Malam itu, asrama putri "Wijaya Kusuma" terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan rintik-rintik yang turun sejak sore menyisakan bau tanah basah yang menyeruak masuk melalui celah-celah ventilasi, bercampur dengan aroma pembersih lantai yang tajam. Lorong asrama yang panjang dan remang-remang itu seolah memanjang, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding setiap kali lampu neon di ujung koridor berkedip-kedip tidak stabil. Bagi kami yang sudah tinggal di sini selama dua tahun, suasana mencekam seperti ini sebenarnya sudah biasa, namun ada sesuatu yang berbeda malam ini—sesuatu yang terasa berat, dingin, dan mengawasi.
Aku sedang duduk di tepi tempat tidur, mencoba memfokuskan pikiran pada buku teks sosiologi yang huruf-hurufnya seolah menari di depan mataku. Di ranjang seberang, Sari, teman sekamarku, tampak meringkuk di balik selimut tebalnya. Ia mengeluh pening sejak pulang kuliah sore tadi dan memilih untuk tidur lebih awal. Suara napasnya yang teratur menjadi satu-satunya penghibur di tengah kesunyian kamar nomor 304 yang pengap itu. Jarum jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, waktu di mana sebagian besar penghuni asrama sudah terlelap atau setidaknya mengunci diri di dalam kamar.
Tiba-tiba, aku mendengar suara gesekan kain dan bunyi benda plastik yang beradu. Aku mendongak. Sari sudah duduk di tepi ranjang. Tanpa suara, ia beranjak berdiri, meraih handuk berwarna biru muda yang tersampir di sandaran kursi, dan mengambil gayung berisi perlengkapan mandinya. Gerakannya terasa sangat kaku, hampir seperti robot, namun aku tidak terlalu menaruh curiga karena kupikir dia mungkin masih setengah sadar akibat bangun tidur mendadak.
"Loh, Sar? Mau mandi?" tanyaku spontan.
Biasanya, Sari adalah tipe orang yang paling penakut. Dia tidak akan pernah berani pergi ke kamar mandi umum di ujung lorong sendirian setelah jam sembilan malam. Dia pasti akan merengek memintaku menemaninya, setidaknya menunggunya di depan pintu sambil mengobrol. Namun kali ini, dia sama sekali tidak menoleh. Ia melenggang pergi begitu saja, keluar dari pintu kamar yang terbuka lebar tanpa sepatah kata pun. Langkah kakinya terdengar ringan, hampir tak berbunyi di atas lantai semen yang dingin.
"Sar! Tunggu! Kok nggak ngajak-ngajak sih?" teriakku sedikit lebih keras. Aku merasa agak jengkel karena dicueki. Aku pun segera meraih handukku sendiri dan menyambar botol sabun. Pikirku, sekalian saja aku mandi agar badan terasa segar sebelum lanjut belajar. Aku bergegas keluar kamar, mengikuti sosoknya yang berjalan sekitar sepuluh meter di depanku.
Lampu koridor yang mati-nyala membuat sosok Sari tampak seperti bayangan yang muncul-tenggelam dalam kegelapan. Ia berbelok di ujung lorong menuju area kamar mandi umum. Aku mempercepat langkahku, tidak ingin tertinggal jauh di koridor yang mulai terasa mencekam ini. "Sari! Pelan-pelan dong, gelap nih!" seruku lagi, namun ia tetap melenggang lurus, masuk ke dalam area bilik-bilik mandi tanpa sekalipun menoleh ke belakang.
Begitu aku memasuki area kamar mandi, suasana mendadak menjadi sangat dingin. Suara tetesan air dari keran yang bocor bergema di ruangan yang berdinding keramik kusam itu. *Tuk... tuk... tuk...* Aku menatap deretan bilik mandi yang pintunya sebagian besar terbuka. Anehnya, tidak ada satu pun pintu yang tertutup rapat. Aku memeriksa bilik pertama, kosong. Bilik kedua, kosong. Bilik ketiga sampai ujung, semuanya kosong. Hanya ada genangan air dan aroma lumut yang menyengat.
"Sar? Kamu di mana?" suaraku kini bergetar. Jantungku mulai berdegup kencang. Tidak mungkin dia bisa menghilang secepat itu. Area kamar mandi ini hanya punya satu jalan masuk dan satu jalan keluar. Aku mencoba berpikir logis; mungkin dia sedang mandi di blok sebelah, atau mungkin dia sangat terburu-buru hingga masuk ke bilik paling ujung yang tersembunyi di balik pilar besar. Aku memeriksa bilik itu, namun hasilnya nihil. Tidak ada suara gemericik air, tidak ada suara gayung, tidak ada siapa pun di sana.
Mencoba menepis rasa takut yang mulai merayap di tengkuk, aku memutuskan untuk tetap mandi. "Mungkin dia tadi cuma numpang lewat atau sudah balik lewat jalan lain," gumamku menghibur diri sendiri. Aku menyalakan keran, membiarkan air dingin menyentuh kulitku, mencoba membilas bayangan aneh yang terus menghantui pikiranku. Sepanjang mandi, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintip dari celah ventilasi di atas pintu, namun setiap kali aku mendongak, hanya ada kegelapan pekat yang menatap balik.
Setelah selesai, aku berpakaian dengan terburu-buru. Aku tidak berlama-lama menyisir rambut atau merapikan perlengkapan mandiku. Ada insting dalam diriku yang meneriakkan satu kata: *Lari.* Aku berjalan cepat menyusuri koridor kembali menuju kamar 304. Hatiku baru merasa tenang saat melihat daun pintu kamarku yang masih sedikit terbuka.
Aku masuk ke kamar dan langsung membeku di tempat. Gayungku terjatuh dari tangan, isinya berhamburan di lantai.
Di atas ranjang seberang, Sari sedang menggeliat pelan di balik selimutnya. Ia mengucek matanya yang merah, tampak sangat mengantuk dan kacau, persis seperti orang yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat lelap. Ia menatapku dengan wajah bingung saat melihat rambutku yang masih basah kuyup.
"Eh... kamu sudah mandi ya?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. "Yah, kok nggak ngajak-ngajak aku sih? Aku kan takut kalau mandi sendirian jam segini..."
Darahku rasanya berhenti mengalir. Sekujur tubuhku merinding sehebat-hebatnya, rasa dingin yang jauh lebih menusuk daripada air mandi tadi menjalar dari telapak kaki hingga ke ubun-ubun. Aku berdiri mematung, menatap Sari yang masih menguap lebar. Otakku mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Jika yang di depanku ini adalah Sari yang baru bangun tidur, lalu siapa sosok yang baru saja kuikuti ke kamar mandi? Siapa yang tadi membawa handuk biru dan melenggang melaluiku dengan tatapan kosong itu?
Aku tidak sanggup menjawab. Aku hanya bisa merangkak naik ke tempat tidurku, menarik selimut sampai menutupi seluruh kepala, dan berdoa agar malam ini cepat berlalu. Sementara itu, di luar sana, sayup-sayup aku mendengar suara gayung yang beradu di kejauhan lorong, seolah-olah "Sari" yang lain itu masih menunggu seseorang untuk menemaninya mandi dalam keabadian yang dingin. Sejak malam itu, aku menyadari satu hal: di asrama ini, kamu tidak pernah benar-benar tahu siapa yang berjalan di sampingmu dalam kegelapan.