Lampu neon di terminal bus ini berkedip-kedip, seolah-olah ikut merasakan napas yang berat dalam dadaku. Aku duduk di atas tas besar yang sudah mulai kusam warnanya, memandangi kerumunan orang yang berlalu-lalang dengan wajah penuh semangat. Di tangan kananku, sebuah tiket lusuh bertuliskan kota tujuanku menjadi benda paling berharga yang pernah kugenggam dalam empat tahun terakhir. Empat tahun. Kedengarannya seperti waktu yang singkat bagi mereka yang setiap hari bisa mencium tangan ibunya, namun bagiku, empat tahun adalah sebuah keabadian yang penuh dengan air mata tersembunyi di balik layar ponsel.
Banyak orang di kampung bertanya, atau mungkin berbisik di belakang punggung ibuku, "Kenapa si kakak baru pulang sekarang? Katanya kerja di kota besar, masa pulang setahun sekali saja tidak sanggup?" Pertanyaan-pertanyaan itu tajam, menusuk tepat di ulu hati setiap kali aku mendengarnya melalui telepon. Mereka hanya melihat foto-foto yang sesekali kuunggah—saat aku memakai baju rapi untuk bekerja atau saat aku makan di tempat yang terlihat bagus karena sedang diajak teman. Mereka melihat "permukaan" yang tenang, tanpa pernah tahu bahwa di bawahnya, aku sedang berjuang melawan arus yang nyaris menenggelamkanku setiap bulan.
Ekonomi itu seperti cuaca, kadang cerah menyilaukan, namun lebih sering mendung tanpa peringatan. Orang-orang melihatku seolah-olah ekonomiku baik-baik saja hanya karena aku masih bisa mengirimkan sedikit uang ke rumah setiap bulan. Namun, mereka tidak tahu bahwa untuk mengirim uang itu, aku seringkali harus melewatkan makan malam atau berjalan kaki berkilo-kilo meter demi menghemat ongkos angkutan. Dapur orang itu rahasia, dan dapurku seringkali hanya berisi tumpukan mi instan dan doa-doa yang tidak putus agar aku tidak jatuh sakit, karena sakit berarti biaya yang tidak sanggup kubayar.
Alasan kenapa aku baru bisa pulang setelah empat tahun bukan karena aku lupa jalan pulang. Aku ingat setiap lekuk jalan menuju rumah, aku ingat bau sambal terasi buatan Ibu, aku ingat suara kokok ayam di belakang rumah yang selalu membangunkan tidur siangku. Tapi, untuk pulang, rindu saja tidak pernah cukup. Kita butuh "pegangan" lebih. Pulang bukan sekadar sampai di depan pintu rumah, tapi pulang berarti harus membawa sedikit kebahagiaan untuk adik-adik, harus punya uang untuk sekadar membeli lauk pauk istimewa agar Ibu tidak perlu memasak sayur bening yang itu-itu saja, dan yang paling berat adalah harus punya uang simpanan untuk bisa kembali lagi ke perantauan.
Aku pernah berada di titik di mana tabunganku hampir cukup untuk membeli tiket, namun tiba-tiba ada tagihan listrik rumah yang menunggak, atau adikku butuh biaya sekolah tambahan. Tanpa pikir panjang, uang tiket itu kupindahkan ke rekening Ibu. Aku menangis malam itu di kamar kos yang sempit, menatap langit-langit yang bocor, sambil berbisik, "Sabar ya, Bu, Kakak belum bisa pulang sekarang." Kadang, jarak yang jauh ini terasa lebih dekat daripada angka di saldo tabunganku.
Pernah suatu hari, aku melihat tetangga kosku pulang setiap tahun. Aku iri, aku sangat iri sampai dadaku sesak. Tapi kemudian aku sadar, nasib dan beban punggung setiap orang itu berbeda. Ada yang merantau dengan bekal pendidikan tinggi, ada yang merantau hanya bermodalkan nekat dan ijazah sekolah menengah sepertiku. Aku harus memaklumi diriku sendiri sebelum aku meminta orang lain memaklumiku. Aku harus terus meyakinkan hati bahwa tidak pulang bukan berarti tidak sayang. Justru karena sayanglah, aku bertahan di sini, menelan semua hinaan dan rasa sepi, agar di rumah sana dapur tetap mengepul.
Tiga tahun, empat tahun, bahkan lebih bagi sebagian orang, adalah waktu yang dihabiskan untuk mengumpulkan sisa-sisa harapan. Kita butuh ongkos untuk pulang, dan kita butuh biaya untuk "hidup kembali" saat harus meninggalkan rumah lagi. Perjalanan pulang adalah perjalanan yang menguras kantong sekaligus menguras emosi. Aku tahu, setelah aku sampai di rumah nanti, pelukan Ibu akan melunturkan semua beban ini, tapi aku juga tahu bahwa setelah seminggu, aku harus kembali kuat untuk menghadapi kenyataan bahwa aku harus pergi lagi demi masa depan yang lebih baik.
Malam ini, bus yang kutunggu akhirnya datang. Deru mesinnya terdengar seperti melodi paling indah yang pernah kudengar. Aku menyeret tasku, membawa semua oleh-oleh yang sanggup kubeli dengan sisa uang terakhirku. Di dalam bus yang mulai berjalan, aku menyandarkan kepala ke kaca jendela, membiarkan air mata jatuh tanpa perlu kusembunyikan lagi. Kali ini, air matanya bukan karena lapar atau lelah, tapi karena sebentar lagi aku akan mencium aroma kepulangan yang sesungguhnya. Untuk siapa pun yang masih tertahan di perantauan, yang sedang menghitung receh demi receh untuk tiket pulang, ketahuilah bahwa kalian tidak sendirian. Kita adalah pejuang yang sedang menukar rindu dengan ketangguhan ekonomi keluarga. Bersabarlah, rezeki akan datang pada waktu yang paling tepat, dan jalan pulang itu akan selalu ada, menantimu dengan sabar.