"Musuh itu jujur; mereka menusukmu dari depan dan kamu sudah siap. Tapi teman? Mereka memelukmu begitu erat, sampai kamu tidak sadar kalau tangan mereka sedang mencari letak jantungmu hanya untuk memastikan belatinya tidak meleset saat dihujamkan nanti."
---------------
Caracter :
- Lianna Amarys
- Arya Wijaya
----------------
Lianna Amarys menatap ujung sepatunya yang kotor, duduk di atas beton pembatas rel yang bergetar hebat setiap kali mesin besi raksasa lewat. Di telinganya, suara James Arthur sedang meraung, “Unbreak the broken... pull me from the wreckage.” Lagu itu bukan lagi sekadar musik; itu adalah suara jeritan di dalam kepala Lianna yang tidak bisa keluar.
Di sampingnya, Arya Wijaya sedang mengupas kulit jeruk. Bau asamnya tajam, menusuk indra penciuman Lianna yang sedang sensitif. Arya adalah manusia yang paling tahu bagaimana Lianna menangis tanpa suara. Dia yang memegang tangan Lianna saat pemakaman ibunya, dan dia juga yang paling keras bertepuk tangan saat Lianna menyelesaikan lukisan untuk seleksi beasiswa itu.
"Dunia memang brengsek, Li," gumam Arya. Suaranya tenang, tipe suara yang selalu berhasil membuat Lianna merasa bahwa segalanya akan baik-baik saja. "Tapi mungkin ini cara semesta bilang kalau kamu harus istirahat dulu."
Lianna tidak menyahut. Ia teringat surel penolakan dari dewan juri pagi tadi. Laporan plagiarisme. Kata itu seperti paku panas yang dipantek ke dadanya. Siapa yang tahu sketsa awal lukisan itu ada di buku harian pribadinya? Siapa yang punya akses ke kamar studionya saat ia sedang tidur kelelahan?
Hanya satu orang.
Lianna menoleh perlahan. Ia tidak melihat monster di wajah Arya. Ia melihat sahabat yang sama selama sepuluh tahun. Dan itulah yang membuat hatinya mencelos. Teman bukan senjata yang meledak dari kejauhan mereka adalah racun yang disuapkan pelan-pelan ke mulutmu sambil mereka tersenyum tulus.
"Ar," suara Lianna serak, hampir tenggelam oleh deru kereta yang mendekat dari kejauhan. "Kamu ingat saat aku bilang lukisan itu adalah satu-satunya tiketku untuk keluar dari rumah ini?"
Arya berhenti mengupas jeruk. Gerakannya membeku. "Tentu saja aku ingat. Kenapa?"
"Karena aku menemukan satu hal yang aneh," Lianna mencabut satu earphone-nya, membiarkan kebisingan dunia luar masuk secara paksa. "Laporan plagiarisme itu melampirkan foto sketsa mentahku.
Foto yang diambil dari sudut meja belajarku. Dan hanya ada satu orang yang duduk di sana minggu lalu saat aku membuatkanmu kopi."
Hening. Udara di antara mereka mendadak terasa berat, seolah oksigen ditarik keluar dari sana.
Satya tidak menoleh. Ia justru memakan potongan jeruk terakhirnya dengan santai. "Mempunyai teman itu memang menyenangkan, ya, Li? Kita bisa berbagi beban, berbagi rahasia... tapi kita juga berbagi kelemahan."
Ia kemudian menatap Lianna. Tidak ada penyesalan. Hanya ada sorot mata dingin yang asing. "Masalahnya, kamu terlalu bersinar. Dan berada di sampingmu membuatku merasa seperti bayangan yang tidak punya wujud. Aku hanya ingin kita tetap berada di level yang sama. Di tanah yang sama. Bukan kamu di atas sana, dan aku masih di sini."
Lianna merasakan jantungnya seperti mengalami kecelakaan kereta api—hancur berkeping-keping, berasap, dan tak berbentuk. Pengkhianatan ini tidak datang dengan teriakan, melainkan dengan ketenangan yang mematikan.
"Kamu adalah senjata paling mematikan yang pernah aku izinkan masuk ke hidupku, Ar," bisik Lianna, air matanya akhirnya jatuh, terasa panas di pipinya yang dingin.
Arya hanya mengedikkan bahu, lalu berdiri saat kereta api melesat lewat di depan mereka—sebuah badai besi yang memisahkan pandangan mereka untuk sesaat. Saat kereta itu berlalu, Arya sudah melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Lianna di tengah puing-puing kepercayaan yang baru saja diratakan dengan tanah.
------------
Pengkhianatan paling sempurna tidak datang dengan teriakan atau api. Ia datang dengan senyuman tulus dari seseorang yang sudah hafal di mana letak luka lamamu, lalu menekan tepat di sana.
.
.
.
.
-----------
Tbc
......
Original ide by me! Dont copy! (Sarann!! Bacanya sambil ndengerin lagi Train wreck biar kerasa! Karena aku terinspirasi dari lagi itu, tapi dengan alur yang beda!!!)