Hujan gerimis mulai turun membasahi jalanan di pinggiran London, membungkus villa tua itu dalam suasana yang dingin dan lembap. Tapi di dalam, suasana terasa sangat hangat. Malam itu, 21 April 2025, kami sedang merayakan ulang tahunku yang ke-23 tahun. Hari yang spesial, karena bertepatan dengan Hari Teh yang memang aku sukai sejak dulu.
Aku menatap Grey, pria yang tak sengaja kutemui di sebuah kafe kecil dua tahun lalu. Dia kelihatan tenang dengan setelan wolnya, sempat mencium keningku sekilas. Di sudut ruangan, ada Jasmine, sahabatku sejak kuliah. Tiba-tiba mereka berdua pamit ke lantai atas secara bersamaan. Jasmine beralasan ingin mengambil kado yang tertinggal di tasnya, sementara Grey bilang ingin sekalian memeriksa jendela kamar tamu yang katanya berderit karena angin.
Aku sama sekali tidak curiga. Sambil tersenyum, aku beranjak dari kursi dan melangkah menuju dapur. Aku berpapasan dengan Oolong yang masih sibuk di sana.
"Oolong, aku ke atas sebentar ya, mau ambil set cangkir porselen nenek,' pamitku padanya sebelum aku menaiki tangga."
Oolong hanya menoleh sedikit, memberikan anggukan kecil tanpa menghentikan gerakannya menyeduh teh, seolah dia sudah terbiasa dengan ketenangannya sendiri. Aku pun tersenyum, lalu melangkah menaiki tangga.
Suasana di lantai atas terasa lebih sunyi dibanding riuhnya suara perapian di bawah. Namun, langkahku mendadak terhenti tepat di depan kamar tamu yang pintunya sedikit terbuka. Aku mendengar bisikan yang sangat aku kenal—bisikan yang seharusnya tidak ada di sana.
Melalui celah sempit itu, duniaku rasanya runtuh seketika. Di sana, Grey dan Jasmine sedang berduaan. Bukan sekadar mencari barang, mereka sedang berpelukan dengan cara yang tidak mungkin dilakukan oleh dua orang yang hanya berteman.
"Sudah satu setengah tahun, Grey... kapan kamu mau jujur sama dia?" bisik Jasmine.
"Sabar, Jasmine. Biarkan malam ini lewat dulu. Aku cuma perlu memastikan dia nggak curiga sampai kontrak kerja samanya beres," jawab Grey dengan nada dingin yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku mundur pelan-pelan. Cangkir di tanganku jatuh, hancur berantakan di lantai. Sama seperti hatiku. Ternyata selama dua tahun hubungan kami, satu setengah tahun di antaranya cuma kebohongan besar yang melibatkan dua orang yang paling aku percaya.
Malam itu berakhir dengan ledakan emosi. Aku mengusir Grey dan Jasmine ke tengah badai hujan London yang membeku. Aku mengurung diri di balkon, membiarkan badanku menggigil. Bau melati—parfum Jasmine yang dulu aku suka—sekarang malah terasa serupa bisa di paru-paruku.
Tiba-tiba, sebuah selimut tebal mendarat di bahuku. Oolong datang tanpa suara membawa secangkir teh panas yang mengepulkan aroma kayu dan tanah yang menenangkan.
"Minum dulu. Jangan bikin hatimu beku gara-gara orang yang nggak pantas," kata Oolong pelan.
"Mereka mengkhianatiku satu setengah tahun, Oolong... Selama itu, aku ini dianggap apa?" aku menangis sejadi-jadinya.
Oolong tidak memberi jawaban motivasi yang klise. Dia cuma duduk di sampingku, mendengarkan tangisanku berjam-jam. Berbulan-bulan berlalu, Oolong-lah yang selalu ada. Dia yang memastikan aku bangun pagi, makan teratur, dan pelan-pelan mulai tersenyum lagi. Oolong itu seperti seduhan teh yang tulus—nggak terlalu manis, tapi menguatkan.
Satu tahun telah berlalu. Di tanggal 21 April 2026 ini, aku tidak lagi merayakan ulang tahun seperti tahun sebelumnya. Alih-alih pesta, aku memilih menyibukkan diri sebagai kurator di pameran teh internasional. Di sana, aku bertemu Earl lagi. Dia kolektor teh misterius yang sering kutemui di galeri, tapi kali ini dia datang dengan identitas aslinya sebagai putra mahkota dinasti teh terbesar.
"Tiya, aku sudah menunggumu lepas dari bayang-bayang masa lalu itu. Aku punya ribuan hektar kebun teh yang bisa kita kelola bareng," ucap Earl serius. Tawaran yang menjanjikan kemewahan luar biasa.
Suatu sore di kedai teh favoritku, Grey mendadak muncul lagi. Penampilannya berantakan, tidak lagi tampak seperti pria rapi yang dulu kukenal. Dia sampai berlutut di depan mejaku.
"Tiya, aku salah. Jasmine ninggalin aku setelah tahu aku bangkrut. Cuma kamu yang benar-benar cinta sama aku. Tolong kasih aku kesempatan lagi," ratapnya memelas.
Aku menatap Grey, tapi rasanya hambar. Aku melirik ke luar, ada mobil mewah Earl yang menunggu, lalu aku menoleh ke Oolong yang berdiri di balik kasir. Oolong cuma mengangguk pelan, seolah mendukung apa pun keputusanku.
Aku menyesap tehku untuk terakhir kalinya, lalu meletakkan cangkirnya dengan tenang.
"Grey," kataku lembut. "Teh yang sudah dingin bisa saja dipanaskan, tapi rasanya nggak akan pernah sama lagi. Beberapa hal memang lebih baik jadi kenangan saja supaya tidak merusak rasa aslinya. Aku sudah memaafkanmu, tapi aku tidak akan kembali."
Aku berdiri, jalan melewati Grey begitu saja. Aku juga tidak melangkah ke arah mobil Earl. Aku memilih jalan kaki menghampiri Oolong yang sudah menyiapkan jaket untukku.
Aku memutuskan untuk berdiri di atas kakiku sendiri. Aku menolak tawaran Earl karena aku ingin membangun kebun tehku sendiri. Kini aku mengerti, cinta bukanlah soal siapa yang paling kaya, tapi soal siapa yang tetap tinggal saat hidupmu terasa pahit. Dan untuk saat ini, aku cukup bahagia ditemani Oolong, sambil menikmati proses menyembuhkan diri sendiri.