Desa Sukamaju bukanlah desa yang tertinggal, namun atmosfernya selalu terasa berbeda begitu matahari tergelincir di ufuk barat. Di sini, rimbunnya pohon bambu dan pepohonan tua seolah menyimpan rahasia yang enggan dibicarakan saat terang. Aku dan suamiku baru menempati rumah kontrakan di pinggir desa ini selama beberapa bulan. Semuanya terasa normal, hingga suatu sore, seorang teman lama suamiku datang berkunjung dan memberikan selembar uang 50.000 sebagai hadiah untuk anak kami yang baru berusia satu tahun.
Entah kenapa, saat menerima uang itu, ada rasa dingin yang merambat di telapak tanganku. Uangnya terasa kaku, baunya apek seperti kertas yang disimpan lama di tempat lembap. Karena sedang sibuk menggendong anakku yang mulai rewel, aku segera masuk ke kamar dan meletakkan uang itu di tempat yang menurutku paling aman dari jangkauan balita: di atas lemari kayu tua yang tinggi. Sambil meletakkannya, aku berbisik pelan, hampir seperti bergumam pada angin, "Kalau kamu cari uangmu, ada di sini ya."
Kalimat itu keluar begitu saja. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Seolah-olah aku sedang menitipkan barang kepada seseorang yang tak terlihat.
Malam itu, teror dimulai. Anakku, yang biasanya tidur pulas begitu menyentuh bantal, tiba-tiba terbangun tepat pukul dua pagi. Ia tidak menangis biasa; ia menjerit histeris sambil menunjuk-nunjuk ke arah atas lemari. Matanya yang bulat membelalak ketakutan, badannya gemetar hebat. Setiap kali aku mencoba membawanya masuk ke kamar, ia akan meronta, menangis sejadi-jadinya, dan pandangannya tidak pernah lepas dari puncak lemari kayu itu.
"Ada apa, Nak? Enggak ada apa-apa di sana," bisikku sambil mencoba menenangkannya. Namun, hawa di dalam kamar itu mendadak berubah menjadi sangat pekat. Udara terasa tipis dan bau apek yang tadi sempat kucium pada uang tersebut kini memenuhi ruangan, lebih tajam, seperti bau bangkai yang disamarkan wangi bunga kamboja.
Kejadian itu berulang selama tiga hari berturut-turut. Anakku menjadi sangat trauma dengan kamarnya sendiri. Ia hanya mau tidur di ruang tamu dengan lampu menyala terang. Setiap kali ia melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, ia akan memeluk leherku erat-erat sambil menangis sesenggukan, seolah-olah ada sosok mengerikan yang sedang duduk menjuntaikan kaki di atas lemari itu, menatapnya dengan lapar.
Aku mulai merasa ada yang tidak beres. Tetangga desa sering bercerita tentang "pesugihan" atau "peliharaan" yang sering berkeliaran mencari tambahan uang, namun aku selalu menganggap itu hanyalah isapan jempol. Hingga pada hari keempat, aku baru teringat tentang uang 50.000 yang diberikan teman suamiku itu. Pikiranku mulai menghubungkan tangisan anakku dengan keberadaan uang tersebut.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil kursi untuk melihat ke atas lemari. "Aku mau ambil uang itu, aku mau buang saja atau sedekahkan," pikirku dalam hati. Aku meraba-raba permukaan atas lemari yang berdebu.
Kosong.
Aku mengerutkan kening. Aku yakin sekali menaruhnya di pojok kanan, tepat di balik hiasan vas bunga plastik. Aku mencari ke seluruh celah lemari, menggeser vas, hingga memeriksa bagian bawah lemari. Uang 50.000 itu hilang. Benar-benar hilang seolah menguap di udara. Padahal, tepat di samping tempat uang itu diletakkan, ada tumpukan uang receh kembalian belanja yang sengaja kusimpan di sana. Anehnya, uang receh itu masih utuh, tidak bergeser sedikit pun.
Hanya uang 50.000 dari "pemberian" itu yang lenyap.
Tiba-tiba, aku teringat kalimatku sendiri: *"Kalau kamu cari uangmu ada di sini."* Seketika itu juga, bulu kudukku berdiri tegak. Aku tersadar bahwa uang itu bukanlah pemberian biasa. Di desa ini, terkadang uang digunakan sebagai "medium" untuk memindahkan beban atau sesajen bagi mereka yang memelihara sesuatu. Dan kalimatku tempo hari seolah menjadi "ijin" bagi pemilik aslinya—atau apa pun yang mengikutinya—untuk mengambil kembali hak mereka beserta "bonus" energi dari ketakutan anakku.
Saat aku masih terpaku di atas kursi, aku merasakan sebuah hembusan napas dingin di tengkukku. Sangat dekat, disertai suara gesekan kuku di kayu lemari yang terdengar pelan namun jelas. *Srek... srek...*
Aku langsung melompat turun dan lari keluar kamar tanpa berani menoleh lagi. Sore itu juga, aku memanggil pemuka agama setempat untuk membersihkan rumah. Beliau hanya berpesan, "Jangan sembarangan menerima pemberian dari orang yang tidak jelas asal-usul niatnya, dan jangan pernah bicara dengan 'mereka' meski lewat candaan."
Sejak uang itu hilang, anakku tidak lagi menangis saat melihat ke atas lemari. Kamar kami kembali tenang, namun bau apek itu sesekali masih tercium jika malam Jumat tiba, seolah mengingatkanku bahwa ada "tamu" yang pernah datang menjemput hartanya, dan mungkin saja, ia masih mengintai dari kegelapan di atas sana. Sekarang, aku tidak pernah lagi menyimpan apa pun di atas lemari itu. Biarlah tempat itu kosong, daripada diisi oleh sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata, namun mampu mencuri kedamaian hati kami.