Lantai kayu Pustaka Internasional berderit pelan saat Austen melangkah. Ia tidak langsung mengambil buku; ia menghirup udara dalam-dalam—bau khas kertas lembap dan debu yang entah kenapa selalu menenangkan. Jemarinya yang sedikit dingin karena AC perpustakaan menyisir punggung buku, sampai ia berhenti pada sebuah sampul kain biru yang sudah pudar.
"Lama tidak bertemu," bisiknya tipis. Austen tidak butuh mesin waktu; ia hanya butuh paragraf pertama untuk merasa tidak sendirian di dunia ini.
Di lantai atas, Gisela sedang berperang dengan napasnya sendiri. Baginya, menulis karakter Shū bukan cuma soal tinta, tapi soal menahan gemetar tangan. Ia melirik kuasnya yang terlalu basah, membuat satu titik hitam jatuh ke kertas putihnya—sebuah kesalahan kecil yang justru membuatnya tersenyum. "Hidup itu seperti kaligrafi," pikirnya, "kadang noda justru membuatnya terlihat lebih jujur."
Poet melihat momen itu dari kejauhan. Ia tidak sedang mencoba menjadi pujangga besar; ia hanya sedang patah hati sedikit karena melihat betapa cepatnya waktu berlalu di kalender. Ia mencatat di pinggir bukunya: Gisela dan noda tintanya, Austen dan syal yang tak pernah lurus, dunia yang terus berputar saat kita pura-pura sibuk membaca.
Di meja tengah, Hugo menggebrak meja—tidak keras, tapi cukup untuk membuat pustakawan berdehem. "Ezra, lihat! Garis batas di peta ini tidak masuk akal!" Hugo bicara dengan semangat yang meluap, wajahnya sedikit memerah. Ia bukan ingin menang, ia hanya ingin dunia ini punya urutan yang jelas.
Ezra hanya tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan meredam ketegangan. Ia membetulkan kacamatanya yang melorot dengan jari kelingking. "Hugo, tenanglah. Peta ini digambar oleh orang yang mungkin sedang rindu rumah. Jangan terlalu galak pada sejarah." Ezra kemudian menyodorkan sepotong cokelat kecil yang ia selundupkan di kantongnya—sebuah pelanggaran aturan perpustakaan yang paling manis.
Saat tengah hari, mereka berlima duduk melingkar di bawah kubah kaca. Sinar matahari menerpa wajah mereka yang sedikit kusam karena terlalu lama di dalam ruangan.
"Aku lapar," celetuk Austen tiba-tiba, merusak suasana puitis yang sempat tercipta.
Mereka tertawa bersama. Di atas meja, buku-buku mereka bertumpuk tidak rapi. Ada yang halamannya terlipat, ada yang sampulnya robek sedikit. Itulah buku yang sebenarnya—yang dibaca, dicintai, dan dibawa ke mana-mana, bukan hanya dipajang.
Poet merobek secarik kertas dari catatannya dan menulis dengan tulisan tangan yang agak berantakan:
"𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵-𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪, 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯."
Mereka tidak butuh perayaan megah. Cukup aroma buku, argumen yang tak ada ujungnya, dan kehadiran satu sama lain di tanggal 22 April yang tenang itu.