Udara siang itu terasa sangat pengap di dalam kelas X-3. Suara dengung kipas angin tua di langit-langit kalah nyaring dengan suara guru Sejarah yang membacakan teks dari buku cetak setebal bantal. Rania, yang sudah mencapai batas kejenuhannya, melirik ke arah pintu. Tanpa pikir panjang, ia izin ke toilet, namun langkah kakinya justru berbelok menuju gedung kelas dua belas.
Ia menuju kelas XII-A, tempat Tiara, tetangga sekaligus kakak kelas yang sudah dianggapnya kakak sendiri. Beruntung, kelas itu sedang jam kosong. Rania menyelinap masuk dan duduk di samping Tiara.
"Lho, Rania? Kok di sini? Nggak belajar kamu?" bisik Tiara kaget.
"Bosan banget, Kak. Rasanya otakku mau meledak dengerin sejarah perang dunia," keluh Rania sambil menyandarkan kepala di meja.
Sambil bercerita ngalor-ngidul tentang gosip sekolah, mata Rania tak sengaja tertuju pada seorang siswa laki-laki di pojok belakang. Cowok itu tidak ikut mengobrol atau bermain kartu seperti siswa lainnya. Ia hanya menunduk, fokus menulis sesuatu di buku catatannya dengan sangat tenang.
"Itu siapa, Kak? Kok kayaknya serius banget?" tanya Rania, rasa penasarannya mulai terusik.
Tiara melirik ke arah yang ditunjuk Rania. "Oh, itu Arlan. Dia memang begitu, pendiam. Tapi jangan salah, dia rajin banget. Sholatnya nggak pernah lepas ke masjid sekolah. Temannya cuma sedikit, soalnya dia pemilih kalau urusan pergaulan."
Rania mengangguk-angguk kecil. Awalnya ia merasa biasa saja, tapi ada sesuatu dari ketenangan Arlan yang membuatnya ingin tahu lebih banyak.
Hari-hari berikutnya, Rania punya alasan baru untuk "bolos" sebentar saat jam istirahat atau jam kosong. Ia akan lari ke kelas Tiara hanya untuk menanyakan hal-hal kecil tentang Arlan.
"Kak, hari ini Arlan masuk nggak?"
"Kak, tadi Arlan ke kantin nggak?"
Tiara hanya tertawa melihat tingkah adik kelasnya itu. Rania pun mulai sering melakukan aksi "curi-curi pandang". Ia sering berdiri di koridor saat jam sholat Dzuhur hanya untuk melihat Arlan berjalan menuju masjid dengan sarung tersampir di bahunya. Semakin Rania memperhatikan betapa santun dan rajinnya cowok itu, semakin dalam ia jatuh hati.
Namun, Rania sadar diri. Ia hanyalah gadis kelas sepuluh yang biasa saja, sementara Arlan adalah kakak kelas yang tampak begitu jauh untuk digapai. Rania memilih menyimpan perasaan itu rapat-rapat. Hingga akhirnya, bel kelulusan berbunyi bagi angkatan Arlan. Rania hanya bisa melihat punggung Arlan dari kejauhan saat upacara pelepasan, tanpa sempat mengucapkan satu patah kata pun.
Arlan hilang dari jangkauan radarnya.
**Lima Tahun Kemudian...**
Rania kini tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri. Ia sedang berjalan terburu-buru di sebuah area perkantoran yang sibuk ketika tiba-tiba langkahnya terhenti secara mekanis. Di depannya, seorang pria dengan kemeja biru navy berjalan melewati kerumunan.
Jantung Rania mencelos. Perawakan itu, cara berjalannya... ia tidak mungkin
salah.
"Arlan?" bisiknya nyaris tak terdengar.
Ia mematung sejenak, memperhatikan Arlan yang tampak sedang mencari-cari alamat di depan sebuah gedung tinggi. Rania bimbang. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan getaran hebat seperti saat SMA dulu. Selama ini, ia tidak pernah benar-benar membuka hati untuk pria lain karena standar yang ia tetapkan selalu berakhir pada sosok Arlan.
Dengan keberanian yang dikumpulkan dari sisa-sisa kenangan masa lalu, Rania mendekat.
"Kak Arlan?"
Pria itu menoleh. Alisnya bertaut sejenak sebelum akhirnya matanya membelalak kecil. "Rania? Adik kelas Tiara dulu, ya?"
Rania tersenyum lega. Ternyata Arlan masih mengingatnya. Mereka akhirnya berbincang di sebuah kafe dekat sana. Obrolan yang awalnya kaku perlahan mencair. Rania merasa jika ia tidak mengatakannya sekarang, ia mungkin akan menyesal seumur hidup.
"Kak... ada sesuatu yang mau aku bilang. Mungkin ini kedengaran konyol karena sudah lewat bertahun-tahun," Rania menjeda, jemarinya meremas pinggiran cangkir kopi. "Dulu di SMA, aku sering banget main ke kelas Kak Tiara cuma buat cari tahu tentang Kakak. Aku... aku suka sama Kakak dari dulu, dan sampai sekarang, perasaan itu nggak benar-benar hilang."
Arlan terdiam cukup lama, membuat Rania ingin rasanya menghilang dari kursi itu karena malu. Namun, perlahan sebuah senyuman terukir di wajah Arlan.
"Kamu jujur banget, Rania," kata Arlan pelan. "Sebenarnya... aku juga tahu."
Rania mendongak kaget. "Tahu?"
"Dulu teman-temanku sering godain aku. Katanya ada anak kelas sepuluh yang selalu tanya-tanya soal aku ke Tiara.
Aku mulai penasaran dan sering memperhatikan kamu dari jauh juga. Tapi, aku dulu orangnya sangat kaku. Aku nggak tahu gimana cara deketin perempuan, jadi aku cuma bisa diam."
Arlan menatap Rania dalam-dalam. "Aku nggak menyangka kamu bakal mengatakannya lebih dulu hari ini. Aku senang, ternyata orang yang selama ini ada di kepalaku, masih memiliki perasaan yang sama."
Di antara hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur, dua garis yang dulu hanya berjalan sejajar itu akhirnya saling bersinggungan. Tidak ada lagi curi-curi pandang dari balik jendela kelas, karena kini, mereka berjalan di jalur yang sama.