Malam itu hujan baru saja reda ketika suara tangismu memecah rumah kami. Umurmu baru satu minggu, Samuel. Tubuhmu sekecil roti yang dipatahkan saat perjamuan, napasmu halus seperti bisikan Roh Kudus. Ibumu, adikku, harus merantau ke negeri jauh. Sebelum pergi, dia letakkan kamu di gendonganku.
“Kak, tolong rawat dia seperti anak sendiri. Aku percaya Tuhan taruh dia di tangan kalian.”
Sejak itu, aku dan Papamu tahu: kamu bukan kebetulan. Kamu jawaban doa yang bahkan belum sempat kami ucapkan.
1. Botol Susu dan Mazmur Tengah Malam
Aku masih ingat malam-malam pertama. Papamu belajar ganti popok sambil bersenandung “Yesus sayang padamu” jam 2 pagi. Aku menimangmu sambil membisikkan Mazmur 23: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
Kamu tidak lahir dari rahimku, Nak. Tapi setiap kali kamu demam, aku berlutut di samping boks bayimu. Setiap kali kamu tersedak susu, aku dan Papamu saling genggam tangan: “Tuhan, jaga anak ini.”
Orang bilang, keluarga itu darah. Tapi kami belajar dari Kitab: keluarga juga dibentuk oleh kasih yang memilih untuk tinggal, oleh tangan yang menyuapi, oleh lutut yang mengajarmu berdoa.
Kami memberimu nama Samuel. Karena seperti Samuel kecil dalam Bait Allah, kami ingin hidupmu berkata: “Berbicaralah Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.”
2. Langkah Pertama ke Foto dan Alkitab
Umur setahun, kamu mulai berjalan. Langkah pertamamu bukan ke arahku, tapi ke arah foto ibumu di dinding. Kamu menunjuk, lalu bergumam “Mama”. Dadaku sesak.
Malamnya aku menangis di kamar. “Pa, bagaimana kalau suatu hari dia cari mama kandungnya dan lupa kita?”
Papamu buka Alkitab, baca Pengkhotbah 3:11: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” Lalu dia bilang, “Tugas kita menanam, Ma. Tuhan yang menumbuhkan. Kalau waktunya tiba dia mau cari akarnya, kita antar dia dengan doa.”
Sejak itu kami menanam. Menanam doa makan. Menanam “tolong, maaf, terima kasih”. Menanam ayat hafalan setiap Sabtu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Menanam teladan, bukan ceramah.
3. Pertanyaan di Meja Makan
Kamu masuk SD Kristen. Suatu hari pulang dengan tas digendong satu bahu. “Bu, kata teman, Ibu bukan ibu asliku. Bener?”
Sendok di tanganku berhenti. Papamu letakkan garpu, lalu tarik kursi mendekat padamu.
“Sam,” katanya, “Ibu yang melahirkanmu itu wanita hebat. Tuhan pakai dia bawa kamu ke dunia. Dan Tuhan pakai kami untuk jaga kamu di dunia. Jadi kamu punya dua ibu yang sayang kamu. Banyak?”
Kamu mengangguk, lalu melompat memelukku. “Sam tetap panggil Ibu ya? Sam nggak mau panggil Tante.”
Malam itu, untuk pertama kalinya kamu pimpin doa makan: “Tuhan Yesus, terima kasih buat Ibu dan Papa. Sam sayang mereka. Amin.” Aku tutup mata lebih lama, biar air mataku tidak jatuh ke piring.
4. Surat di Dalam Alkitab
SMP. Suaramu mulai pecah. Kamu suka main basket sampai maghrib. Kadang malas ke Sekolah Minggu. Aku dan Papamu belajar jadi orang tua remaja: lebih banyak dengar, lebih sedikit khotbah.
Diam-diam aku tulis surat. Kuselipkan di Alkitabmu, di antara Kitab Rut dan 1 Samuel.
Samuel, anakku,
Ibu tidak pernah minta kamu balas budi. Yesus saja mengasihi kita tanpa syarat.
Ibu cuma minta satu: jadi anak baik. Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat.
