianggap, dilupakan.
Aku, Wilky, dan Elma. Ahtinviolet.
Dulu orang-orang bilang kami paket 3-in-1. Ke mana-mana bertiga. Nugas bertiga. Nangis ketawa bertiga.
Wilky itu rumahku selama 2 tahun 3 bulan 14 hari. Aku masih ingat tanggalnya.
Elma itu saudara yang nggak sedarah, yang tahu semua rahasiaku, yang kupinjemin baju pas dia patah hati tahun lalu.
Katanya, musuh paling sakit itu orang terdekat. Aku baru percaya sekarang.
Awalnya cuma firasat. Wilky jadi jarang cerita. Chatnya dibales sebutuhnya. Kalau ditanya "lagi di mana?" jawabnya selalu "lagi sama teman".
Elma juga berubah. Dia yang biasanya paling heboh kalau aku curhat soal Wilky, sekarang malah diem. Matanya nggak berani natap aku lama-lama.
"El, kamu kenapa? Kita berantem?" tanyaku suatu sore.
Dia ketawa, tapi kosong. "Apaan sih, Vi. Nggak lah. Aku cuma capek aja."
Aku percaya. Lagi-lagi aku percaya.
Sampai Selasa kelabu itu datang.
Hujan rintik-rintik. Wilky mampir ke kosku. Dia ke kamar mandi, HP-nya ketinggalan di kasur.
Namaku masih "Sayangku ❤️" di kontaknya. Aku senyum. Bodoh.
Layarnya nyala. Notif dari Elma:
"Tadi malem kangen banget. Untung kamu bisa nyelinap ke rumah. Besok jemput aku ya, kayak biasa. Jangan bilang Violet. Aku nggak mau dia sedih."
Kayak biasa.
Nyelinap.
Jangan bilang Violet.
Dunia aku berhenti. Detik jam dinding rasanya kayak palu yang mukulin kepala. Nafasku sesak. Jari-jariku dingin pas buka chat mereka.
4 bulan.
154 hari mereka bohong.
154 hari aku jadi bahan candaan mereka pas malam.
154 hari Elma masih meluk aku dan bilang "Kamu beruntung punya Wilky" sambil dia sendiri nyium cowokku.
Aku nggak nangis. Aneh. Air mata itu keluarnya nanti, pas aku sendirian. Pas nggak ada yang bisa diketawain.
Kutunggu 3 hari. 3 hari pura-pura normal. 3 hari makan bareng mereka sambil nahan mual setiap Wilky ngelap mulut Elma yang belepotan saos.
Sakit? Nggak. Ini lebih dari sakit. Ini kayak dikubur hidup-hidup.
Hari keempat, aku chat ke grup Ahtinviolet:
"Jam 7 malem ini, taman tempat aku sama Wilky jadian dulu. Datang ya. Ada yang mau aku omongin. Penting. Cuma kita bertiga."
Mereka datang. Elma pakai hoodie yang kukasih. Wilky pakai jam tangan couple-ku. Ironis.
"Ada apa, Vi?" Wilky buka suara duluan. Sok perhatian.
Aku taruh HP-nya Wilky di meja taman. Kebuka, di chat dia sama Elma.
Seketika wajah mereka pucat. Elma langsung nangis. Wilky berdiri, panik.
"Vi, dengerin dulu, ini nggak kayak yang kamu pikir—"
"Nggak kayak yang aku pikir?" Potongku. Suaraku pelan, tapi bergetar. "Terus kayak apa, Wil? Kayak apa 4 bulan kamu tidur sama sahabatku?"
Elma jatuh berlutut. "Maafin aku, Vi... Aku khilaf. Aku sayang sama kalian berdua, aku bingung—"
"Khilaf itu sekali, El. Ini 4 bulan. Kamu milih dia setiap hari selama 4 bulan. Di saat aku cerita ke kamu kalau aku takut kehilangan dia."
Angin malam nusuk tulang. Tapi nggak sedingin tatapan kosongku ke mereka.
Aku ketawa. Pahit.
"Taukah kalian rasanya apa? Rasanya kayak ditusuk dari depan sama musuh itu biasa. Tapi ditusuk dari belakang sama orang yang kamu kasih tempat paling aman di hidupmu? Itu rasanya mati sambil bernafas."
Wilky nangis. Pertama kalinya aku lihat dia nangis. "Aku masih sayang kamu, Vi. Sumpah. Sama Elma juga... aku bego, aku nggak bisa milih."
"Ya udah, nggak usah milih."
Aku lepas gelang couple dari tanganku. Gelang yang dia ukir namaku. Kulepas juga kalung dari Elma, yang dia kasih pas ulang tahunku sambil bilang "kita selamanya ya, Vi."
Kutaruh semua di atas meja.
"Biar aku yang pergi.
Karena kalau kalian yang pergi, kalian bakal balik lagi cuma buat nyakitin aku.
Biar aku yang tersakiti.
Udah terlanjur juga. Hati ini udah kalian cincang, kalian bagi dua. Nggak apa. Bawa aja sekalian.
Biar aku yang berhenti.
Berhenti nunggu chat kamu, Wil. Berhenti cerita ke kamu, El. Berhenti mengharapkan rumah dari orang yang udah bangun rumah sama orang lain.
Biarlah kamu bersama sahabatku yang bernama Elma.
Ambil. Ambil semua. Pacarku, sahabatku, kepercayaan ku, 2 tahun 3 bulan 14 hari ku. Ambil. Tapi titip pesanku satu..."
Aku natap mereka tepat di mata. Air mata akhirnya jatuh. Deres. Nggak bisa kutahan lagi.
"...Kalau kalian nggak bahagia, kalau salah satu dari kalian nyakitin lagi, tolong ingat malam ini. Ingat ada Violet yang hancur demi kalian bisa bareng. Jangan sia-siain luka aku."
Aku balik badan. Hujan turun makin deras, kayak ngerti aku butuh alasan biar nggak ketahuan nangis.
Langkahku berat. Setiap langkah ninggalin kenangan:
Langkah satu: pertama kali Wilky genggam tanganku.
Langkah dua: Elma yang nememin aku pas bapakku meninggal.
Langkah tiga: tawa kita bertiga di atap sekolah.
Langkah empat: janji "ahtinviolet selamanya".
Selamanya mereka ternyata cuma 2 tahun 3 bulan 14 hari.
Di belakang, aku denger Elma teriak, "Vi!!! Maafin!!!"
Wilky diem. Mungkin karena dia tau, kata "maaf" nggak bisa nyembuhin orang yang dibunuh perasaannya pelan-pelan.
Sampai kos, aku peluk guling. Baru aku sadar, aku nggak cuma kehilangan pacar. Aku kehilangan sahabat. Kehilangan rumah. Kehilangan "kita".
Malam itu aku tulis di diary:
"Tuhan, kalau besok aku bangun dan masih sakit, nggak apa. Asal jangan bikin aku balik ke orang yang ngajarin aku apa itu luka. Amin."
Ahtinviolet mati malam ini.
Yang tersisa cuma Violet. Sendiri. Patah. Tapi pergi dengan kepala tegak.
Karena mencintai itu bukan tentang memiliki.
Kadang, mencintai itu tentang merelakan... sambil remuk.
Tamat.