Di sebuah kamar dengan jendela yang menghadap langsung ke arah pohon mangga yang mulai meranggas, seorang gadis bernama Nayla sedang melipat mukenanya dengan sangat rapi. Suasana hening pagi itu hanya dipecah oleh suara kicauan burung gereja di atap rumah, namun di dalam dada Nayla, ada sebuah ketenangan yang jauh lebih riuh daripada kebisingan dunia luar. Ia baru saja menyelesaikan sujud panjangnya, tempat di mana ia menaruh semua beban, harapan, dan rahasia yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun, bahkan kepada kedua orang tuanya sendiri.
Nayla adalah sosok yang sering menjadi bahan pembicaraan di lingkungan rumahnya, bukan karena tingkah laku yang buruk, melainkan karena "kekosongan" yang ia tampilkan. Di usianya yang sudah sangat matang, Nayla tidak pernah sekalipun terlihat menggandeng seorang pria. Ia tidak pernah duduk berdua di teras rumah saat malam minggu, tidak pernah terlihat dibonceng motor dengan tawa yang pecah, dan ponselnya hampir tidak pernah berdering karena panggilan telepon yang penuh rayuan. Ia seperti sebuah pulau yang tenang di tengah samudera yang bergejolak dengan tren percintaan masa kini.
Suatu sore, saat aroma kopi menyatu dengan udara dingin setelah hujan, Ibu Nayla masuk ke kamarnya. Sang ibu duduk di tepi ranjang, matanya menatap lekat putri sulungnya yang sedang asyik membaca buku. Ada guratan kecemasan yang tak bisa disembunyikan dari wajah wanita tua itu. "Nayla," panggil Ibunya lembut. Nayla menoleh, memberikan senyum terbaiknya. "Iya, Bu?" Sang ibu terdiam sejenak, lalu dengan nada yang sangat hati-hati, ia bertanya, "Ibu dan Bapak sering kepikiran. Kamu tidak pernah pacaran, tidak pernah dekat dengan siapa pun, apalagi bawa laki-laki ke rumah. Nanti jodohmu gimana, Kak? Ibu takut kamu terlalu menutup diri sampai orang-orang sungkan untuk mendekat."
Mendengar pertanyaan itu, dada Nayla terasa sedikit berdenyut. Bukan karena ia tersinggung, tapi karena ia tahu betapa besarnya kasih sayang di balik kecemasan itu. Ia meletakkan bukunya, lalu bergeser duduk di dekat Ibunya. Ia menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya itu, tangan yang kini sudah mulai keriput namun tetap terasa hangat. "Ibu sayang," ucap Nayla pelan, suaranya mantap tanpa ada keraguan sedikit pun. "Bismillah. Aku sedang menjaga apa yang harus kujaga. Aku yakin dan percaya bahwa nanti Allah akan datangkan jodohku dengan cara yang baik, di waktu yang tepat, dan menurut pilihan-Nya yang terbaik. Aku tidak ingin menjemputnya dengan cara yang membuat-Nya murka."
Jawaban itu membuat sang ibu terdiam seribu bahasa. Ada rasa haru yang menjalar, namun juga ada sedikit rasa sedih karena menyadari betapa kuatnya prinsip yang dipegang anaknya di tengah gempuran zaman yang serba bebas. Namun, di balik ketenangan Nayla, sebenarnya ada air mata yang sering jatuh di tengah malam. Ia manusia biasa. Ia juga merasakan sepi saat melihat teman-temannya menikah, ia juga merasakan sesak saat saudara-saudaranya bertanya kapan ia akan menyusul. Ia sedih bukan karena ia tidak laku, tapi karena ia sering merasa asing di dunianya sendiri. Ia merasa seperti pejuang yang bertarung sendirian demi sebuah keyakinan yang dianggap kuno oleh banyak orang.
Tahun-tahun berlalu, dan ujian kesabaran Nayla semakin berat. Suatu hari, ia mendengar kabar bahwa salah satu teman dekatnya akan menikah dengan pria yang baru dikenal beberapa bulan melalui hubungan yang "kurang baik" menurut prinsip Nayla. Di satu sisi ia bahagia, namun di sisi lain, ia pulang ke rumah dengan hati yang hancur. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu, dan menangis sejadi-jadinya di balik bantal. "Ya Allah, apakah aku terlalu kaku? Apakah caraku salah?" bisiknya di tengah isak tangis. Kesedihan itu memuncak bukan karena ia iri, tapi karena ia merasa lelah menjaga benteng pertahanan yang terus-menerus digempur oleh komentar negatif orang-orang yang menganggapnya "tidak laku" atau "terlalu pemilih".
Namun, setiap kali ia merasa jatuh, ia selalu kembali pada satu kalimat: Allah adalah sebaik-baiknya perencana. Ia memilih untuk menyibukkan diri dengan bakti kepada orang tuanya. Ia menjadi anak yang paling sigap saat Bapaknya jatuh sakit, ia menjadi kakak yang paling perhatian saat adik-adiknya butuh biaya sekolah. Ia menabung semua cintanya untuk satu orang yang masih menjadi rahasia langit. Nayla membuktikan bahwa kesendiriannya bukan karena ia lemah, melainkan karena ia terlalu kuat untuk sekadar bermain-main dengan perasaan yang tidak berujung pada keridaan Tuhan.
Hingga suatu hari, sebuah ketukan pintu yang berbeda terdengar di rumah mereka. Bukan seorang pria yang datang dengan bunga atau rayuan di media sosial, melainkan seorang pria bersahaja bersama keluarganya yang datang dengan niat suci setelah mencari tahu tentang Nayla melalui jalur yang paling terhormat. Pria itu adalah seseorang yang juga selama ini menjaga dirinya, seseorang yang mencari sosok istri bukan dari paras yang sering dipamerkan, melainkan dari rekam jejak kesalehan yang tersembunyi. Saat proses itu berlangsung begitu cepat dan penuh kemudahan, Nayla menyadari satu hal: Allah tidak pernah tidur.
Di hari pernikahannya, saat ia duduk di pelaminan dengan tangan yang telah halal digenggam, air mata Nayla jatuh membasahi pipinya. Itu adalah air mata kemenangan. Ibunya memeluknya erat sambil membisikkan kata-kata yang membuat semua tamu undangan terharu, "Terima kasih sudah menjaga diri, Kak. Ibu bangga padamu." Nayla tersenyum dalam tangisnya, menatap suaminya yang tampak begitu teduh. Ia telah membuktikan bahwa menunggu dalam ketaatan mungkin akan terasa sangat menyedihkan dan penuh kesepian di awal, namun akhirnya adalah sebuah kebanggaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Ia tidak membawa laki-laki ke rumah untuk pacaran, tapi ia membawa seorang imam untuk membangun surga. Keyakinannya telah dijawab dengan cara yang paling indah, di waktu yang paling tepat, membungkam semua keraguan dengan sebuah kebahagiaan yang nyata.