Di wilayah perbatasan antara tanah perkebunan dan hutan belantara, ada kepercayaan tua yang tak tertulis. Penduduk tak hanya takut bertemu harimau sungguhan, mereka lebih takut bertemu harimau yang sebenarnya adalah manusia. Mereka menyebutnya Pemangsa Rimba, atau lebih dikenal dengan sebutan Siluman manusia harimau.
Konon, ada orang-orang tertentu yang memiliki ilmu atau warisan darah aneh. Di malam hari, terutama saat bulan purnama atau saat hati mereka dipenuhi dendam dan lapar, tubuh mereka akan berubah. Tulang-tulang memanjang, kuku mengeras menjadi cakar, dan wajah manusia berubah menjadi moncong buas dengan taring yang menjulur. Mereka berburu bukan sekadar untuk makan, tapi untuk memuaskan naluri yang terpendam dan dendam.
Pak Hadi adalah tetua desa yang dikenal bijaksana. Namun, ada satu hal yang selalu membuatnya gelisah setiap kali malam bulan purnama tiba. Ia selalu mengingatkan warga, "Jangan keluar rumah setelah azan Isya. Jangan memandang mata harimau yang berjalan tegak seperti manusia."
Di desa itu tinggal seorang pemuda bernama Bima. Bima pendiam, penyendiri, dan sering menghilang berhari-hari ke dalam hutan. Warga sering bergunjing, tapi tak ada yang berani menuduh. Tubuhnya kekar, tatapannya tajam, dan ia memiliki kebiasaan aneh: ia tidak pernah memakai alas kaki, bahkan saat tanah berbatu sekalipun.
Suatu malam, suasana desa mencekam. Seekor kerbau milik warga ditemukan tewas mengerikan di ladang. Tubuhnya terkoyak, semua organ nya hilang, namun jejak kakinya bukan jejak binatang biasa. Jejak itu besar, tapi bentuknya aneh seperti campuran telapak kaki harimau dan telapak kaki manusia yang berjalan jinjit.
Malam itu bulan bersinar terang benderang.
Bima, yang sejak sore mengurung diri di gubuk terpencil di ujung desa, mulai merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Ia menggeliat kesakitan. Kulitnya terasa gatal luar biasa, lalu perlahan tumbuh bulu-bulu kasar berwarna oranye kehitaman. Rahangnya menonjol keluar, giginya memanjang tajam. Matanya yang tadinya hitam legam berubah menjadi kuning menyala di tengah gelap.
Aummm...
Auman itu bukan auman binatang biasa, ada nada kesakitan dan amarah di dalamnya.
Pak Hadi dan beberapa pemuda desa yang sedang berjaga mendengarnya. Suara itu datang dari arah gubuk Bima. Mereka bergegas mendatangi tempat itu dengan jantung berdebar, membawa parang dan obor.
Sesampainya di sana, mereka terpaku.
Di depan gubuk, berdiri sosok yang sangat besar. Tingginya melebihi manusia biasa, namun posturnya adalah harimau yang sempurna. Namun yang paling menakutkan, makhluk itu berdiri dengan dua kaki, tegak lurus seperti manusia. Cakar depannya tergantung panjang, siap menerkam.
"Itu... itu Bima," bisik salah seorang pemuda dengan suara gemetar.
Harimau itu menoleh. Matanya yang kuning menatap tajam ke arah rombongan warga. Napasnya memburu, mengeluarkan suara geraman rendah yang membuat tanah terasa bergetar. Ia mengenali mereka, namun naluri buas telah menguasai seluruh akal sehatnya.
"Bima! Sadar! Kami temanmu!" teriak Pak Hadi sambil mengacungkan tongkat kayu yang diikat kain putih—penangkal ilmu hitam menurut kepercayaan mereka.
Harimau itu mengaum keras, suaranya memecah keheningan malam. Ia hendak menerjang, tapi tiba-tiba ia memegang kepalanya dengan kedua cakar besarnya, seolah ada perang di dalam dirinya sendiri. Ada bagian manusia yang masih melawan, berusaha menahan naluri buas itu.
"Pergi... cepat pergi!" terdengar suara garau yang bukan manusia maupun binatang, hampir tak terdengar.
Pak Hadi mengerti. Ia segera memberi isyarat. "Mundur! Jangan tatap matanya! Nyalakan api lebih besar!"
Warga segera menumpuk kayu kering dan membuat api unggun raksasa. Asap dan panas yang menyengat tampaknya membuat makhluk itu tersiksa. Ia meringis, mundur perlahan menuju rimba, lalu dengan satu lompatan besar, ia lenyap di balik kegelapan pepohonan.
Keesokan paginya, di tepi hutan, ditemukan pakaian compang-camping dan bercak darah kering. Bima tidak pernah terlihat lagi di desa.
Namun, para pemburu yang nekat sering bercerita, jika mereka tersesat di malam hari, kadang mereka melihat seekor harimau besar yang berdiri tegak memandangi bulan dari puncak bukit. Ia tidak menerkam, ia hanya mengawasi.
Itulah siluman harimau, Manusia yang terperangkap dalam wujud binatang, selamanya menjadi hantu di antara dua dunia.