Kalau suatu hari kamu ketemu mama kandungmu, peluk dia. Ucapkan terima kasih. Karena tanpa dia, Ibu tidak kenal rasanya dipanggil ‘Ibu’.
Kalau kami tua dan jalannya sudah pelan, gandeng kami. Seperti dulu kami gandeng tangan kecilmu ke Sekolah Minggu.
Kami mengasihimu bukan karena wajib, tapi karena kami memilih. Dan pilihan yang dituntun Tuhan tidak pernah salah.
5. Wisuda dan Kursi Kosong yang Didoakan
Kamu lulus kuliah. Dari atas panggung, kamu cari kami di bangku gereja tempat wisuda diadakan. Waktu lihat kami melambai, kamu buat tanda salib kecil di dada.
Setelah acara, kamu berlutut di depan kami. Bukan menyembah kami, tapi merendahkan hati. “Ma, Pa, makasih sudah jadi orang tua Sam selama ini. Sam bisa berdiri di sini karena Ibu dan Papa dulu berlutut buat Sam.”
Ada yang berbisik, “Itu anak angkatnya.” Tapi aku hanya dengar bisik Roh Kudus: “Kasih menutupi banyak sekali dosa.”
Di sebelah kami ada kursi kosong. Setiap ulang tahunmu, kami taruh Alkitab kecil di sana dan berdoa: “Tuhan, pertemukanlah dia dengan ibunya di waktu-Mu. Biar kursi ini tidak kosong lagi.”
6. Doa Syafaat Setiap Jam 3 Pagi
Sekarang umurmu 25. Kamu kerja di yayasan sosial. Setiap berangkat, kamu cium tangan kami: “Sam pergi dulu, Bu. Pa. Doain ya.”
Setiap pulang, kamu pastikan kami sudah minum obat. Kalau kami sakit, kamu yang ambilkan air dan kompres, lalu pasang lagu “Bapa Sentuh Hatiku” pelan-pelan.
Kadang kamu bilang, “Bu, Sam belum bisa balas apa-apa.”
Aku selalu jawab pakai Amsal 23:25: “Biarlah ayahmu dan ibumu bersukacita.” Lalu kubilang, “Cukup jadi anak baik, Nak. Cukup hormati kami seperti kami menghormatimu sejak kamu umur satu minggu. Kalau kamu sudah lakukan itu, sukacita kami penuh.”
Tiap jam 3 pagi, aku masih terbangun. Bukan karena kamu menangis, tapi karena rindu mendoakanmu. Doaku sama sejak 25 tahun lalu:
Tuhan Yesus,
Anak yang Kau titipkan saat umurnya baru satu minggu ini…
Jadikan dia laki-laki yang lembut hatinya seperti Daud, berani imannya seperti Daniel, setia kasihnya seperti Yusuf.
Kalau kami tua dan pikun, kirim dia jadi tongkat kami, seperti dulu kami jadi selimutnya.
Jangan buat dia bingung membagi kasih. Luaskan hatinya untuk mengasihi mama yang melahirkan dan mama yang membesarkan. Engkau sendiri yang menyatukan Rut dengan Naomi, bukan?
Tapi kalau dia jatuh, biar pundak kami jadi yang pertama dia cari. Karena kami mengasihinya seperti anak kandung. Bahkan lebih, karena kasih kami padanya adalah kasih yang setiap hari kami pilih di depan-Mu.
Samuel, anakku.
Kami tidak membesarkanmu untuk menjadi milik kami. Kami membesarkanmu untuk menjadi milik Kerajaan Allah.
Tapi kalau dunia melukaimu, pintu rumah ini selalu terbuka. Meja makan kita masih ada. Alkitab kecilmu masih di laci. Dan kasih kami… kasih kami dimeteraikan oleh darah Kristus, jadi tidak akan pernah habis.
Semoga kelak kamu jadi anak baik, Nak. Yang takut akan Tuhan, yang hormat pada orang tua, yang jadi berkat.
Kalau itu terjadi, semua begadang kami, semua doa kami, semua “Tuhan, tolong anak ini” kami… lunas. Bahkan kami untung.
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” — Amsal 22:6
Kami sudah mendidik. Sisanya kami percayakan pada-Mu, ya Bapa.
Tamat